6 June 2017

[Resensi] RADEN MANDASIA SI PENCURI DAGING SAPI



Mari, kuperkenalkan kau pada Sungu Lembu, seorang pemuda cerdas dari Banjaran Waru yang berambisi melayangkan nyawa Watugunung, penguasa Gilingwesi. Gilingwesi telah menguasai Banjaran Waru dan prajuritnya menangkap paman sekaligus guru Sungu Lembu, Banyak Wetan, dan membunuh Nyi Banyak. Sejak meninggalkan daerah asalnya, ia telah memasuki Kotaraja Gilingwesi, namun terlalu terpukau oleh betapa majunya kota itu hingga merasa ambisinya adalah suatu kekonyolan. Sampai di Kelapa, Sungu Lembu terdampar di Rumah Dadu Nyai Manggis. Di sanalah ia bertemu dengan Raden Mandasia, salah satu pangeran Gilingwesi. Raden yang pembangkang itu memilih untuk bepergian dan melakukan beberapa pembangkangan, seperti mencuri sapi, daripada terkungkung dalam Kotaraja. Setelah mencuri sapi, ia lalu memotong-motongnya dengan keahlian dan keindahan luar biasa sebelum memanggang dan memakannya dengan kegembiraan yang mengalahkan kepuasan sehabis orgasme.

Sungu Lembu, atas desakan Nyai Manggis, akhirnya menyetujui ikut dengan Raden Mandasia ke Gerbang Agung untuk mencegah pecahnya pertempuran antara Gilingwesi dengan Gerbang Agung. Maka, dimulailah petualangan mereka.

Sepanjang perjalanan panjang menuju Gerbang Agung, banyak yang Sungu Lembu dan Raden Mandasia alami; termasuk hal-hal yang tidak biasa. Kau tak akan bisa lupa bagaimana Sungu Lembu dan Raden Mandasia terlibat insiden gara-gara kegemaran Raden Mandasia mencuri sapi. Belum lagi pengalaman mereka berlayar yang mungkin akan membuatmu terbahak-bahak. Bagaimana peliknya urusan memancing ikan bagi Sungu Lembu, dan yang lebih pelik, masalah buang hajat dan mencuci pakaian di atas kapal.

Yang paling jago memancing adalah Wimba, nakhoda kami. Pernah ia menangkap ikan golok hanya dengan umpan sobekan karung beras. Itu keterlaluan anjingnya karena aku sudah mencoba berhari-hari dengan berbagai umpan binatang laut kecil dan tak menghasilkan apa-apa. [...] Jangankan jadi awal kapal yang andal, sebagai penumpang saja aku belum cakap. (hlm. 221)
😂 😂 😂
Urusan mengeluarkan isi perut makin runyam jika kau sedang sedap-sedapnya berhajat tiba-tiba di depan ombak meninggi atau angin berubah arah. Kalau hanya basah kena air laut sih tak mengapa. Tapi, tidak sekali aku terkotori oleh kotoranku sendiri. (hlm. 222)

Barangkali Raden Mandasia lebih sial ketimbang Sungu Lembu perihal itu.

Suatu hari, Raden Mandasia mencuci pakaiannya dengan cara menonda atau mengikat pakaian dengan tali kecil dan dicemplungkan ke laut. [...] Setelah sekitar sepenanakan nasi, Raden Mandasia mengangkat pakaiannya. Wajahnya memerah melihat ada benda kuning lembek menjijikkan yang menempel di sana. Ternyata, tak lama setelah ia menonda, Jongkeng malah berhajat besar di bagian kiri depan kapal tanpa tahu ada pakaian pangeran agung sedang ditonda di belakang. (hlm. 227)
😂 😂 😂

Lalu bagaimana mereka membujuk Loki Tua untuk mengantarkan ke Gerbang Agung, yang membuat mereka terlibat dengan seorang “babi yang makan babi” (meminjam kata-kata Sungu Lembu). Kau mungkin akan terbahak lagi, menertawakan kesialan Sungu Lembu terjebak dalam pesta a la suku berkuda dari tenggara, yang menarik sekaligus mengerikan dan menjijikkan (hlm. 380-382).

Sesampai mereka ke Gerbang Agung, kau pasti akan penasaran, apakah Putri Tabassum memang semengagumkan reputasinya yang menggema ke mana-mana itu? Namun, sebelumnya kau harus menyaksikan Sungu Lembu menyamar dengan mengenakan kulit seorang kasim.

Sedemikian jauh dan penuh tantangan perjalanan yang telah mereka tempuh, kau akan sibuk menduga, apakah Raden Mandasia berhasil mencegah terjadinya pertempuran?
***
Kisah ini merupakan catatan Sungu Lembu atas petualangan yang telah ia alami. Ia mulai menulis sejak Loki Tua menyarankannya demikian.

Menulislah, agar hidupmu tak seperti hewan ternak, sekadar makan dan tidur sebelum disembelih.
(Loki Tua, hlm. 306)

Sungu Lembu mengawali kisahnya dengan insiden pascapencurian sapi, setelah itu ia mundur untuk menceritakan bagaimana awal pertemuannya dengan Raden Mandasia. Yang berarti, mulai dari bagaimana ia bisa sampai di Rumah Dadu Nyai Manggis. Yang berarti lagi, mulai dari riwayat hidupnya semasa masih di Banjaran Waru. Sejak itu, ia menceritakan kisahnya dengan alur maju.

Meskipun kisah ini mencatut nama “Raden Mandasia” sebagai judulnya, setelah membacanya, kau akan jauh lebih mengenal Sungu Lembu ketimbang Raden Mandasia. Wajar, karena kisah ini dituturkan dari sudut pandang orang pertama Sungu Lembu. Sepanjang 450 halaman mengenal Sungu Lembu, kau akan tahu bahwa ia memiliki pandangan yang jeli. Isi pikiran Sungu Lembu, yang sering blak-blakan, akan membuatmu sering nyengir atau bahkan tertawa.

Pelajaran-pelajaran Sungu Lembu dengan Banyak Wetan, kadang berisi dialog yang menunjukkan sikap Sungu Lembu yang blak-blakan dan mengundang tawa. Namun kemudian, humor itu dengan lihai beralih jadi wejangan serius Banyak Wetan.

“[…] Setahuku beberapa raja malah tak menyandang keris sama sekali.”
“Raja jenis apa?”
“Raja yang mau lengser dan menjadi pandita.”
“Kautahu kenapa?”
“Bosan jadi raja mungkin.”
Banyak Wetan tertawa. Ia menonyorku lagi. Ia sering melakukannya justru ketika hatinya riang.
“Maksudku, kenapa ia tak membawa keris?”
“Biar duduknya enak mungkin.”
Banyak Wetan tertawa lebih keras lagi. “Ia kadang tak perlu senjata dalam pengertian sesungguhnya. Musuhnya sangat dekat, ada dalam dirinya, hawa nafsunya sendiri.”
“Paman, aku tidak paham dan aku ingin tidak mempan dibacok atau ditombak orang. Kebal itu hebat,” kataku saat itu.
(hlm. 84)

Mungkin kau akan suka dengan cara Banyak Wetan mendidik Sungu Lembu, misalnya saat ia dilatih memakan racun. Orang lain mungkin akan menganggapnya sebagai cara yang kejam, tapi tentu Banyak Wetan punya tujuan. Berkat didikan ini, Sungu Lembu mampu mengenali semua jenis racun yang ada di Pulau Padi dan dari negeri asing yang pernah masuk ke Banjaran Waru (hlm. 92). Sungu Lembu juga punya bakat istimewa: ingatan lidah. Sekali mencicipi masakan, ia bisa tahu semua rempah yang ada di dalamnya. Belakangan, bakatnya ini berguna untuk membawanya dan Raden Mandasia ke Gerbang Agung.

Sungu Lembu bisa begitu lucu, bahkan saat ia menceritakan hal yang menyedihkan. Maaf, aku tak bisa menahan tawa karena aku merasakan ada humor di balik tragedi meninggalkan Kasim U.

Air mataku menetes untuk Kasim U. Ia mati sebagai budak, tapi kulitnya akhirnya merdeka. (hlm. 361)

Ah, yang jelas, kau akan sungguh paham bahwa Sungu Lembu gemar mengumpat. Dan sungguh, ini menular kepadaku. Hati-hati, mungkin kau akan keceplosan, “Anjing!” jika ada orang yang mengganggumu saat sedang membaca kisah ini. Atau kau akan bergumam, “Ini sungguh anjing!” jika ada bagian kisah ini yang memesonamu. (Dan aku sendiri, sering terpesona, maka sering jugalah aku berkata “anjing”.)
***
Kisah petualangan ini tak hanya bisa membuatmu tertawa, tapi juga berpikir. Misalnya tentang pekerjaan para penyair yang sangat dihargai di Gilingwesi. Kerajaan itu menaruh perhatian besar terhadap sastra; mereka membayar para penyair dan menjamin hidupnya sekeluarga; penyair yang sedang bekerja tidak boleh diganggu—karena siapa tahu, “bisa-bisa syair yang hebat gagal tercipta” (hlm. 111). Sungu Lembu menertawakan ini dalam hati.

Sedemikian degilnya Watugunung sampai-sampai ia harus membayar orang untuk menyanjungnya dalam syair-syair. (hlm. 111)

Duh, seandainya di dunia nyata para penyair dihargai sebesar itu…

Dongeng kontemporer yang diracik dengan diksi yang megah namun tetap renyah dinikmati ini juga akan memperkaya (bahkan mengenalkanmu?) khazanah kosakata bahasa Indonesiamu. Banyak kata yang jarang digunakan (tapi ternyata ada) aku temukan di sini. Tak hanya itu, kisah hidup Sungu Lembu memberikan pelajaran bagiku. Lewat perkataan Bandempo terhadap Nyai Manggis:

Kalau memang mereka tak menghormatimu, aku akan memutuskan hubungan dengan mereka. Orang yang merasa lebih suci daripada yang lainnya bukanlah temanku. (Bandempo, hlm. 153)

Lewat kebijaksanaan Wulu Banyak saat membangun kapal:

Sebuah kapal memang tak boleh sempurna. Sesuatu yang sempurna tak punya hasrat lagi mencari. Sebuah perahu yang sempurna tak akan butuh lagi mencari ikan, muatan, teman, pelanggan, bahkan tanah baru. (Wulu Banyak, hlm. 208)

Lewat Sungu Lembu sendiri, yang akhirnya menyadari beberapa ketololan yang telah ia lakukan. Pertama, terkait Pong, teman sekamarnya di kapal yang terbunuh dan meninggalkan batu zamrud untuknya, padahal ia bisa dibilang hampir tidak mengenalnya.

Kami tak benar-benar saling kenal dan pada saat terakhir hidupnya ia memberikan batu permata miliknya. Betul, percakapan kami terbatas—atau malah tak ada percakapan sama sekali. Tapi, sekiranya mau, aku yakin kami pasti bisa menemukan cara bercakap-cakap. Aku cukup berbakat menguasai bahasa-bahasa baru. Aku hanya benar-benar tak pernah berusaha mengenal Pong lebih jauh. Anjing. Aku bahkan tak berusaha mengenalnya sama sekali, aku betul-betul tak peduli. (hlm. 255)

Kedua, terkait Raden Mandasia:

Semakin banyak aku mencoba mencari tahu tentang Raden Mandasia, semakin gelap saja rasanya. Mataku membasah. Raden Mandasia adalah hal paling dekat yang bisa kusebut sebagai teman dan kami ternyata saling mengenal sedikit saja. (hlm. 412)

Sungu Lembu seakan berkata padaku, “Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi,” sambil memintaku belajar dari pengalamannya: pergunakan waktu sebaik-baiknya untuk mengenal orang-orang terdekatmu. Ah, iya, kisah ini juga mengingatkanku untuk bertualang sesenang mungkin selama masih muda.

Novel ini sudah cetak ulang dengan kaver baru, tapi aku lebih suka kaver yang lama, dengan latar warna langit setelah matahari menggelincir dalam lelap tapi masih menyisakan larikan cahaya dan siluet tiga orang berlari di kejauhan. Tiga orang itu tak lain adalah Sungu Lembu, Raden Mandasia, dan Loki Tua. Kaver ini menggambarkan salah satu adegan saat mereka bertiga memilih berlari melintasi gurun sambil menggendong anjing.

Buku ini jadi salah satu favoritku, juga adalah salah satu buku terbaik yang kubaca tahun ini. Ah, sayang sekali, ada beberapa halaman yang susunannya terbalik. Tidak ada kekurangan lain kutemukan dalam novel ini, kecuali bahwa bagian akhirnya terasa terlalu ringkas diceritakan. Penulis seperti terburu-buru ingin segera menuntaskan kisah ini. Meski begitu, adalah pengalaman yang sangat menyenangkan membaca kisah ini. Anjing sekali!

rating saya



identitas buku
Judul: Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi
Penulis: Yusi Avianto Pareanom
Penerbit: Banana
Cetakan: I, Maret 2016
Tebal: 450 halaman
ISBN: 978-979-1079-52-5
Harga: Rp 69.000,00
Buku ini bisa dipesan di @stanbuku

2 June 2017

[Resensi PERCY JACKSON'S GREEK GODS] Surat untuk Percy Terkait Dewa-dewi Olympia



Dear, Percy.

Terima kasih, kau telah mengisahkan padaku—yang buta terhadap kisah dewa-dewi Yunani—kisah mereka secara cukup terstruktur. Kau mulai dari kisah munculnya Kaos (Chaos), dewa pertama, yang kemudian disusul terciptanya Ibu Bumi (Gaea), dan sekumpulan dewa purba lain. Kemudian, Gaea dan Ouranos (Langit) mendapatkan 12 anak yang disebut Titan, terdiri dari 6 perempuan dan 6 laki-laki. Titan  menyerupai manusia, tapi jauh lebih tinggi dan kuat. Kemudian mereka punya tiga anak kembar yang buruk rupa, yaitu Cyclops, dan tiga anak kembar lagi yang disebut Para Tangan Seratus. Karena Ouranos sangat menyebalkan dan membuat Gaea marah berkali-kali, akhirnya Gaea memutuskan bahwa Ouranos sebaiknya dibunuh saja. Dari semua anak Titan-nya, Kronos, si bungsulah yang mau melakukan pembunuhan itu. Kemudian Kronos jadi raja semesta menggantikan ayahnya.

Kronos menikah dengan Rhea, dan dari rahimnya lahirlah keenam dewa-dewi generasi pertama. Kronos yang ketakutan bahwa anaknya akan menghancurkan dirinya, memilih untuk menelan mereka. Yah, Percy, kau berhasil membuatku jijik di banyak kesempatan. Pada akhirnya Zeus, si bungsu, berhasil membunuh Kronos. Di sini aku merasa déjà vu. Sejak itu, kau fokus menceritakan satu dewa/dewi di tiap bab.

O ya, aku iseng bikin silsilah para dewa-dewi itu.
Maaf, ya, kalau ada yang kurang atau keliru.
Terima kasih, Percy, kau telah menceritakan betapa ruwet dan tak bermoralnya kehidupan para dewa-dewi Olympia dengan cara yang, seolah-olah, kau sedang menceritakan kisah penuh kekonyolan. Yah, memang, ada banyak kekonyolan. Aku tak bisa melupakan begitu saja saat “Hermes bertanya-tanya jika Argus memiliki mata di telapak tangannya, dan jika begitu, apakah matanya menghitam dari memegang tongkat gadanya seharian?” (Bab Hermes hlm. 33). Atau saat monster Typhoeus memunculkan diri dan Poseidon melihatnya, lalu berkata, “Eh, pria itu gede banget.” (Bab Zeus, hlm. 34). Juga dialog konyol antara Hera dan Zeus ini:

“Kau menyukaiku,” ucapnya. “Kau tahu itu.”
“Jelas-jelas tidak,” sahutnya. “Kau bodoh, mata keranjang, jahat, dan pembohong!”
“Tepat sekali!” seru Zeus. “Itu adalah kualitas terbaikku!”
(Bab Hera, hlm. 6)

“Bagaimana caraku untuk meyakinkanmu bahwa kau cuma membuang-buang waktu saja?”
“Memang tidak bisa. Aku mencintaimu.”
Hera mendengus. “Kau mencintai apa pun yang memakai gaun.”
(Bab Hera, hlm. 7)

Para dewa-dewi itu, tak bisakah mereka hidup dengan benar?

Di antara para dewa-dewi Olympia, kebaikan merupakan sebuah komoditi yang langka dan sangat berharga.
(Bab Hestia, hlm. 21)

Yah, setidaknya ada beberapa yang bisa hidup dengan lumayan benar, misalnya Hestia, yang dengan bijaksana memutuskan tidak ingin menikah (yang adalah gagasan tidak masuk akal bagi Zeus). Hestia kemudian menjadi penjaga api perapian Olympus selamanya. Di antara para dewa, barangkali yang paling bermoral adalah Hades (yah, meskipun ia juga melakukan beberapa perselingkuhan dari Persephone), dan Hephaestus (yah, meskipun ia membalas dendam pada Hera, ibunya). Sejak masa pemerintahan Hades, Dunia Bawah mengalami perubahan besar-besaran, dalam artian positif. Tidak seperti Zeus dan Poseidon, Hades adalah dewa yang tergolong sopan dalam mengejar perempuan yang dicintainya. Tapi gara-gara nasihat sesat dari Zeus, dia malah menculik Persephone. Namun setelah itu, ia memperlakukan Persephone dengan sangat baik.

Hephaestus mengalami masa kecil yang mengerikan. Ia dibuang Hera, ibunya, begitu lahir, lewat jendela istana Olympus, karena ia teramat buruk rupa dan cacat. (Yah, ini menunjukkan betapa Hera bisa menjadi sangat tak bermoral, bahkan setelah ia menjadi Dewi Pernikahan dan Keibuan. Insiden ini juga menunjukkan bahwa para dewa-dewi secara umum terlalu mengutamakan keindahan fisik seseorang.) Ia jatuh ke laut, lalu dibesarkan oleh Thetis, yang tidak bermasalah dengan keburuk-rupaannya. Hephaestus berbakat dalam membangun dan membuat karya dan menjadi pandai besi. Kemudian, ia memutuskan untuk pergi ke Olympia dan membalas dendam pada ibunya.

Kau telah membuangku karena aku jelek dan cacat, kau menjatuhkanku dari gunung. Aku ingin kau menderita karena itu, Ibuku Tersayang. Pikirkan tentang segala hal yang bisa kubuatkan untukmu kalau kau memperlakukanku dengan baik. Mungkin kau akan menyadari bahwa kau telah membuang sesuatu yang berharga. Kau tak semestinya menilai seorang dewa dari penampilannya saja.
(Hephaestus, Bab Hephaestus, hlm. 10)

Hephaestus juga termasuk sopan saat mengejar perempuan yang ia cintai, yaitu Athena, yang sebenarnya enggan berhubungan dengan pria mana pun. Aku tak akan lupa bagaimana ulah Hephaestus itu menimbulkan “insiden sapu tangan”.

Bicara tentang Athena…, yah, dia telah jadi salah satu favoritku sejak kelahirannya yang mengejutkan. Aku tak akan lupa bagaimana Dewi Perang dan Kebijaksanaan ini lahir dari kepala Zeus (dengan dibantu oleh Hephaestus yang membedah tengkorak Zeus).

Dia mulai menendang-nendang, memukul-mukul, dan menjerit-jerit di dalam tengkorak Zeus, membuat kegaduhan sebisa mungkin. (Mungkin dia memiliki banyak ruangan untuk bergerak-gerak di sana karena otak Zeus teramat kecil. Jangan bilang kepadanya aku mengatakan itu.)
(Bab Athena hlm. 3-4)

Athena punya kisah duka saat ia masih remaja. Tanpa sengaja, ia membunuh sahabat karibnya sendiri, Pallas. Oh, Zeus terlibat di kejadian tragis ini. (Nah, banyak sekali alasan untuk membenci Zeus, kan. Jangan salahkan aku, Percy.) Athena pernah terlibat adu menenun dengan Arachne, seorang manusia yang memiliki keahlian menenun luar biasa. Pada akhirnya karya mereka seri, tapi Athena mengutuk Arachne jadi laba-laba karena gadis itu memutuskan untuk bunuh diri. Athena, dengan segala kebijaksanaannya, juga pernah memenangkan perseteruan dengan Poseidon saat memperebutkan sebuah kota untuk mereka lindungi.

Dewi lain yang jadi favoritku adalah Artemis, saudari kembar Apollo. Mereka berdua sama-sama ahli memanah. Artemis memohon pada Zeus agar menjadi perawan selamanya. Ia tidak ingin menikah, apalagi punya anak, karena itu akan menghambat hasratnya untuk menjelajah dunia dan berburu hewan-hewan berbahaya. Artemis punya kekuasaan yang kontradiktif: ia Dewi Berburu sekaligus Dewi Hewan Liar. Maksudnya, ia akan melindungi para pemburu asal mereka tidak merusak alam, benar-benar memanfaatkan apa yang mereka bunuh, serta tidak membunuh secara berlebihan tanpa alasan yang jelas. Artemis punya sekelompok pengikut yang terdiri dari para perempuan yang juga tak ingin menikah. Bersama-sama mereka menjelajahi alam liar. Nahas, Artemis dua kali kehilangan sahabatnya—yang juga adalah pengikutnya, dan sejak saat itu memutuskan untuk tidak terlalu dekat dengan para pengikutnya.

Dari ceritamu, aku belajar bahwa para dewa-dewi ini memang gemar melakukan keajaiban, bahkan sejak kelahiran mereka. Yang paling menarik bagiku adalah kelakuan Hermes. Saat baru lahir, ia menghabiskan hari pertamanya di dunia dengan mencuri lima puluh sapi milik Apollo dan menciptakan alat musik lira dari tempurung kura-kura dan urat domba dan alat musik suling ganda yang dia beri nama syrinx. Sepertinya seru sekali menjadi dewa perjalanan dengan banyak sekali urusan seperti Hermes, termasuk saat membantu Zeus melaksanakan pekerjaan kotor.

Ah, Zeus…. Zeus memang punya hobi melakukan hal-hal tak bermoral, bahkan cenderung menjijikkan, terutama menyangkut perempuan. Kau telah merangkum dengan baik siapa itu Zeus dalam empat kalimat ini, Percy:

Pokoknya, Zeus menjadi marah dan memutuskan untuk memusnahkan seluruh ras manusia. (Bab Zeus, hlm. 13)

Apa pun itu, Zeus senang membiarkan kaum manusia kembali ke dunia, karena tanpa mereka, dia takkan memiliki gadis-gadis manusia cantik untuk dikejar.
Kau takkan bisa mengayunkan kucing di Yunani Kuno tanpa mengenai setidaknya satu mantan pacar Zeus. (Bab Zeus, hlm. 24)

Zeus sama sekali tak memiliki rasa malu dan tak pernah kehabisan kreativitas bila menyangkut merayu perempuan. (Bab Zeus, hlm. 25)

Dewa-dewi yang lain adalah Demeter—sang Dewi Tanaman, Persephone—putri Demeter yang manja, Hera—yang tak ragu membasmi para selingkuhan Zeus serta anak-anak mereka, Poseidon—sang Dewa Laut yang berakhir jadi tukang batu, Aphrodite—sang Dewi Cinta dan Kecantikan yang menimbulkan banyak bencana, Ares—sang Dewa Perang yang suka adegan berdarah-darah tapi pengecut, Apollo—sang Dewa Musik dan Puisi yang memutuskan melajang agar bisa berkencan dengan banyak perempuan, dan Dionysius—sang Dewa Anggur yang memiliki kekuasaan melebihi perkiraan orang.
***
Aku suka gaya berceritamu, Percy. Kau sepertinya berbakat dalam hal ini. Kau menceritakannya dengan bahasa yang mengalir dan seru. Kau juga suka bercanda, ya? Kau sering bikin aku tertawa. Salah satu trik humormu adalah kau seenaknya membawa hal-hal kekinian ke konteks zaman para dewa-dewi Yunani.

Apollo tak suka itu. Dia baru mempunyai lima lagu urutan pertama di tangga lagu Billboard. Dia tak ingin ada sosok satyr bodoh menghias sampul majalah Rolling Stone alih-alih dirinya.
(Bab Apollo, hlm. 28)

Meski guyonanmu sering garing juga, sih, seperti yang kau katakan di bab “Pengantar” hlm. 2:

Aku hanya berharap aku tidak akan memancing amarah mereka sampai-sampai mereka menghanguskanku sebelum aku—
AAAAAHHHHHHHHHH!
Hanya bercanda. Masih di sini.

Kadang juga candaanmu terlalu ofensif, jadi aku tak bisa tertawa. Maaf ya, Percy. Tapi kau kadang bisa menjadi begitu bijaksana dan itu membuatku terkesan.

Kalau kau diserang seorang bajingan, itu tak pernah karena kesalahanmu. Beritahukan kepada orang lain. (Bab Artemis hlm. 34)

Memang, dia adalah Dewi Cinta, tapi sebetulnya antara cinta dan kebencian tak jauh berbeda. Keduanya lepas kendali dengan mudahnya, dan salah satu berpaling menghadap lawannya. (Bab Artemis, hlm. 44)

Ah, iya, kadang kau agak tidak logis, Percy. Misalnya, dalam kisah penghukuman Hera terhadap Semele, salah satu selingkuhan Zeus. Dengan lihai Hera membuat Zeus menampakkan diri dalam wujud asli dewa sehingga membuat Semele musnah. Nah, tapi di Bab Zeus hlm. 29, kau ceritakan bahwa Zeus mewujudkan diri jadi dewa di depan Europa (sama seperti Semele, Europa juga seorang manusia). Tapi kok, Europa tidak mati?

Kemudian juga dalam kisah Demeter.

Dan setelah sepuluh hari berada di jalanan, pakaian kotornya mulai menumbuhkan berbagai kapang dan jamur yang bahkan tak dikenali oleh Dewi Tanaman sendiri.(Bab Persephone, hlm. 25)

Percy, tidakkah kau tahu bahwa jamur itu bukan tanaman?

O ya, ceritamu juga jadi lebih menyenangkan untuk kubaca berkat ilustrasi karya John Rocco. Sayangnya, di versi digital bukumu ini beberapa kali terjadi kasus satu kalimat terulang dua kali di halaman yang sama. Kau memang mengulang kalimat itu, atau ini bagian dari kesalahan proses digitalisasi? Sepertinya yang kedua, sih. Itu cukup mengganggu, btw.

Ini pertama kali aku membaca karya Rick Riordan, dan yah, kau telah memberiku kesan yang cukup baik, Percy. Mungkin aku akan baca juga bukumu yang lain.

Salam hangat,


Frida
(Manusia biasa)

identitas buku

Penulis: Rick Riordan
Ilustrasi oleh: John Rocco
Penerjemah: Nuraini Mastura
Penerbit: Mizan Fantasi (Noura Books)
ISBN: 978-602-0989-88-4
(versi digital, baca via iJak)
Rating saya:


30 May 2017

[Resensi A UNTUK AMANDA] Bahagia Itu Tanggung Jawab Diri Sendiri




Tadinya kukira orang mengalami depresi ketika ada sesuatu yang salah dalam hidup mereka. Tapi bagiku, depresi datang ketika segala hal dalam hidupku berjalan dengan sempurna. (hlm. 10)
Mari, kukenalkan kau pada Amanda, seorang gadis SMA yang hidupnya nyaris sempurna. Ia bersekolah dengan mendapat keringanan finansial di SMA swasta terbaik dan kedua termahal di kotanya. Berkat apa lagi, kalau bukan riwayat akademisnya yang cemerlang? Amanda anak yang cerdas dan paling sering menjawab ketika guru melontarkan pertanyaan di kelas. Begitu masuk ke Klub Komputer, yang beranggotakan anak-anak jenius, Amanda merasa kepintarannya bukan apa-apa. Yah, tetap saja, waktu rapor akhir semester dibagikan, semua nilainya A.

Kau mungkin bertanya-tanya, bagaimana kehidupan sosial seorang Amanda yang amat rajin belajar dan perfeksionis dalam mengerjakan tugas? Bisa dibilang, nol. Yah, bukan nol besar, cukuplah nol kecil. Lagi pula, itu bukan masalah baginya karena ada Tommy, sahabatnya sejak bayi. Yah, kau akan tahu bahwa Amanda menganggap Tommy lebih dari sekadar sahabat, sebenarnya. Entah sejak kapan, dia jatuh cinta padanya. Apakah Tommy juga begitu, atau menganggapnya tak lebih dari sahabat?

Bisa dibilang, idola Amanda adalah ayahnya, yang telah meninggal bertahun-tahun sebelumnya. Ayahnya adalah seorang guru sains, dan pada suatu momen yang melibatkan fenomena pelangi ganda, Amanda terpukau pada alam semesta dan segera saja bertekad akan menekuni ilmu alam. Ya, Amanda lima belas tahun dan begitu yakin akan dirinya.

Lalu ia mulai meragukan dirinya sendiri. Bagaimana jika selama ini para guru memberinya nilai bagus hanya karena reputasinya sebagai anak pintar? Bagaimana jika ternyata ia hanya beruntung dan tidak sepintar kelihatannya? Amanda merasa seperti penipu dan cemas kalau-kalau rahasia ini terbongkar.

Amanda mulai mengalami depresi. Dan segalanya hancur dalam sekejap. Hubungannya dengan Tommy, aplikasinya ke Institut George Gamow, dan prestasi akademisnya—ini pertama kalinya Amanda mendapat nilai B untuk satu mata pelajaran. Dan begitulah, ia merasa menjadi produk evolusi yang gagal.

Kau mungkin akan geregetan dan ingin sekali mendamprat Amanda, “Amanda, kau tak bisa mendapatkan nilai A untuk segalanya!”
***
Aku jatuh cinta pada tokoh Amanda. Membaca tuturannya sepanjang novel ini membuatku merasa sangat dekat dengannya. Oh, aku senang sekali kalau bisa bertemu seorang sahabat seperti dia. Salah satunya karena aku berpikir bahwa kami berdua mirip dalam hal “bisa terlalu rasional kadang-kadang”. Eh, atau sering, malah 😅😥.

Aku kagum pada anak SMA dengan pemikiran kritis semacam itu. Wow. Aku yakin, kami pasti akan cocok mengobrol tentang ini-itu, terutama tentang Tuhan dan gender. Ah, bahkan ia sudah memutuskan jadi agnostik di umur empat belas! Akhir-akhir ini aku menjadi agak agnostik, dan oleh karenanya, aku mampu memahami pemikiran Amanda, dan mengapa ia berpikir seperti itu.

Mungkin inilah alasannya orang membutuhkan Tuhan—untuk mengetahui ada alasan yang lebih penting atas keberadaan mereka daripada sekadar produk evolusi. (hlm. 86)

Pemikiran-pemikiran kritis Amanda menarik untuk dibaca; tentang alam semesta, Tuhan, dan gender. Namun, di sisi lain, kelihatan sekali jiwanya masih belum dewasa dan bergejolak. Emosinya gampang meledak jika mendapati hal yang menurutnya tidak benar, tapi orang-orang lain seperti tidak menyadari bahwa itu tidak benar. (Btw, aku sering berada di posisi seperti ini.) Misalnya, saat ia terlibat obrolan tentang gender dengan Kenny dan Tommy.

“Sejak kapan warna punya jenis kelamin? Pink untuk anak perempuan, biru untuk anak laki-laki? Pasti kalian masih beranggapan boneka cuma untuk anak perempuan dan mobil-mobilan untuk anak laki-laki.”
Mereka berpandangan lalu mengangkat bahu, seakan berkata, “Yeah, bukannya memang begitu?”
Aku menjadi berang. “Itu mainan anak-anak! Kau tidak memainkannya dengan alat kelamin. Jadi apa pengaruhnya?”

(hlm. 28-29)

Yah, aku berharap semakin banyak orang sadar bahwa segregasi berdasarkan gender itu sangat tidak keren.

Tentang alam semesta, Amanda mengagumi betapa raksasa dan misteriusnya jagat raya, juga betapa sesungguhnya Bumi hanyalah setitik mungil di alam semesta.

[...] bagaimana setiap tahun ada kontes gadis tercantik di Bumi dan mereka memberinya gelar Miss Universe. Kenapa orang menamainya Nona Jagat Raya kalau dia cuma gadis tercantik di sebuah titik mungil? (hlm. 22)

Amanda juga punya selera humor yang, uhm, tidak biasa. Ia bisa menjadi lucu padahal sedang serius.
Wajah Tommy berubah cerah. "Aku tahu," katanya sambil meremas tanganku. “Aku tahu aku selalu bisa mengandalkanmu, Amanda sayang. Orang lain mungkin datang dan pergi, tapi kau dan aku akan bersama terus selamanya, kan?”
Dan orang-orang bilang para pria fobia terhadap komitmen.

(hlm. 114)
Isi pikirannya kadang membuatku tertawa, bahkan saat ia mengklaim bahwa pikirannya itu membuatnya sedih.
Gambaran Ibu mendorong troli di supermarket dan mengisinya dengan terong—ide yang mungkin didapatnya setelah membaca buku self-help dengan judul macam Apa yang Harus Dilakukan Saat Orang Tercinta Menderita Penyakit Mental—entah bagaimana membuatku sedih. (hlm. 172)
Lebih lucu lagi ketika ia berpura-pura punya teman tak terlihat di depan Martha (hlm. 245), tapi temannya itu tidak paham dan akhirnya malah Tommy yang tertawa diam-diam.

Aku juga jatuh cinta pada gaya bercerita sudut pandang orang pertama Amanda. Penulis menuliskannya seperti gaya bahasa novel remaja terjemahan. Narasinya terkesan cerdas, dingin, tapi kadang humoris. Sangat "Amanda". Dalam hal ini, penulis berhasil menghidupkan sungguh karakter Amanda. Saat ia mulai menderita depresi, penulis juga menunjukkan tanda-tanda dan isi pikiran Amanda yang depresi itu dengan meyakinkan dan mulus sehingga aku sendiri nyaris ikut-ikutan gila membacanya.
***
Aku langsung jatuh cinta pada tokoh ayah Amanda begitu ia keluar dari kamarnya sambil membawa sebuah mok besar bertuliskan: Kau tidak boleh menyebut “kopi” dan “instan” di kalimat yang sama. (hlm. 23) Aku setuju sekali dengan tulisan itu. Bagaimana kalau aku mencetak tulisan itu di sebuah mok juga? Kopi instan itu bukan kopi. Kopi, ya kopi. Tanpa gula, apalagi susu dan berbagai aksesori entah apa itu.

Aku juga menyukai bagaimana ayah Amanda mengobrol dengan putrinya tanpa menganggap bahwa putrinya itu “masih anak kecil”, misalnya seperti saat ia menjelaskan tentang fenomena pelangi ganda.
Dan karena setiap orang melihat cahaya dibelokkan oleh tetesan hujan yang berbeda, tidak ada dua orang yang melihat pelangi yang sama. Kau melihat pelangi yang berbeda dengan kulihat, meskipun kita berdiri bersebelahan. (Ayah Amanda, hlm. 143)
***
Dan, bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta pada karakter Helena, melihat betapa nyata (dan tidak berlebihan) perhatiannya terhadap Amanda? Ia memegangkan rambut Amanda saat ia muntah-muntah di kamar mandi, mengunjunginya saat ia terpuruk di kamar, dan terutama, menerima dengan mudah kenyataan bahwa Amanda menderita depresi. Tidak seperti Tommy, yang malah menyangkal habis-habisan dan menyalahkan Amanda.
“Aku tahu, hanya saja... dia sering bilang ini hanya ada di kepalaku saja. Aku hanya takut reaksinya, um, tidak baik.”
“Itu penyakit mental,” tukas Helena. “Jelas adanya di kepalamu. Di mana lagi dia berharap bisa menemukannya? Di paru-paru?”

(hlm. 195)
 ðŸ˜‚ 😂

Barangkali penulis memunculkan tokoh Helena untuk menunjukkan bahwa ia tak setuju dengan pandangan bahwa “cewek cantik yang suka dandan dan suka warna pink adalah Barbie berotak kosong”. Bahkan seorang guru pun bisa saja memiliki pandangan seperti itu, dan pada akhirnya meremehkan sang murid terkait. Ini terlihat saat Bu Gita meremehkan pendapat Helena tentang Big Bang, tapi menerima begitu saja saat Amanda yang berpendapat. Bu Gita meremehkan Helena karena imejnya tidak tampak seperti murid pintar. Lewat narasi Amanda, penulis mengkritik pandangan semacam ini.
Aku tidak bisa tidak berpikir seksisme masih sangat nyata, dan stereotip bahwa sains bukanlah keahlian wanita masih berlaku. Mungkin tidak begitu terlihat kalau kau cewek berkacamata dengan celana jins dan kaus Google. Tapi cewek seperti Helena, yang suka mengenakan makeup dan warna pink, masih sering diperlakukan seperti Barbie berotak kosong. (hlm. 193-194)
Yang jadi masalah, kalau kau mengabaikan perkataan seorang murid hanya karena dia kelihatan seperti gadis yang tidak pernah  menunjukkan minat terhadap hal lain selain eyeliner dan nilainya hanya rata-rata, lalu menerima begitu saja perkataan murid lain hanya karena dia dikenal sebagai juara kelas. (hlm. 71-72)
Helena juga sadar tentang ketidaksetaraan gender. Ini terlihat dari dialognya dengan Amanda tentang fenomena  “saat persetujuan si cewek dianggap tidak ada artinya” (hlm. 81). Helena sendiri juga punya masalah terkait imejnya itu, seperti ia tidak dipercaya oleh teman sekelompoknya untuk mengerjakan barang satu bagian lantaran ia dianggap sebagai "Barbie berotak kosong". Namun, ia tidak menampakkan bahwa ia punya masalah. Ia terlihat ceria dan menganggap itu seolah bukan masalah.
***
Jujur, aku tidak terlalu menyukai karakter Tommy. Awalnya aku menyukainya, sih, tapi begitu melihat reaksinya terhadap depresi yang diderita Amanda, aku jadi agak ilfil. Tapi aku mengampuninya karena ia mau mengubah sikap. Tommy adalah jenis cowok yang punya kehidupan sosial bagus sekaligus “nilai rata-rata A minus” (hlm. 14).
Tommy tahu lebih banyak tentang Bagaimana Menjadi Keren ketimbang aku, dan ini salah satu aturan yang terus kulupakan: oke-oke saja kalau kau ingin mendapat Prestasi yang Memuaskan, tapi kau tidak boleh menunjukkan kau berupaya keras untuk itu. Itu tidak keren. (hlm. 13-14)
Ia sosok yang menyayangi keluarga dan enggan terpisah dari mereka. Kalau kata Amanda, Tommy mengidap misoneism alias takut terhadap perubahan. Yah, tapi Tommy tetaplah Tommy, kan. Oya, Tommy juga punya selera humor yang garing, misalnya ini:
Kami praktikum kimia tadi pagi. Seseorang membuat campuran yang salah di tabung reaksi, lalu... BAM! Lab-nya meledak. Sekarang kita terbebas dari praktikum kimia sepanjang semester. (hlm. 13)
😦 (Lalu ada suara latar, “Mbeeeeekkk!”)
***
Aku menyukai dialog-dialog antara Amanda dan Dokter Eli. Ah, sejatinya aku menyukai juga obrolan Amanda dengan Tommy, obrolan Amanda dengan Helena, obrolan Amanda dengan ayahnya di masa lalu, dan obrolan Amanda dengan ibunya. Novel ini punya kekuatan dalam dialog-dialognya, yang bisa jadi berisi sekaligus humoris dalam satu waktu.

Dialog-dialog dengan Dokter Eli mengingatkanku untuk berpikir positif kembali. Aku manusia biasa; sepositif apa pun aku, kadang pikiran negatif bermunculan di benakku.
Misalnya orang-orang memandang rendah padamu, kenapa kau harus membiarkan apa yang mereka pikirkan memengaruhi kebahagiaanmu? (Dokter Eli, hlm. 155)
Kau tidak tahu apa yang dipikirkan orang lain. Yang memengaruhi mood-mu adalah apa yang kau pikir sedang dipikirkan orang tentangmu. (Dokter Eli, hlm. 156)
Aku suka bagaimana perlakuan Dokter Eli terhadap Amanda. Menghadapi anak cerdas seperti dia, pasti kau akan lebih suka untuk memancingnya daripada menyuapinya, kan?
“Mari berpikir secara ilmiah. Bila kau memiliki sebuah hipotesis, apa yang harus kaulakukan untuk mengetahui kebenarannya?”
“Mengetesnya?”
“Tepat sekali! Jadi lain kali kau menolak ajakan temanmu untuk berkumpul, dengan prediksi itu tidak akan memberimu kesenangan apa pun, bagaimana kalau kau mengetesnya dengan pergi dan membuktikannya sendiri? Siapa tahu, kau bisa saja mendapat kesenangan lebih dari yang diperkirakan.”

(hlm. 162)
Dan, yang paling menohokku adalah kata-kata Dokter Eli yang ini:
Amanda, menjadi feminis berarti kau bebas membuat pilihanmu sendiri. Titik. Menjadi feminis bukan berarti kau tidak boleh bersedih telah kehilangan orang yang berharga untukmu, apalagi kalau kalian sudah bersama dalam waktu lama.
(Dokter Eli, hlm. 214)
***
Setelah membaca ulang novel ini, aku memutuskan untuk mendudukannya ke rak favorit di akun Goodreads-ku. Apa yang dialami Amanda dalam novel ini mengingatkanku untuk mengatasi pikiran-pikiran negatifku sendiri. Novel ini mengingatkanku bahwa akulah yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku. Bahkan alam semesta pun tidak.

Novel ini sangat bagus dibaca oleh para remaja dan dewasa-muda yang sedang mencari jati diri. Apalagi yang juga menderita depresi. Wejangan-wejangan Dokter Eli pasti berguna juga untuk para pembaca. Mungkin sebagian pembaca akan merasa bahwa pemikiran Amanda tentang Tuhan itu radikal dan berbahaya bagi keimanan remaja yang jadi pembacanya. Wajar, sih, karena kebanyakan orang Indonesia bisa dibilang agamis, dan oleh karenanya agak sulit menerima pemikiran yang berbeda. Namun, aku mengagumi bahwa Amanda, anak semuda itu, bisa berpikir sendiri dan tak lelah bertanya serta mencari.
Alam semesta tidak punya kewajiban untuk membuatku merasa berharga; aku yang harus melakukannya untuk diriku sendiri. (hlm. 262)
rating saya:


identitas buku

Judul: A untuk Amanda
Penulis: Annisa Ihsani
Editor: Yuniar Budiarti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2016
Tebal: 264 halaman
ISBN: 978-605-03-2631-3
Harga: Rp 60.000,00

bloggerwidgets