25 December 2017

[Resensi MOMIJI] Momiji yang Tidak Pernah Berubah Merah, Benarkah?

Judul: Momiji
Penulis: Orizuka
Editor: Selsa Chintya
Penerbit: Penerbit Inari
Cetakan: I, Mei 2017
Tebal: 210 halaman
ISBN: 978-602-60443-8-9
Harga: Rp 59.000,00

Mungkinkah ada orang yang tidak menyukai musim gugur? Mungkin kau akan menjawab, mungkin sekali. Lantas aku tanya lagi, kenapa kau yakin sekali? Dan jawabmu, karena tidak mungkin ada sesuatu yang disukai semua orang. Oke, aku menyerah sampai di situ. Meskipun itu musim gugur, yang kata orang-orang menyimpan keindahan; merupakan lambang kematian dan pengharapan akan adanya kehidupan kembali. Seperti tulis Ernest Hemingway dalam A Moveable Feast,
You expected to be sad in the fall. Part of you died each year when the leaves fell from the trees and their branches were bare against the wind and the cold wintery light. But you knew there would always be the spring, as you knew the river would flow again after it was frozen. When the cold rains kept on and killed the spring, it was as though a young person died for no reason.
Iya, kan? Atau jika kau belum sadar bahwa musim gugur itu menyimpan keindahan, Albert Camus pernah berkata,
Autumn is a second spring when every leaf is a flower.
Yhaa! Itu adalah saat ketika daun-daun jadi cokelat, keemasan, merah, oranye seperti bunga! Menakjubkan, bukan?

Mengapa kau terdengar sangat yakin akan keindahan musim gugur? Memangnya kau pernah mengalaminya? Mungkin begitu tanyamu kemudian, yang kujawab dengan gelengan. Belum, tapi dari melihat foto-foto, aku tahu. Namun, ada satu orang yang kutahu membenci musim gugur, Momiji.
Aku benci musim gugur.
(Momiji, hlm. 79)
Apa yang menyebabkannya jadi seperti itu? Dan siapa “Momiji” ini? tanyamu. Baiklah, begini ceritanya, ujarku.
***
Patriot Bela Negara (serius, itu nama orang, dan maaf, untuk bisa sampai ke Momiji sebaiknya kita mulai dulu dari Patriot) selalu menderita karena dirinya sama sekali tak cocok dengan nama yang harus diusungnya seumur hidup. Ya, kau tak akan jadi orang tua yang tega pada anaknya dengan memberi mereka nama yang memberatkan, kan? Ia sama sekali tidak kelihatan seperti "patriot". Ia pemuda ceking, sering jadi korban perundungan selama sekolah karena namanya dan karena dirinya sendiri. Ia kekurangan rasa percaya diri, dan oleh karenanya kalau bisa, ia menghindar jauh-jauh dari manusia. Ia punya nama panggilan "Pabel". (Siapa pun itu yang pertama menjulukinya begitu, ia berterima kasih. Karena ia tak harus lagi dipanggil dengan nama aslinya.) Pabel menyukai banyak hal berbau Jepang, hingga dia bekerja keras belajar bahasa Jepang lalu pergi ke Osaka untuk belajar bahasa Jepang selama sebulan.

Di Osaka dia tinggal di rumah keluarga Shiraishi. Sebenarnya Pabel punya misi tertentu (selain belajar): mendapatkan seorang “Yamato Nadeshiko”, gadis ideal Jepang pujaannya. Itu lho, gadis Jepang yang mungil, kulit putih bersih, rambut hitam-lurus-panjang dengan poni pagar, imut, cantik. Yah, begitulah. Terdengar stereotipikal, ya? Yah, terima saja, dunia ini memang penuh stereotip. Impiannya itu seakan kurang sejengkal lagi saat ia tahu keluarga Shiraishi ternyata punya anak gadis seumuran dia yang sedang ada di luar kota. Namanya Momiji. Setelah melihat fotonya di rumah, Pabel langsung antusias: dia akan benar-benar bertemu Yamato-nya.

Namun suatu hari terjadi insiden. Seorang gadis dengan rambut megar panjang dicat merah dan berpenampilan bak yankii (anak berandalan) tiba-tiba masuk ke rumah dan menuduh Pabel sebagai Pencuri Susu. Gadis itu langsung menggetok kepala Pabel dengan pedang bambu yang dibawanya. Pabel langsung tak sadarkan diri, dan begitu membuka mata, ia menyaksikan pertengkaran antara Nanami, ibu asuhnya, dengan gadis nyentrik itu. Gadis nyentrik yang telah tiga tahun minggat dari rumah dan tiba-tiba kembali, tapi Nanami sudah telanjur muak dengan kelakuan putrinya.

Ha, apa? Momiji si Yamato Nadeshiko berubah jadi Momiji si yankii? tanyamu. Iya, Momiji yang sekarang memang bukan lagi Momiji seperti dalam foto, jawabku.

Sejak saat itu, Pabel terlibat serius dengan Momiji, dengan hubungan tidak akur antara Nanami dan Momiji, serta harus memecahkan teka-teki kenapa Momiji menghilang dari rumah selama tiga tahun kemarin. Di samping itu, dengan caranya sendiri, Momiji berhasil membujuk Sanjo Kanon, teman satu akademi Pabel, si Yamato Nadeshiko yang sesungguhnya, untuk makan siang dengan Pabel. Apa yang harus dia lakukan? Bersama Momiji, Pabel dihadapkan pada hal-hal baru—yang cenderung nekat dan menantang.
***
Di musim gugur, semua momiji akan berubah merah. Semua, kecuali momiji yang ini. Momiji yang ini tidak pernah berubah merah. Tidak akan pernah.
(Momiji, hlm. 79-80)
Kau tahu, ini kali pertama aku membaca karya Orizuka. Beneran. Dan memang, pengalaman memang "bicara". Karya seorang penulis yang telah menulis 27 novel ini memang enak sekali dibaca. Garis besar ceritanya sederhana, tapi bagaimana penulis membawakannya jadi terasa bermakna. Ini tentang pencarian jati diri seorang Pabel, yang tanpa dinyana malah menemukan dirinya dengan bantuan Momiji yang sering bertingkah mengesalkan dan melelahkan. Malah, kemudian ia sadar bahwa mimpinya mendapatkan seorang Yamato Nadeshiko itu tidak penting. Kadang kita terjebak pada obsesi tertentu sehingga mengabaikan realita sehari-hari. Lalu begitu kita coba rehat sejenak dari obsesi kita dan melihat sekitar, kita sadar betapa bodohnya kita selama ini mengabaikan kejutan-kejutan yang diberikan oleh hidup!

Dengan sudut pandang orang pertama Pabel, gaya bahasa yang renyah dan kadang lucu, novel ini enak sekali dibaca. Meski tipis, porsi alurnya terasa pas. Proses kebersamaan Pabel dan Momiji juga tidak terasa terburu-buru ataupun kayak "dipaksa jadi dekat". Mungkin karakter Momiji, yang supel dan seenaknya sendiri, sangat membantu di sini.

Kedua karakter itu memang cocok. Pabel yang kurang percaya diri, pasif, cenderung submisif, takut mengambil risiko, dipadankan dengan Momiji yang berandalan, pemberani, kelebihan kepercayaan diri, meledak-ledak, penuh kejutan, dan suka seenaknya sendiri. Karakter Momiji ini membantu Pabel untuk berkembang. Namun ternyata Momiji tidak segarang kelihatannya. Ia jadi seperti itu untuk menutupi luka hatinya di masa lalu. Dan secara tidak langsung, Pabel membantu Momiji berani berdamai dengan masa lalunya. Bisa dibilang, mereka berdua saling menolong meski tanpa sadar. Manis sekali. Bersama Momiji, Pabel berani melakukan hal-hal yang sebelumnya bahkan tak pernah terpikir ia akan melakukan itu. Aku suka pasangan ini 💕.

Juga aku tak menyangka ada kejutan yang akan diberikan oleh penulis lewat tokoh Nanami, ibu Momiji. Itu keren sekaligus kocak. Eh, tapi agak tidak masuk akal. Kenapa? tanyamu. Hm, masa selama tinggal bersama sang ibu selama bertahun-tahun, Momiji dan Kazuki, adiknya, sama sekali tidak pernah memergoki “rahasia” sang ibu? Masa tidak pernah sama sekali terjadi ketidaksengajaan yang menyebabkan “rahasia” itu tersingkap?

Bicara tentang latar dan budaya Jepang, penulis sudah cukup membuatku merasa sedang berada di Jepang. Dan dalam hal budaya sosial Jepang yang diungkapkan Pabel, aku merasa seperti Pabel di situ.
Jepang adalah negara yang penduduknya sangat menghormati ruang pribadi orang lain. Meski dalam hati mungkin penasaran, mereka tidak akan melihat orang-orang yang berbeda dengan pandangan menilai, apalagi bertanya langsung kenapa mereka berbeda. Sebagai orang yang tidak nyaman berada di keramaian, aku menganggap budaya ini menenangkan meski kadang-kadang aku merasa orang Indonesia jauh lebih menakjubkan karena bisa lebih akrab dengan orang asing. (hlm. 113)
Aku sering ingin minggat dari Indonesia dan tinggal di negara lain yang karakter masyarakatnya seperti di Jepang itu. Yang lebih menghormati ruang pribadi orang lain, yang lebih tidak kepo dan tidak “usil”, tidak cepat membenci dan menghakimi orang yang “berbeda”. Namun di satu titik, aku juga menemukan kecintaan akan Indonesia, salah satu yang paling utama adalah karena keindahan alamnya. Nah, lho.
Ini contoh gambaran seorang Yamato Nadeshiko versi manga.
Orizuka, mungkin secara sadar ataupun tidak sadar, telah menunjukkan perlawanan atas stereotip gadis ideal Jepang, yang timbul sebagai akibat dari masyarakat yang patriarkal. Yah, aku percaya di mana pun pasti ada stereotip, bahkan di Jepang, yang kata Pabel masyarakatnya sangat menghormati ruang pribadi orang lain dan tidak gampang menghakimi. Lewat Momiji, Orizuka menunjukkan sosok yang berani tampil berbeda dan menjadi kebalikan dari elemen-elemen ideal dari gadis ideal. Dan dia, dengan caranya sendiri, sesungguhnya telah menjadi “ideal”. Karena yang ideal itu hanyalah ketidakidealan itu sendiri.

Ah, iya, novel Momiji edisi bertanda tangan ini kudapatkan sebagai hadiah kuis yang pernah diadakan oleh Kak Melani di akun Instagram-nya. Sudah berbulan-bulan lalu tapi baru sempat kubaca sekarang. Terima kasih sekali lagi, Kak Mel.
Novelnya bertanda tangan.
Novel ini ada bonusnya berupa gantungan berbentuk momiji. Cute, yah.
Demikianlah, kuberikan rating 3/5 bintang untuk novel ini. Meskipun aku menikmati membacanya, novel ini sekadar menghibur. Aku tidak dibikin gelisah olehnya. Namun untuk kategori novel young-adult, buku ini memang cukup bagus. Ah, iya, dan benarkah Momiji tidak pernah berubah merah? Kita lihat saja. Wkwkwk.[]

16 December 2017

[Resensi NYAWA] "Rasa sakit selalu membuatku tertawa."

Judul: Nyawa
Penulis: Vinca Callista
Editor: Starin Sani & Dila Maretihaqsari
Penerbit: Bentang Belia
Cetakan: I, Mei 2015
Tebal: iv + 296 halaman
ISBN: 978-602-1383-46-9
Harga: Rp 54.000,00

Ratingku: ★★★☆☆
“Aku suka kematian. Aku ingin kematian.
Aku ingin ketemu…”
(hlm. 208)
Kaatje. Pemeran utama—si Wanita Angka—teater Kubang mati di atas panggung kala sedang berpentas. Menit terakhir sebelum nyawanya direnggut lantai gedung yang mematahkan lehernya, ia tertawa-tawa di luar naskah, lalu seperti melayang sesaat dan terjungkal dari atas panggung. Ia mati di panggung yang membesarkan namanya. Kaatje mati, dari sepatu haknya bermunculan peniti-peniti; kakinya bertitik-titik merah: darah.
Di tribun penonton, seorang gadis tertawa-tawa menyaksikan itu, lalu menusuk-nusuk tangannya dengan peniti.
---
Penghuni kos Pondok Kumis hari itu pindah ke kos Rumah Mangga, kos yang masih dikelola oleh pemilik yang sama, lantaran kos yang lama hendak diratakan dengan tanah. Di kos itu ada delapan kamar, semuanya terisi. Ada Lian, gadis yang bergaya pakaian kuno—seperti yang sering dijadikan bahan gosip oleh Cangi dan Gandes, tidak mau makan di depan teman-temannya, dan suka melontarkan pertanyaan tak lazim secara tiba-tiba. Gadis itu kadang terbangun dengan bekas cekikan di lehernya. Di dalam kamarnya ada kardus-kardus yang ia sebut berisi persediaan.
“Ini buat persediaan aja. Aku butuh biar bisa deket terus sama orang yang aku sayang.” (Lian, hlm. 32)
Ada Rory, gadis populer yang cerdas, supel, tegas, kritis, tidak suka bergosip. Awalnya cuma Rory yang mau dekat-dekat dengan Lian. Ia punya hobi lari, mengobrol dengan orang-orang gila di pinggir jalan. Sejak magang di Padepokan Seni Pijar, jiwanya terikat oleh tempat itu. Di sana ia menekuni gambang bambu, juga teater. Dalam teater Kubang untuk memperingati 100 hari kepergian Kaatje, Rory mendapatkan peran utama. Peran yang sama dengan Kaatje. Mendekati pementasan, ia makin sering dihantui mimpi buruk tentang Kaatje. Jika teater itu diharapkan sememukau saat masih diperankan oleh Kaatje, apakah itu berarti Rory harus mati seperti Kaatje telah mati?

Cangi dan Gandes, dua orang teman dekat yang anehnya, tidak menampakkan interaksi persahabatan yang sehat. Cangi, si biang gosip yang suka asal jiplak itu sebenarnya naksir Aria. Sementara itu, Gandes, yang ingin jadi selebriti dan terobsesi pengin kurus, naksir Sandre. Sayang, Aria dan Sandre sama-sama naksir berat Rory. Aria, orang yang tertutup itu mungkin cuma membuka dirinya pada Rory. Pemilik kafe O’Koffie itu suka ngemilin biji kopi. Sementara itu, Sandre si blasteran ganteng, suka tebar pesona, playboy, dan suka mengambil keuntungan dari para cewek yang mengejar-ngejarnya.
“Yang penting bikin diri sendiri puas, dan biarkan orang lain penasaran.” (prinsip yang dipelajari Sandre dari Rory, hlm. 97)
Terakhir, ada Danu dan Mara, sepasang kekasih yang penuh drama. Mara cewek yang dominan, manja, rewel, cemburuan, dan sombong. Danu, yang submisif, sering tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti Mara. Mereka semua kuliah di Universitas Palagan, kecuali Aria, yang kuliah di sekolah bisnis.
---
Keanehan-keanehan mulai merayapi Rumah Mangga, dimulai dari sepasang kakek-nenek misterius yang dipergoki Lian (eh, sebenarnya Lianlah yang dipergoki mereka sedang memergoki mereka—nah, lho!) masuk ke kosan dan menghilang ke halaman belakang. Siapa mereka? Lalu ada suara-suara pikiran yang merisaukan, entah milik siapa, menyeruak sejak awal dalam bentuk cetakan miring.
“Ingin kuludahi saja mereka. Lalu, kutendang satu-satu wajahnya hingga belah.”
(hlm. 11)
Ada suara-suara lenguhan seperti orang kesakitan di malam hari, seperti pernah didengar oleh Aria dan Rory. Sementara itu, Cangi pernah mendengar suara yang terdengar seperti anak kecil sedang mengoceh di malam hari. Dan siapa sangka, ternyata di halaman belakang Rumah Mangga ada kuburan?
***
“Rasa sakit selalu membuatku tertawa.”
(hlm. 115)
Ini kali ketiga aku membaca novel psychothriller Vinca. Yang pertama, Seruak, tetap menjadi yang terbaik, menurutku. Mungkin karena itu pertama kalinya aku berkenalan dengan gaya thriller blio. Yang kedua, Kilah, sangat biasa saja. Yang ketiga, adalah novel ini. Dari tiga buku itu, aku mendapati beberapa formula khas Vinca dalam meracik psychothriller-nya.

Pertama, di tiga buku blio yang sudah saya baca tersebut, ini kali ketiga blio meletakkan tokoh sekelompok anak muda yang berada dalam satu lokasi, lalu terjadi hal-hal aneh di sekitar mereka.

Kedua, permainan sudut pandang penceritaan. Aku ingat betapa dulu terpukau oleh permainan sudut pandang Boni–Nina dalam Seruak (FYI, di Nyawa ini nama “Natanina” nongol lagi, lho! Saya jadi menduga-duga, mungkin nama itu adalah nama favorit Vinca.). Nah, dalam novel ini, Vinca mengajak kita menyusuri alur maju di masa kini, yang bermula dari kepindahan para penghuni Pondok Kumis ke Rumah Mangga, dengan sudut pandang orang ketiga. Lalu, lewat sudut pandang orang pertama seseorang melesatkan kita ke masa lalu, dimulai dari tragedi meninggalnya Kaatje, terus ke masa yang lebih lalu. Permainan sudut pandang penceritaan ini memberi ruang bagi eksplorasi tokoh dan penciptaan nuansa misterius akibat anonimitas narator. “Siapa yang berbicara?” yang pada akhirnya berguna bagi Vinca untuk menyamarkan pelaku sesungguhnya.

Ketiga, berkaitan erat dengan poin kedua, adanya tokoh(-tokoh) yang mencurigakan, juga adanya tokoh perempuan yang keren abis. Ya, yang terakhir itu maksudku adalah tokoh Rory. Awalnya aku menyukai tokoh ini, bagaimana tidak? Berbakat di bidang seni, kepribadiannya bagus, cantik… Namun aku menyukainya pertama kali sejak ia mengkritisi asosiasi warna dengan gender.
“Kamar cewek itu nggak mesti pink. Warna pink itu nggak harus diidentikkan sama cewek. […] ‘Cewek harus pakai warna pink’ dan ‘cowok nggak boleh pakai warna pink’ itu cuma hasil konstruksi sosial. Saya nggak mau ngebatasin kemampuan kita cuma gara-gara kita nggak sadar buat keluar dari kurungan konstruksi sosial.” (Rory, hlm. 16)
Tapi makin ke belakang, aku merasa bahwa Rory ini terlalu sempurna. Kenapa dia diciptakan seperti itu, ya? Satu-satunya kesialannya pun tak mencederai kebijaksanaannya sama sekali. Namun menurutku ada satu blunder yang dia buat (Atau penulis yang buat? Entah dengan sengaja atau tidak.). Aku menangkap kesan bahwa Rory tak mau jadi pacar siapa pun karena kadung cinta pada seorang lelaki yang dia tahu tak akan pernah membalas cintanya. Rory jadi terdengar seperti “membalas dendam akan keadaan itu” tapi di sisi lain tetap berlagak seperti orang paling bijaksana dan orang-orang di sekitarnya pun menganggapnya begitu. Karena tahu bahwa lelaki itu tak akan membalas cintanya dan sialnya ia tetap mencintai lelaki itu, maka ia memutuskan untuk mengambil keuntungan dari para lelaki lain yang dengan senang hati menyenangkannya, meski tahu bahwa ia tak akan menjadi pacar salah satu dari mereka. Aku kok nggak bisa bersimpati dengan prinsip Rory yang satu ini. (Itu lho, yang tadi dikutip Sandre untuk membenarkan perilaku playboy-nya.)

Keempat, Vinca selalu berusaha menyelipkan opininya mengenai isu-isu sosial lewat suara tokohnya. Kali ini adalah isu tentang gender yang blio suarakan lewat Rory. Dan kritik-kritik sosial ini tidak semembahana yang blio usung di novel Seruak.

Kelima, ada kelainan tertentu yang diderita oleh tokoh tertentu. Di sini ada alien hand syndrome, Munchausen syndrome by proxy, dan Fregoli Delusion. Yang terakhir itu diinterpretasikan menjadi gambar sampul novel ini. Isu ini yang paling menarik bagiku, selain karena aku memang tertarik dengan pembahasan seputar penyakit mental, juga karena Munchausen syndrome by proxy dan Fregoli Delusion baru pertama ini kudengar. Kalau alien hand syndrome (AHS) sudah pernah kuketahui. (Kayaknya ini juga diderita oleh Alfa di Supernova: Gelombang, ya nggak, sih? Oya, jadi inget film jadul Idle Hands yang dibintangi si ganteng Devon Sawa. Paling ganteng tetap pas main di film Casper. Eh, maaf, ngelantur.) Penderita sindrom ini tak sadar ketika tangannya “bergerak sendiri”. Menurut sumber yang kubaca, sindrom ini berkaitan dengan kerusakan saraf. Namun di dalam novel ini, Vinca mengesankan bahwa kondisi jiwa yang tak sehatlah yang menyebabkan si tokoh mengalami AHS. Nah, apakah mungkin AHS disebabkan oleh penyakit jiwa alih-alih kerusakan saraf? Seperti yang kutemukan di artikel Neurology Times, menurut rekaman data medis, AHS ini sepenuhnya adalah kelainan saraf, tanpa ada unsur penyakit jiwa. Namun sering terjadi salah diagnosis di antara pasien yang diduga menderita AHS, bahwa “tangan mereka bergerak sendiri” itu sebenarnya disebabkan oleh kelainan jiwa. Nah, mungkin saja, si tokoh dalam novel ini tak benar-benar menderita AHS, melainkan itu salah satu efek dari kelainan jiwanya. Hmm, entahlah.

Sementara itu, Munchausensyndrome by proxy (MSBP) kebanyakan diderita oleh para ibu. Seorang ibu yang menderita MSBP terobsesi agar anaknya terlihat sakit, padahal sebenarnya tidak sakit sama sekali. Ini adalah penyakit mental yang mungkin disebabkan oleh trauma masa kanak-kanak si penderita, yang kemungkinan juga menjadi korban dari orang tua penderita MSBP.

Terakhir, Fregoli delusion. Penderita penyakit mental ini mengira bahwa banyak orang di sekitar mereka sebenarnya adalah satu orang yang sama yang sedang menyamar. Penamaan kelainan ini diambil dari nama Leopoldo Fregoli, seorang aktor Italia yang terkenal dengan kemampuannya yang luar biasa untuk menirukan orang-orang di panggung (Langdon, Connaughton, Coltheart [2014]). Fregoli juga bisa dengan cepat berubah-ubah penampilan saat di atas panggung (Frontier Psychiatrist).

Keenam, petunjuk teka-teki yang diumpankan pada pembaca pada ruang dan waktu tertentu, salah satunya untuk mempertahankan nuansa misterius dan membuat pembaca penasaran. Tapi tidak terlalu berhasil padaku. Di pertengahan novel, aku sudah menebak (dengan benar) siapa keponakan Kaatje. Memang sepertinya Vinca membuat ini bisa tertebak dengan mudah (?).

Alur novel ini tidak semenegangkan alur Seruak, maka kupikir bukan pada unsur thriller-nyalah keunggulan novel ini, melainkan pada ide-ide brilian yang dikombinasikan oleh Vinca di dalamnya. Banyaknya tokoh dengan keistimewaan masing-masing tentu berperan dalam hal ini. Dalam novel ini kita bisa menonton teater, mendengar musik dari gambang bambu, melihat Aria mengembangkan bisnis, melihat Sandre mengedit video dokumenternya. Kita diingatkan juga tentang deret Fibonacci dan bagaimana briliannya ide Isvara untuk mengangkatnya dalam naskah teater. Kita juga menyaksikan berbagai kelainan mental.

Namun, ide-ide brilian yang banyak ini jugalah yang jadi titik lemah Nyawa. Aku merasa banyak yang ingin diceritakan oleh Vinca tapi jumlah halaman tak mampu mewadahinya. Jadinya banyak yang nanggung. Banyak hal yang sangat potensial untuk dieksplorasi lebih jauh (ini, sih, semata keegoisanku sebagai seorang pembaca yang ingin mengetahui lebih banyak 😅). Misalnya, masa lalu Lian dengan orang tuanya, terutama ibunya yang terobsesi bahwa anaknya sakit. Bagian ini cuma diceritakan sedikit, padahal ini sangat krusial bagi perkembangan karakter Lian dan bagi kita kalau ingin mengenal Lian dengan lebih dekat dan lebih benar. Ah, yang paling kusayangkan adalah sangat minimnya eksplorasi personal Kaatje, padahal tokoh ini sangat menarik. Yang kuketahui hanyalah bahwa ia pemain teater fenomenal, menjadi pujaan banyak lelaki, dan terobsesi menjadi seperti Leopoldo Fregoli. Apa yang menyebabkan ia jadi seperti itu?

Bagian akhirnya juga jadi terasa, “Loh, gitu doang?” Kukira Kaatje dibunuh keponakannya, ternyata…. Ini mungkin dimaksudkan jadi twist, tapi kok tidak terasa seperti twist, malah ia berlalu begitu saja tanpa sempat aku terpukau olehnya. Namun terlepas dari itu semua, aku mengapresiasi kegigihan Vinca untuk memperkaya khazanah novel psychothriller domestik yang tidak receh (seperti kubilang tadi, banyak ide brilian kita jumpai di novel ini; juga banyak pengetahuan baru yang kudapat). Blio juga memberi panggung bagi kesenian lokal, meski hanya sekilas. Juga bagaimana dengan tokoh sebanyak itu, blio bisa memberi ruang bagi masing-masing untuk bergerak dan membangun kekhasan tiap karakter hingga terus teringat oleh pembaca. Akhirnya, aku menantikan karya Vinca yang lebih menawan.
“Kalau kami sedih, kami tertawa.”
(hlm. 70)

11 December 2017

[Review] just ELEANOR (and PARK?)

Ratingku: ⭐⭐1/2
—Tell us, why has Romeo and Juliet survived four hundred years?
—Because people want to remember what it's like to be young? And in love?
(p. 45)

Omaha, 1986.

ELEANOR came back after being kicked outta house for a year by her step-dad. She is white, big, with red bushy hair and bizzare fashion style. But somehow she just wanted the world ignored her existence, but how it could be with that striking appearance? Her family was dreadful: an abusive-alcoholic step-dad, a submissive mom, and four little siblings, all were packed in a tiny house, so tiny that Eleanor had to share a small room with all her siblings.

PARK was Korean-American, a quiet boy who always sat alone in the school bus reading comics and listening to the music. He came from well-off family, and he had insecurity about his "stereotypical" beautiful Korean boy appearance that he inherited from her mom, if compared to his brother Josh's macho appearance. Thanks to his family background, his friends had never really bully him.

THE TWO met in the bus, and from the first time when Park gave the seat beside him to Eleanor, they gradually became closer and closer. But the world didn't want them to be together.
***
While I found many positive reviews on Goodreads (FYI, its rating is 4+), I just couldn't connect to this YA romance story. Why, why? Anything’s wrong with me?!

FIRST, the characters.

The two flawed characters are realistic indeed, but it's unforgivable that Rowell reduced Park to only became a "stupid Asian kid" whose face Eleanor always wanted to eat (seriously, eat? And yeah, she reminded me too often that he was Asian—why not Asian-American then?). Despite of the reality that Park shared the title together with Eleanor and this story was told from their point of views alternately, this story is about Eleanor. Yeah, Eleanor. Whereas Park, with his half-Asian identity, he must've experienced many insecurities living in Omaha (you know, since 19th century, even up to 21st century, thiscity had been racist) and went to very "white" school. But, while I saw Eleanor's character development, I know almost nothing about Park’s. Rowell also seems to exaggerating in making Eleanor's life so miserable so that the reader sympathizes with her.

SECOND, the racial issues, historical & cultural background.

Some reviews called this book "racist" (the author of this Tumblr post picked to pieces the “racism” found in this book) and written without sufficient research on historical background and Korean culture. (This review by Laura of Clear Eyes Full Shelves has said much about this issue.  And maybe you wanna know an opinion of Eunnie Lee, a Korean reader about this book.) There were racial tensions throughout the 19th-20th century and even up to now in Omaha. (FYI, Rowell grew up in this city.) But, this story told me that Park (the only one half--Korean in the neighborhood) and the two black girls, “friends" (I couldn't call it friendship though) of Eleanor lived such more peaceful life compared to Eleanor's (she was white, you remember?). And about Korean culture...well, one of the most visible mistakes is how could Park's mom gave him a Korean last name as his first name? “Park” is a family name after all. Together with “Kim” and “Lee”, they make the three most often used family names in South Korea.  Look, I didn’t do K-Pop boy bands fan-girling and watching reality shows and Korean drama series without learning anything “cultural”.

THIRD, the plot.

So boring. But the ending isn't cliche, thanks God, although I didn't satisfied since I hope that Rowell told more about what happened to Eleanor’s mom and siblings, rather than her mere anxiety.
*
Actually I love how Rowell created analogies which aren't cliches yet make sense, and humorous lines which sometimes made me chuckle. For example:
Thinking about going out with Park, in public, was kind of like thinking about taking your helmet off in space. (p. 173)
Because being assaulted with maxi pads is a great way to win friends and influence people. (p. 61)
And also the much-pop-culture references (music, comics, books). Although I didn't know much of them. Meanwhile, the romance, although some of the readers found it to be unbelievable because Park went from shouting to Eleanor at the first time she got into the bus to a kind of no-words-communication, to a deep romance in which they “can’t live without each other” too fast that it turned out to be silly rather than romantic. But I didn’t really think so. It wasn’t too fast for them to be in that kind of romantic relationship. I saw they gradually became closer and closer little by little. At first Park shouted to Eleanor, then give the seat beside him to her, then Eleanor peeked at the comics Park read in the bus every day. And then Park lent his comics to her, then they began to share music. All of those, at first, were done almost without they said something to each other. So yeah, Rowell made every effort so that they could be in that degree of relationship. But I didn’t deny that their relationship seemed to me more likely to be a friendship rather than romantic one.

I started reading this with high expectation but it didn't turn out well. So, yeah, 2.5 out of 5 rating for this novel. And I didn’t feel any heartbreak in reading this.
“Eleanor was right. She never looked nice. She looked like art, and art wasn't supposed to look nice, form it was supposed to make you feel something.”
book identity
Title: Eleanor & Park
Author: Rainbow Rowell
Number of pages: 328
Publishing date: October 2013 (International Edition)
Publisher: St. Martin’s Griffin
ISBN: 978-1-250-05399-2 (International Edition)
Price: IDR 145,000 (Books and Beyond)

7 December 2017

[Resensi JATUH 7 KALI BANGKIT 8 KALI] Kisah Guru yang Menuai Pelajaran dari Berbagai Keterbatasan

Catatan:
1. Resensi ini tayang juga di Goodreads.
2. Buku ini salah satu hadiah dari Penerbit Mizan saat blio berulang tahun ke-34 (berbulan-bulan yang lalu).

Bila kita bersyukur atas uang yang kita miliki, betapa pun sedikit jumlahnya, kita akan menerima uang lebih banyak lagi. Bila kita bersyukur atas suatu relasi, meski hubungan itu tidak sempurna, relasi itu bakal sempurna. Bila kita bersyukur atas pekerjaan kita saat ini, meski itu bukan pekerjaan idaman, kita akan memperoleh lebih banyak peluang mengejutkan dalam pekerjaan.
(hlm. 38)
Salah satu hal yang paling sering aku lupa lakukan adalah bersyukur. Selalu ingin yang lebih dan lebih lagi hingga lupa ada banyak hal yang seharusnya disyukuri.

Ada inspirasi yang bisa kita petik dari kehidupan sehari-hari, bahkan kehidupan kita sendiri kalau kita mau melihatnya lebih terperinci. Seperti yang disebut Stephen R. Covey, “everyday greatness” (hlm. xv). J. Sumardianta, guru SMA Kolese De Britto dan juga penulis, berawal dari acara pelatihan spiritual guru-guru yayasan sekolah, bertemu dengan Sutarto, guru senior SMA Kolese Kanisius Jakarta. Kita tidak tahu ke mana pertemuan-pertemuan dengan orang-orang akan membawa kita, tapi setiap pertemuan itu pasti berdampak di masa depan. Buku Jatuh 7 Kali Bangkit 8 Kali ini pun lahir dari pertemuan semacam itu, yang juga adalah hasil dari pengembangan pelatihan spiritual yang mereka ikuti itu. Sumardianta menemukan dan mencoba menyoroti “everyday greatness” sosok Sutarto yang telah tampak sejak kecil. Ingatan-ingatan dalam kepala Sutarto itu menemukan “pensieve”-nya saat dirangkai oleh Sumardianta dengan pembukaan berupa anekdot dan penutup mengandung hikmah pada setiap bab menjadi buku (yang katanya) inspiratif ini.
*
Tarto lahir di sebuah dusun di Karanganyar, Jawa Tengah, di keluarga yang serba-kekurangan. Hari-hari ia lewati sering dengan perut keroncongan. Maka, bubur gurih tanpa lauk dari beras hasil nempil tetangga pun layak disyukuri, apa lagi nasi selamatan dari tetangga (bahkan nasi, sayur lodeh, dan ikan asin adalah makan malam terbaik yang pernah Tarto santap di masa belia (hlm. 40-41). Sejak kecil mental dan fisiknya terlatih oleh aktivitas membantu orang tua: angon ternak, mengurus sawah, menyapu sekolah menggantikan ayahnya yang berhalangan (yang kerap membuatnya jadi bahan perundungan teman-teman sekolah), bersepeda puluhan kilometer. Lantas, kekurangan finansial membuatnya jadi kreatif. Berjualan daun tebu kering, jualan sabun buatan sendiri, jualan jasa bikin undangan, dan lain-lain, yang berperan mengembangkan jiwa kewirausahaan yang ditekuninya sampai kini.
Saudara itu orang-orang yang terhubung dengan kita karena pertalian darah. Saudara berdimensi fisik. Persaudaraan itu artinya orang-orang yang terhubung dengan kita karena pertalian hati. Persaudaraan berdimensi spiritual.
(hlm. 76)
Dari orang-orang di sekitarnya dan kebaikan-kebaikan kecil yang mereka berikan, Tarto memetik inspirasi. Inspirasi ini berperan dalam menguatkan mentalnya dan membantunya memilih jadi pribadi yang positif meski kerap dirundung ketidakadilan dan kesulitan hidup. Ia tak lantas jadi pribadi yang menyimpan dendam, malah ia jadi pribadi yang penuh semangat dan gigih menggapai cita-cita. Orang-orang itu, antara lain adalah Pak Rajimin, guru kelas IV-nya, yang membantunya berani mengeluarkan pendapat; Pak Suwito, guru kelas VI-nya, yang membangkitkan cita-citanya untuk sekolah tinggi; dan tentu saja—Ayah dan Simbok, yang meski kekurangan secara material, tetap ngotot menyekolahkan anaknya, dan dengan cara mereka sendiri membangun mental tahan banting Tarto.
*
Terbagi menjadi tiga bagian, “Mensyukuri Keuntungan Tak Adil”, “3M: Menemani, Melayani, dan Membela”, dan “Stay Hungry, Stay Foolish”, buku ini mencoba menarasikan kehidupan Sutarto. Bagian pertama menyoroti masa kecil hingga remaja yang penuh kesulitan, yang membentuk Tarto jadi orang dewasa yang hebat. Bagian kedua menyoroti kontribusi-kontribusi besar dari orang-orang di sekitar Tarto yang penting bagi keberhasilannya. Bagian ketiga, yang judulnya dikutip dari Steve Jobs, menyoroti bagaimana Tarto terus menjadi manusia pembelajar. Di bagian terakhir ini Sumardianta menganyam pendapat-pendapat orang-orang dekat Tarto tentang sosoknya; dari sudut pandang anaknya, muridnya, rekan kerjanya…. Ketika menyoroti hubungan Tarto dengan anak sulungnya, hal yang menyentuh adalah daftar “tiga belas permintaan anak yang mungkin tidak pernah mereka ucapkan” di halaman 204. Kupikir setiap orang tua harus memahami ini.
Buku ini terdiri dari bab-bab pendek yang masing-masing mengikuti pola konten: anekdot – kisah hidup Sutarto – hikmah. Namun ada beberapa bab yang hanya dihuni kisah inspiratif klise tanpa kisah hidup Tarto. Secara keseluruhan, aku malah menemukan lebih banyak inspirasi dari bagian anekdot ketimbang kisah hidup Tarto. Salah satu yang paling mengena ada di Bab 20, yaitu kata-kata Margaret, istri John Maxwell,
…tidak ada seorang pun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku selain diriku sendiri.
(hlm. 153)
Bisa dibilang, anekdotnyalah yang menghidupkan buku ini. Banyak anekdot yang menarik, (meski mungkin beberapa pembaca akan menganggap ini klise) seperti kisah tentang Don Quixote. Aku juga menemukan beberapa bab yang antara anekdot dan inti serta penutup bab tidak berkaitan, sehingga terkesan penulis memaksakan keberadaan anekdot demi mengikuti pola penulisan konten yang telah dijanjikan kepada pembaca, tak peduli anekdot itu tak terlalu—atau hanya “tidak”—berkaitan dengan inti cerita. Aku gagal menemukan kaitan antara “tidak perlunya berdebat sia-sia” dengan perjuangan Tarto membuat SIM dan celetukannya mengenai percaloan. Apakah mungkin ada kaitannya dengan Tarto yang kesal karena tidak kunjung lulus tes SIM, lalu berteriak pada petugas, tapi lantas ia tidak melanjutkan dengan mengajak debat petugas itu? Hm, kupikir tidak. Konteksnya tidak cocok.

Lantas, aku juga menemukan ketidaksesuaian antara subjudul dengan isi buku. Tak ada yang salah dengan “Jatuh 7 Kali Bangkit 8 Kali”, tapi aku kurang sreg dengan “Kisah Para Guru Pemberani yang Menuai Keuntungan dari Ketidakadilan”. Pertama, kisah hidup Sumardianta hanya menempati satu bab penuh lebih sedikit. Frasa “para guru” itu terasa kurang adil bagi Sumardianta. Lebih pas kalau “guru” saja, dan seluruh buku ini tentang Sutarto. Menjadi agak aneh ketika tiba-tiba Sumardianta menyempilkan sedikit kisah hidupnya di salah satu bab dan lalu memenuhi bab terakhir buku. Kedua, “menuai keuntungan” kupikir lebih pas jika diganti dengan semacam “menuai pelajaran”. Ketiga, kata “ketidakadilan” kupikir tidak pas digunakan sebagai subjudul buku yang ditulis oleh dua insan yang telah berdamai dengan masa lalunya, bahkan telah berhasil menjadikan masa lalu itu sebagai pembelajaran yang mengantarkan mereka pada kesuksesan. Masa orang-orang seperti Sutarto dan Sumardianta menganggap masa lalu yang penuh kesulitan itu sebagai ketidakadilan? Kesannya seperti para pengeluh yang manja. Lebih pas jika “ketidakadilan” itu diubah menjadi, misalnya, keterbatasan.

Kupikir Bab 29, Keunggulan Generasi Baby Boomers sangat potensial dikembangkan menjadi ruh utama buku ini. Tujuan penulisan buku ini apa, sih? Sekadar berbagi inspirasi dari kisah hidup guru yang berhasil mengubah kesulitan dan keterbatasan hidup jadi kesuksesan? Kalau hanya itu, buku ini kurang punya keistimewaan. Coba jika tujuannya dijadikan lebih spesifik: berbagi inspirasi tersebut untuk menunjukkan keunggulan generasi baby boomers ketimbang generasi Y dan generasi Z, sehingga generasi baby boomers berhenti memanjakan anak-anaknya (generasi Y dan Z) karena tak ingin mereka mengalami kesusahan hidup seperti yang dulu mereka alami, dan generasi Y dan Z itu sendiri pun terpacu semangatnya (hlm. 219-220).

Terlepas dari itu semua, buku ini telah menebarkan inspirasi dan mengingatkanku untuk selalu bersyukur, menjadikan tantangan dan keterbatasan sebagai batu pijakan menuju kesuksesan, dan selalu menghargai relasi-relasi.
Para pemenang memikirkan hal-hal yang sama. Mereka hanya melakukannya dengan cara yang berbeda.
(hlm. 163)
identitas buku

Judul: Jatuh 7 Kali Bangkit 8 Kali: Kisah Para Guru Pemberani yang Menuai Keuntungan dari Ketidakadilan
Penulis: G. Sutarto & J. Sumardianta
Editor: Ikhdah Henny & Nurjannah Intan
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: I, Maret 2017
Tebal: xxxvi + 248 halaman
ISBN: 978-602-291-373-3
Harga: Rp 54.000,00
Ratingku: ⭐⭐1/2

bloggerwidgets