15 February 2017

[Resensi MADRE] Kehidupan yang Diuleni dari Cinta dan Persahabatan


blah, blah, blah

Madre mendatangi saya tepat pada Hari Natal tahun 2016 sebagai kado Natal untuk adik saya (selalu ada acara bagi-bagi kado tiap perayaan Natal di gereja, entah kadonya apa, dari mana atau siapa, untuk anak-anak dan remaja). Adik saya tidak terlalu suka baca buku (sejauh ini, tumpukan ratusan buku saya di rumah berhasil menarik minatnya sedikit). Sejak itu, Madre bersemayam di atas tumpukan buku di sebuah meja dalam rumah. Saya ke Yogyakarta, meninggalkannya selama seminggu. Beberapa hari setelah pulang ke rumah, saya memutuskan mengenal Madre lebih jauh daripada sekadar membuka sampulnya dan melongok sekilas ke daftar isi. Madre mengandung enam prosa dan tujuh puisi.

komposisi madre

Madre

Dan aku, si manusia tak punya mimpi yang akhirnya ingin memiliki mimpi. Mimpi yang kini punya nama: Tansen de Bakker. (hlm. 68)
Bagaimana jika silsilah hidupmu tiba-tiba berubah dan yang selama ini kauyakini ternyata tak lebih daripada skenario yang ditanamkan orang lain dalam kepalamu? Parahnya lagi, yang menceritakan padamu tentang semua itu adalah seorang asing?

Tansen Wuisan, yang selama ini meyakini bahwa dirinya berdarah campuran setengah Manado, seperempat India, dan seperempat Sunda, harus menerima kenyataan yang dituturkan Pak Hadi, bahwa sama sekali tidak ada darah Sunda dalam dirinya, tetapi darah Tionghoa. Bermula dari kematian seorang kakek bernama Tan Sin Gie, yang memberikan warisan misterius kepada Tansen, pemuda itu meninggalkan apa yang selama ini ia pikir sebagai kebebasan di Bali, dan menjemput apa pun itu terkait seseorang bernama Tan Sin Gie yang sama sekali tidak ia kenal, di Jakarta. Warisan itu membawanya ke sebuah alamat, yang dulunya adalah Tan de Bakker, sebuah toko roti yang pernah masyhur di zamannya. Di sana, ia bertemu dengan Pak Hadi, yang dulu bekerja di toko roti itu, dan yang akhirnya mempertemukannya pada Madre, adonan biang yang umurnya sudah 70 tahun.

Di situ, Tansen harus mencari jawaban atas pertanyaan paling besar yang pernah ia hadapi dalam hidup. Pergi menemui “kebebasan” di Bali seperti sedia kala, atau tinggal di kota yang tak pernah ingin ia tinggali, Jakarta, dan merawat Madre serta membantu bangkitnya kembali toko roti yang melegenda?
***
Sosok seperti Tansen barangkali dengan mudah saya temui di dunia nyata, yaitu diri saya sendiri. Seorang muda yang selama ini berada di zona nyaman, mengira telah menemukan apa yang ingin dia lakukan seumur hidup, tapi lalu sesuatu terjadi dan mengubah paradigma serta preferensinya. Tansen akhirnya menyadari bahwa kebebasan yang berlatarkan keegoisannya itu tidak lebih penting dibandingkan kebahagiaan bisa menemukan sebuah keluarga, keluarga Tan de Bakker. Tansen, yang lalu disadarkan bahwa dia bisa memimpin.
“Satu-satunya yang ingin saya teruskan adalah kebebasan saya.” – Tansen
“Kalau bebas sudah jadi keharusan, sebetulnya sudah bukan bebas lagi, ya?” – Mei
(hlm. 49)
Dee menabrakkan kebebasan, yang diwakili oleh kehidupan Tansen selama di Bali—liburan setiap hari, selancar, jadi guide, menulis kadang-kadang, jadi desainer lepas (atau dengan bahasa Pak Hadi “serabutan”), dengan rutinitas yang dijalani seperti seharusnya, yang diwakili oleh Mei. Sebagai pengusaha muda toko roti Fairy Bread, Mei iri akan kebebasan yang dimiliki Tansen, “tapi saya juga bersyukur punya sesuatu yang bisa saya teruskan” (hlm. 49), yang adalah toko roti.

Dee juga menabrakkan kekunoan, yang diwakili oleh Madre, Tan de Bakker, dan para pekerja Tan de Bakker yang masih hidup: Pak Hadi, Bu Cory, Bu Sum, Bu Dedeh, dan Pak Joko; dengan kekinian, yang diwakili oleh toko roti Fairy Bread milik Mei dan Tansen yang menjadi yang termuda di dapur Tan de Bakker. Dee seolah mengatakan bahwa kekunoan dan kekinian itu tak seharusnya dipisahkan; mereka bisa bersahabat dan bahkan bisa menciptakan suatu inovasi yang memikat. Asal, yang tua mau menyadari bahwa mereka butuh yang muda untuk bisa bertahan mengikuti perkembangan zaman, dan yang muda mau dengan rendah hati menghargai yang tua.
Tan bilang, Madre mesti dirawat orang muda yang semangatnya baru. (Pak Hadi, hlm. 7)
Hal ini kemudian mewujud pada Tansen de Bakker, paduan antara Madre, kaldu biang Pak Hadi, dan para pegawai legendaris; dengan alat-alat modern, para pegawai muda, dan teknik promosi elektronik.
Kalau dirawat dengan benar, banyak hal di dunia ini yang makin tua makin berharga. Makin hidup dan malah makin enak. (Pak Hadi, hlm. 20)
Dalam kisah ini, karakter favorit saya adalah Pak Hadi. Saya suka gayanya yang sok dingin tak peduli, tapi sebenarnya dia orang yang hangat. Saya suka bagaimana ia bicara ceplas-ceplos pada Tansen, juga bagaimana caranya mengajari Tansen bikin kue. Lucu lagi, caranya nyomblangin Tansen dan Mei dengan banana bread itu. Lewat Madre, Dee juga mengenalkan hal baru pada saya, yaitu adonan biang. Saya baru tahu ada yang semacam itu, lho. Selama ini saya tahunya Fermipan doang 😳.
Madre adalah adonan biang. Hasil perkawinan antara air, tepung, dan fungi bernama Saccharomyses exiguus. […] Sebagai adonan biang, sebagian Madre selalu dipakai untuk mengembangkan roti. Sementara sisa Madre beristirahat dalam lemari pendingin, kumpulan Saccharomyses exiguus dan Lactobacillus yang disumbangkannya tadilah yang meronggakan, mewangikan, dan merenyahkan semua roti Tan de Bakker. Secara rutin, kultur hidup yang ada di dalam Madre diberi ‘makan’ lagi dengan tepung dan air baru hingga ia terus berkembang biak menjadi ibu bagi roti-roti berikutnya. (hlm. 13-14)
Dan, lucu membayangkan Tansen, satu-satunya yang muda di dapur, harus memperhatikan lima pegawai tua itu saat bekerja.
Mengecek mereka satu-satu: cukup minumkah, capek berdirikah, ada obat yang perlu diminumkah, dan lain-lain. (hlm. 55)
Dalam Madre, Dee menguleni adonan kisah seorang pemuda yang akhirnya menemukan apa yang ia cari, dipadu dengan kebangkitan sebuah toko roti melegenda, dan memanggang serta menyajikannya hangat-hangat kepada para pembaca. Jadi, Madre sendiri bukanlah pusat cerita. Ia adalah biang yang digunakan Dee untuk mengisahkan kehidupan.

Rimba Amniotik

Prosa pendek ini semacam surat atau monolog yang diutarakan oleh Dee kepada Atisha, putri dan sahabatnya, yang sedang dikandungnya.
Sembilan bulan ini mereka bilang aku tengah mengandungmu. Aku ingin bilang, mereka salah. Kamulah yang mengandungku. (hlm. 75)

"Have You Ever?" dan "Guruji"

Kedua prosa ini memiliki inti yang agak serupa, yaitu tentang move on. Move on dengan cara, bukannya melupakan semuanya, tapi menemui sekali lagi untuk memahami yang telah dan sedang terjadi, lalu merelakan. Dalam Have You Ever?, Howard menemukan seorang sahabat di Byron Bay, Darma, dalam perjalanan gilanya mengikuti petunjuk dalam sepucuk surat dari seorang perempuan bernama Cahaya.
Hidup telah menunjukkan dengan caranya sendiri bahwa aku senantiasa dipandu. Tak perlu tahu ke mana ini semua berakhir. (hlm. 99)
Dalam Guruji, Ari sedang berproses untuk memahami dan menerima kenyataan bahwa Guruji atau Ari (mereka berdua punya nama panggilan yang sama) bukan lagi Ari yang dulu, dan bahwa setelah kepergiannya, ia harus tetap menjalani hidup.
… apakah kerelaan bisa lahir tanpa adanya perkawinan lebih dulu antara memahami dan menyepakati? (hlm. 117)

Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan

Apa itu cinta? Apa itu Tuhan? (hlm. 100)
Prosa pendek ini menceritakan tentang si “aku” yang disodori dua pertanyaan di atas oleh seorang wartawan saat si “aku” tengah makan siang. Si “aku” lalu mengajak si wartawan mencari jawaban atas dua pertanyaan itu dengan cara yang unik: mengupas bawang merah dari acar, mengupasnya pakai kuku sampai habis.
Inilah cinta. Inilah Tuhan. Tangan kita bau menyengat, mata kita perih seperti disengat, dan tetap kita tidak menggenggam apa-apa. Itulah cinta. Itulah Tuhan. Pengalaman, bukan penjelasan. Perjalanan, bukan tujuan. Pertanyaan, yang sungguh tidak berjodoh dengan segala jawaban. (hlm. 103)

Menunggu Layang-layang

Ini kisah tentang dua orang laki-laki dan perempuan yang bersahabat, Christian “Che” dan Starla. Mereka berkenalan saat masih sama-sama meniti karier, Che sebagai arsitek, dan Starla, desainer interior. Mereka berdua memiliki kepribadian yang sangat bertolak-belakang.

Kalau boleh saya ngawur, mungkin Che adalah seorang ISTJ: kaku, hidupnya serba-teratur dan rutin, tak ada yang boleh mengobrak-abriknya. Digambarkan, tiap pagi, ia akan bangun pukul 5.45, lalu menyetel daftar lagu “Bangun Pagi Ku Terus Mandi” berisi 17 lagu, lalu sarapan yang itu-itu saja, mandi bahkan dengan komposisi air yang tetap tiap hari: keran air dingin diputar 80 derajat dan keran air panas 45 derajat. Menurut saya, yang paling unik dari Che adalah kegemarannya menamai daftar lagu yang pas disetel untuk situasi-situasi tertentu. Yang cocok buat di pantai waktu malam berjudul, “Di Bawah Sinar Bulan Purnama”. Yang selalu diputar Che dalam perjalanannya menuju kantor, adalah daftar lagu berjudul “Naik, Naik, ke Puncak Gunung”.

Nah, kalau boleh saya ngawur lagi, mungkin Starla adalah seorang ENFP atau ESFP? Hidupnya penuh dengan berbagai jenis laki-laki yang dipacarinya gonta-ganti, sementara selama empat tahun lebih bersahabat dengan Starla, Che tidak pernah terlihat punya pacar. Baginya, pacaran itu coba-coba. Saat ini saling suka, jatuh cinta, nanti siapa tahu. Dan “nanti”-nya itu biasanya tak butuh waktu lama. Tiap kali putus, Che akan jadi tempat sampah bagi segala curhatan Starla. Selama ini, belum pernah teman dekat Che jadi korban Starla, hingga suatu saat…. Rako, teman dekat Che, terperangkap dalam pesona Starla, dan langsung menawarkan komitmen, yang sudah pasti, ditolak Starla. Che, yang sejak lama sudah tidak setuju dengan prinsip “coba-coba” Starla, kali ini benar-benar muak. Tapi, kok, ada yang kurang, ya, setelah itu? Ketika akhirnya layang-layang ingin tetap benangnya terpaut ke bumi, beranikah Che menyambutnya?
Aku dan kamu sama-sama manusia kesepian. Bedanya, aku mencari. Kamu menunggu. (Starla, hlm. 151)
Barangkali kisah ini cukup klise, sepasang sahabat yang saling jatuh cinta tapi takut akan menghancurkan persahabatan itu sendiri. Namun, dengan gaya bahasa khas Dee dan tokoh-tokohnya, kisah ini jadi menyenangkan dibaca. Saya suka dengan analogi-analogi yang saling dilontarkan oleh Che dan Starla.
Layang-layang itu bebas di langit. Tapi tetap ada benang yang mengikatnya di bumi. (Starla, hlm. 152)
***
Keenam prosa tersebut ditulis menggunakan sudut pandang orang pertama. Madre, sudut pandang orang pertama Tansen; Rimba Amniotik, Dee sendiri; Have You Ever, Howard; Guruji, Ari; Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan, si “aku”; dan Menunggu Layang-layang, Che. Di antara enam itu, favorit saya adalah Madre, Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan, dan Menunggu Layang-layang. 

Selain enam prosa tersebut, ada tujuh puisi, yaitu Perempuan dan Rahasia, Ingatan tentang Kalian, Wajah Telaga, Tanyaku pada Bambu, 33, Percakapan di Sebuah Jembatan, dan Barangkali Cinta. Di antara tujuh puisi itu, 33 adalah favorit saya. Secara keseluruhan, melalui 13 prosa dan puisi ini, Dee berusaha berbicara tentang cinta dan persahabatan, dan bahwa hidup itu adalah proses, kepada pembacanya.

rating saya

identitas buku

Judul: Madre
Penulis: Dee
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: I, Juni 2011
Tebal: xiv + 162 halaman
ISBN: 978-602-8811-49-1
Harga: Rp 49.000,00
Rating saya: 4/5
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets