9 May 2014

Teori Kosmos Tidak Bohong, dan Memang Tuhan Tidak Pernah Bermain Judi



“Teori kosmos adalah bohong. Tuhan tidak pernah bermain judi….”

Sebuah kalimat yang tertulis pada halaman viii dari novel "Maya Maia" karangan Devania Annesya tersebut menarik perhatian saya. Dua kalimat pendek itu terdengar indah dan benar di benak saya. Saya yakin bahwa Tuhan tidak pernah bermain judi. Pada awalnya saya menelan mentah-mentah kalimat tersebut. Juga kalimat berikut ini.

“Kalau benar alam semesta tercipta seperti dalam teori kosmos, bintang-bintang bertabrakan dan dunia beserta isinya tercipta dengan sendirinya, hidup tak akan jauh berbeda dari itu, kan? Kebetulan... demi kebetulan... membentuk kehidupan itu sendiri.”  (halaman 219)

Saya membatin, lagi dan lagi. Sebagian itu terdengar benar bagi saya, tapi sebagian lagi tidak. Lalu saya mendapati bahwa saya kurang setuju dengan pendapat Kak Devania, bahwa teori kosmos adalah bohong. Sejatinya, tidak mungkin para ilmuwan repot-repot menelaah apa yang terjadi 13,8 miliar tahun lalu, saat alam semesta diperkirakan mulai tercipta, apabila itu hanya demi kebohongan. Tidak. Para ilmuwan tidak mungkin berbohong. Mereka hanyalah segelintir manusia yang memahami arti kemanusiaannya. Manusia bukanlah manusia jika tidak mencoba mencari tahu dan mengenal alam semesta.
Bahkan, salah seorang ilmuwan yang religius, Sir Isaac Newton, tidak percaya bahwa alam semesta terjadi secara kebetulan. Keseragaman yang terjadi dalam sistem planet tidak mungkin terjadi secara kebetulan semata. Pasti ada kekuatan ilahi yang mengaturnya.

“For while comets move in very excentrick orbs in all manner of positions, blind fate could never make all the planets move one and the same way in orbs concentrick, some inconsiderable Irregularities excepted,which may have risen from the mutual actions of comets and planets up on one another, and which will be apt to increase, till this system wants a reformation.” [1]

Teori Big Bang, yang banyak diyakini sebagai teori pembentukan alam semesta pun tidak luput dari banyak kekurangan dan keluputan ilmiah. Hanya saja, para ilmuwan bukan sekadar mengarangnya dan berbual. Mereka menggunakan bukti-bukti untuk merumuskan teori tersebut. Berikut ini adalah beberapa buktinya.[2]
1. Pergeseran merah galaksi yang jauh menunjukkan bahwa alam semesta mungkin mengembang. Nah, jika kita melihat ke masa lalu, segalanya pasti telah dilumat sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah titik kecil, yang bertekanan tinggi dan berdensitas tinggi hingga meledak. Ingat, bahwa tekanan dan densitas berbanding terbalik dengan volume.
2. Latar belakang gelombang mikro[3]
Teori Big Bang menyatakan bahwa awal mula terbentuk, alam semesta sangat panas. Seiring ia mengembang, panas ini tertinggal di balik “glow” (cahaya, pijar) yang mengisi seluruh alam semesta, yang dapat dilihat sebagai gelombang mikro. Gelombang mikro ini bagian dari gelombang elektromagnetik. Latar belakang gelombang mikro telah diukur secara akurat (bukan bualan para ilmuwan, lho) dengan mengorbitkan detektor.
3. Campuran unsur
Teori Big Bang memprediksi seberapa banyak tiap unsur seharusnya telah tercipta pada awal alam semesta. Dan ini benar adanya, dengan melihat komposisi dari galaksi-galaksi yang jauh dan bintang “tua”.
    4. Melihat kembali ke masa lalu
   Cahaya membutuhkan waktu untuk melintasi alam semesta (waktu yang digunakan oleh cahaya dari matahari ke bumi pun sekitar 500 sekon atau 8,33 menit), sehingga jika kita melihat galaksi yang jauh, itu berarti juga kita sedang melihat ke masa lalu. Nah, seperti kita lihat bahwa galaksi dulu berbeda dengan sekarang, menunjukkan bahwa alam semesta telah berubah. Ini sesuai dengan teori Big Bang. 
   5. Bukti terbaru yang ditemukangelombang gravitasi yang beriak dalam ruang-waktu, yang diperkirakan sebagai “getaran pertama dari Big Bang”—telah dideteksi melalui teleskop BICEP2 di Kutub Selatan. Temuan ini, yang disebut “smoking gun for inflation”, juga berkaitan dengan teori kosmos lainnya, inflasi, yang menjelaskan “bang” dari teori “big bang”. Teori Inflasi ini diprakarsai oleh Andre Linde dan Paul Steinhardt.
Riak gelombang gravitasi yang terdeteksi.
Tentang teori Inflasi ini, Kent Irwin, ahli fisika dari Stanford, menjelaskannya dengan perumpamaan. Misalnya kita sedang membuat roti kismis. Ketika roti tersebut dipanggang dan mengembang, jarak antara kismis satu dengan lainnya pun ikut menjauh. Demikian juga, segala sesuatu di alam semesta sebelum inflasi ukurannya lebih kecil daripada sebuah elektron. Lalu ia mengembang selama inflasi, dengan kecepatan lebih tinggi daripada kecepatan cahaya.
  
     Untuk informasi lebih lanjut mengenai teori Inflasi:

Nah, bukti-bukti yang saya tulis di atas adalah hanya beberapa dari bukti-bukti yang pernah ditemukan oleh para ilmuwan di seluruh dunia. Bukti-bukti itu memang mungkin akan menjadi tidak relevan lagi suatu saat nanti, ketika teori baru ditemukan. Tapi, teori-teori kosmos yang ada sekarang bukan bohong, melainkan hasil prediksi berdasarkan bukti yang diteliti oleh ilmuwan.

Dan memang, mengenai terjadinya alam semesta, Tuhan pastilah tidak menyerahkannya begitu saja pada “kebetulan buta”. Dan untuk yang terakhir itu, saya setuju dengan pendapat Kak Devania dalam “Maya Maia”, bahwa “Tuhan tidak pernah bermain judi”. Sungguh kalimat sederhana yang indah, menurut saya.


[1] Isaac Newton, dalam Query #31 dari buku Opticks bagian ketiga (Newton merumuskan ide-idenya dalam bentuk pertanyaan, query, bukan hipotesis formal). Query #31 ini sangat terkenal, karena Newton merumuskan ide tentang daya tarik-menarik partikel dalam kimia.
[2] Saya menyarikan ini dari tulisan di web berikut: http://www.schoolsobservatory.org.uk/astro/cosmos/bb_evid . Tapi saya menambahkan beberapa bagian di sana-sini.
[3] Info lebih lanjut mengenai latar belakang gelombang kosmos: http://edition.cnn.com/2013/03/21/tech/innovation/universe-planck-map/

Reaksi:

3 comments:

  1. Jadi keberadaan kamu dan dunia ini adalah kebetulan??
    Jadi kedua orang tuamu ketika berhubungan dan karena kebetulan kosmik sehingga kamu ada dan lahir😄😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. Maaf, mungkin Anda perlu baca ulang tulisan saya hingga Anda benar-benar paham. Saya justru kontra terhadap ide tentang "kebetulan" itu. Terima kasih.

      Delete

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets