27 July 2017

[Resensi KESIALAN ORANG LAJANG] Cerita-cerita Pendek Kafka yang Kurang Terkenal

 
Catatan: tulisan ini pernah tayang di laman Instagram saya. Dengan beberapa perubahan, saya tayangkan kembali di sini.

Perjumpaan Kembali dengan Bayang-bayang Kafkaesque

Beberapa tahun lalu Franz Kafka berdiri di ambang pintu kegemaran membacaku. Ia mengulurkan tangan dari balik remang-remang dan, aku, sedikit ragu, menyambut tangannya. Tangan kami bersentuhan dan memercikkan ke udara kisah seorang lelaki bernama Josef K. yang ditangkap dan diadili karena sesuatu hal yang tidak ia ketahui, yang juga tak kuketahui sampai purna sentuhan tangan kami dan percikan cahaya kehitaman itu reda. 

Kafka surut, meninggalkanku dalam kebingungan yang memagut kantuk. Yang kuketahui hanyalah bahwa Kafka menulis "Proses" sebagai alegori opresi ayahnya yang tirani. Ajaibnya, ia semacam meramalkan pemerintahan dan birokrasi yang tirani itu benar terjadi kemudian. Kini, aku hendak menagih penjelasan atas kebingungan yang ia tanamkan dalam telapak tanganku. Maka, kuraba-raba dalam kegelapan, dan aku menemukan percikan-percikan yang lebih tipis dari kisah-kisahnya yang lain, tapi tetap memiliki aroma Kafkaesque dan oedipus complex serupa dengan "Proses" (dan juga "Metamorfosis").
***
Ketidakberdayaan seseorang terhadap kekuasaan yang lebih tinggi, seperti dalam "Proses", kali ini terbaca lagi, antara lain dalam cerita pendek berjudul Poseidon. Kafka merekacipta kisah dewa laut Yunani itu, tapi dari sisi muramnya: bagaimana sebenarnya ia begitu lelah mengurusi segala macam urusan di laut, tapi tak berdaya untuk tak melakukannya, karena bagaimana pun, sedari awal ia telah ditunjuk menjadi dewa laut.

Tema serupa menggentayangi lebih gelap lagi dalam cerita berjudul Ketukan di Gerbang Puri. (Hanya) Sebuah ketukan yang mungkin dibuat oleh adik perempuan si tokoh utama di gerbang sebuah puri membuat si tokoh utama dijebloskan ke penjara.
Masih mampukah aku menanggung udara selain dari udara penjara? Itulah pertanyaan besarnya, atau lebih tepatnya itulah pertanyaannya—jika memang aku masih mungkin untuk bebas.” (hlm. 82)
Situasi yang lebih absurd dan sureal bisa dijumpai dalam cerpen Burung Bangkai. Entah bagaimana, seseorang diserang oleh burung bangkai dan tak bisa berbuat apa-apa. Pada akhirnya, burung bangkai itu menyatu dengan dirinya sendiri. Aku menduga-duga, apa mungkin adegan mengerikan itu sesungguhnya adalah mimpi sang narator, dan burung bangkai itu melambangkan ketakutannya, entah akan apa--mungkin akan sisi gelap dirinya sendiri? Entahlah. Dalam cerpen Mimpi (atau yang berjudul Sebuah Mimpi dalam buku "Seorang Dokter Desa"), sang narator mengalami nasib serupa. Ia tak bisa berkutik kala sang seniman mengangkat pensil ajaib dan mulai mengukir batu nisan dengan nama sang narator.
***

Tentang Kesendirian dan Pintu serta Jendela

Bagaimana kesialan orang lajang menurut Kafka? Salah satunya adalah "harus mengagumi anak-anak orang lain dan bahkan tak diizinkan untuk kemudian mengatakan: 'Aku sendiri tak punya anak'" (hlm. 35). Fenomena ini mungkin sekali terjadi, misalnya dalam acara kumpul keluarga saat lebaran. Bicara tentang lebaran, coba bayangkan bagaimana pedihnya mudik bagi seorang lajang yang sendirian. Ia hanya berdiri di depan pintu tanpa berani mengetuk.
"Aku telah tiba. Siapa yang akan menyambutku?" (hlm. 138, Mudik)
Sementara itu, seorang lelaki lajang mengalami kesialan dalam Penolakan. Seorang gadis yang ia ajak kencan hanya melintas tanpa menanggapi ajakannya, bahkan tanpa kata-kata penolakan--yang pada akhirnya hanya terjadi dalam fantasinya. Dalam Jendela Sepanjang Jalan, Kafka menuliskan bagaimana jendela bisa menyelamatkan seseorang yang sedang ditelan kesendirian. Mungkin juga, "melihat ke luar jendela" adalah alegori dari hasrat seseorang yang sedang kesepian untuk keluar dari situasinya itu, tapi tidak bisa, dan pada akhirnya ia hanya bisa melihat ke luar tanpa benar-benar keluar dari ruangan yang mengungkungnya. Dan entah bagaimana, bagi saya, gambar di sampul buku merepresentasikan fiksi mini ini.
Namun akan tiba waktunya saat bahkan "membuka jendela lebar-lebar dan menyimak musik yang masih bermain di kebun pun tak membantuku" (hlm. 20, Jalan Pulang).
[Ketika itu tiba, kau mungkin bisa pergi ke luar menemukan keramaian, atau melompat saja dari jendela.]
***

Ini Bukan Akhir

Buku "Kesialan Orang Lajang" ini diterjemahkan dari "Kafka: The Complete Stories". Aku mengapresiasi usaha Penerbit Basabasi untuk mengenalkan karya-karya pendek Kafka yang kurang terkenal di kalangan pembaca Indonesia ini (dibandingkan, misalnya dengan "Metamorfosis" dan "Proses"). Namun, sangat disayangkan, di beberapa bagian terjemahannya terasa kurang enak dinikmati dan dipahami. Aku juga mencemaskan seberapa besar sudut paralaks makna yang terjadi karena buku ini diterjemahkan dari bahasa Inggris, tidak langsung dari bahasa Jerman.
Terlepas dari itu, fiksi-fiksi pendek (sekali) karya Kafka di dalam buku ini telah mengisapku setelah bertahun-tahun tak berjumpa dengan karyanya. Ah iya, aku suka gambar kaver buku ini. Sosok lelaki yang berbaring sendirian dengan kepala terperam dalam rumah itu seperti menggambarkan kesendirian yang berusaha disangkal. Aku tidak tahu apakah dia tidur atau terjaga. Jika yang pertama, ia bisa saja menyangkal kesendirian lewat mimpi. Jika yang kedua, ia bisa saja menyangkal dengan berpura-pura memiliki jendela untuknya melihat ke luar.[ ]
*Kafkaesque: karakteristik dari karya-karya Kafka yang terasa riil tapi sureal, tidak masuk akal, absurd, opresif; seperti mimpi buruk.

Judul: Kesialan Orang Lajang
Penulis
: Franz Kafka
Penerjemah
: An Ismanto
Editor
: Tia Setiadi
Tebal
: 164 halaman
Penerbit
: Basabasi
Terbit
: Cetakan I, Juni 2017
ISBN
: 978-602-6651-06-8
Harga
: Rp 55.000,00
Reaksi:

1 comment:

  1. saranku mending kw gawe fanspage fb, tiap kali posting artikel share nek fanspage. Biar dunia tau dipromosikan di sosmed ada tulisanmu di blog

    ReplyDelete

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets