10 February 2015

[Resensi FOUR] His Name is FOUR



Judul Buku                     : Four: A Divergent Collection
Penulis                           : Veronica Roth
Penerjemah                   : Esti Budihabsari
Tebal                             : 288 halaman
Penerbit/cetakan            : Mizan/Cetakan I, Desember 2014
ISBN                              : 978-979-433-859-9
Harga                            : Rp 59.000,00
Rating                            :

Sumber foto di sini, diedit oleh saya.
 
Bagi para penggemar trilogi Divergent, tokoh Four bisa jadi sangat memikat. Penampilan fisik yang kuat, dengan hanya empat ketakutan. Namun, begitu salah satu ketakutan itu menyerangnya—ayahnya—ia tak mampu mengendalikan diri. Barangkali ada yang pernah bertanya-tanya, mengapa Roth dalam Divergent menggunakan sudut pandang orang pertama Tris? Mengapa bukan Four? Dalam buku ini Roth menjawabnya.
Sampai bertemu Tris dalam Divergent, kehidupan Four terbagi menjadi empat tahap perkembangan besar, yang masing-masing dituangkan Roth dalam sebuah cerita (agak) pendek. The Transfer, The Initiate, The Son, The Traitor.


  1. Tes kecakapan Tobias diawasi oleh Tori (seperti Tris), dan hasilnya aneh (seperti Tris juga).
  2. Kekejaman Marcus terhadapnya membuat Tobias sadar bahwa ia tak bisa tetap di Abnegation.
    "Apabila kau memilih Abnegation, kau tak akan bisa lari darinya." (Four, hal. 34)
  3. Keresahan Tobias pada Hari Pemilihan, bahkan sampai pada saat ia maju ke depan lima baskom, ia masih diliputi keraguan.
    "Kau adalah orang yang harus hidup dengan pilihanmu." (Tori, hal. 44)
  4. Pertama kali bertemu Eric, mereka berdua langsung tidak cocok. Di sini, Tobias bertemu dengan Amar, instruktur inisiasinya, juga dengan Zeke, yang menjadi sahabatnya. Pertama kalinya juga Tobias mendaoat nama baru: Four.
    "'Hei, Tori,' teriak Amar ke meja belakangnya. 'Kau pernah dengar orang hanya punya empat ketakutan di Ruang Ketakutannya?'
    'Terakhir yang kudengar, rekornya adalah tujuh atau delapan. Kenapa?' balas Tori.
    'Aku punya peserta pindahan di sini yang hanya punya empat ketakutan.'" (hal. 66)

  1. Four mendapatkan tato pertamanya di punggung, berupa gambar artistik simbol api Dauntless, akibat menerima tantangan dari teman-temannya.
    Sumber foto di sini, diedit oleh saya.
  2. Pertama kali Four berada dalam simulasi, dan ia sadar. Ia hanya membutuhkan waktu lima menit di dalam sana.
    "Aku dulu sepertimu. Aku bisa mengubah simulasi. Kukira aku hanya satu-satunya." (Amar, hal. 106)
  3. Amar mati setelah peristiwa Jeanine Matthews mencurigai hasil tes simulasi Four dan Amar yang abnormal.
  4. Four lulus inisiasi sebagai peringkat pertama dari seluruh peserta.


  1. Four bertemu kembali dengan seseorang yang seolah bangkit dari kematian.
    "Di hari yang paling kaubenci
    Saat wanita itu mati
    Di tempat yang pertama kali kaulompati." (hal. 153)
  2. Four mulai mencurigai keterlibatan Erudite dalam urusan Dauntless, salah satunya adalah proyek pemilihan pemimpin baru Dauntless, di mana ia menjadi salah satu calonnya.
    "Aku tak akan jadi pion, tidak bagi mereka, bagi ibuku, dan ayahku. Aku tak mau menjadi milik siapa pun, kecuali diriku sendiri." (Four, hal. 173)
  3. Ingat tato di punggung Four? Ia meminta Tori melanjutkan tato pertamanya (simbol Dauntless) menjadi rangkaian simbol-simbol semua faksi. Berkat Tori juga, ia sadar bahwa ia seorang Divergent.
  4. Pada akhirnya, Four memilih pekerjaan sebagai instruktur inisiasi sekaligus berkutat dengan komputer di ruang kendali.
 

Kisah ini terjadi setelah Tris bergabung dan menjadi peserta inisiasi Dauntless, sehingga banyak bagian sebagaimana dapat dijumpai di Divergent.
  1. Dari hasil penyelidikannya, Four mengetahui bahwa Dauntless akan melakukan sebuah serangan.
    "Mereka akan menyerang Abnegation." (Four, hal. 216)
  2. Edward ditusuk matanya. Al bunuh diri. Four menemukan bahwa Tris adalah seorang Divergent juga, sehingga ia membantu Tris menghilangkan data simulasinya.
  3. Four bertemu kedua kali dengan seorang yang bangkit dari kematian.
  4. Four mengajak Tris masuk dalam Ruang Ketakutannya, karena ia merasa gadis itu pantas mendapatkan kepercayaannya.

Dengan gaya penulisan khas Roth, kisah Four ini terkemas dengan jujur dan lugas. Gaya penceritaan orang pertamanya—seperti biasa—informatif dan tidak bawel, tapi kurang unik. Saya merasa, gaya bercerita si “aku” Four mirip dengan “aku” Tris. Atau mungkin ini hanya karena yang pertama kali saya kenal lewat Divergent adalah “aku” sebagai Tris. Tapi, anehnya, menurut saya, kisah ini akan lebih cocok jika menggunakan “aku” Four, bukan Tris. Atau malah keduanya secara berganti-ganti seperti dalam Allegiant. Jika Tris yang menjadi “aku”, maka kisah ini malah menjadi cengeng dan hanya berputar-putar di masalah percintaan Tris-Four (seperti dalam Insurgent, yang bikin saya muak). Padahal, yang saya harapkan adalah fokus Roth tetap pada masalah faksi dan distopianya, bukan malah bergeser ke masalah romansa belaka.

Yang saya suka dari gaya bercerita Roth adalah gaya humornya yang cool dan sarkastis, seperti banyak saya jumpai di Allegiant.
“Akhir-akhir ini sepertinya banyak logam yang menempel ke tubuhmu. Kau mungkin sebaiknya periksa ke dokter.” (Four pada Eric, yang tindikannya makin banyak, hal. 174)
Saya menjumpai beberapa kesalahan penulisan maupun pemilihan kata, sehingga sedikit mengganggu kenikmatan membaca. Mungkin ini tak akan terjadi jika editor bekerja sedikit lebih teliti, hehehe. Terakhir, saya menghadiahi buku ini empat bintang karena saya puas akan penyingkapan-penyingkapan yang dieksekusi Roth, terhadap hal-hal yang masih belum tersingkap di trilogi Divergent, khususnya membayar rasa penasaran akan apa yang sebenarnya dipikirkan dan dialami Four sebelum bertemu dengan Tris.



0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets