11 December 2017

[Review] just ELEANOR (and PARK?)

Ratingku: ⭐⭐1/2
—Tell us, why has Romeo and Juliet survived four hundred years?
—Because people want to remember what it's like to be young? And in love?
(p. 45)

Omaha, 1986.

ELEANOR came back after being kicked outta house for a year by her step-dad. She is white, big, with red bushy hair and bizzare fashion style. But somehow she just wanted the world ignored her existence, but how it could be with that striking appearance? Her family was dreadful: an abusive-alcoholic step-dad, a submissive mom, and four little siblings, all were packed in a tiny house, so tiny that Eleanor had to share a small room with all her siblings.

PARK was Korean-American, a quiet boy who always sat alone in the school bus reading comics and listening to the music. He came from well-off family, and he had insecurity about his "stereotypical" beautiful Korean boy appearance that he inherited from her mom, if compared to his brother Josh's macho appearance. Thanks to his family background, his friends had never really bully him.

THE TWO met in the bus, and from the first time when Park gave the seat beside him to Eleanor, they gradually became closer and closer. But the world didn't want them to be together.
***
While I found many positive reviews on Goodreads (FYI, its rating is 4+), I just couldn't connect to this YA romance story. Why, why? Anything’s wrong with me?!

FIRST, the characters.

The two flawed characters are realistic indeed, but it's unforgivable that Rowell reduced Park to only became a "stupid Asian kid" whose face Eleanor always wanted to eat (seriously, eat? And yeah, she reminded me too often that he was Asian—why not Asian-American then?). Despite of the reality that Park shared the title together with Eleanor and this story was told from their point of views alternately, this story is about Eleanor. Yeah, Eleanor. Whereas Park, with his half-Asian identity, he must've experienced many insecurities living in Omaha (you know, since 19th century, even up to 21st century, thiscity had been racist) and went to very "white" school. But, while I saw Eleanor's character development, I know almost nothing about Park’s. Rowell also seems to exaggerating in making Eleanor's life so miserable so that the reader sympathizes with her.

SECOND, the racial issues, historical & cultural background.

Some reviews called this book "racist" (the author of this Tumblr post picked to pieces the “racism” found in this book) and written without sufficient research on historical background and Korean culture. (This review by Laura of Clear Eyes Full Shelves has said much about this issue.  And maybe you wanna know an opinion of Eunnie Lee, a Korean reader about this book.) There were racial tensions throughout the 19th-20th century and even up to now in Omaha. (FYI, Rowell grew up in this city.) But, this story told me that Park (the only one half--Korean in the neighborhood) and the two black girls, “friends" (I couldn't call it friendship though) of Eleanor lived such more peaceful life compared to Eleanor's (she was white, you remember?). And about Korean culture...well, one of the most visible mistakes is how could Park's mom gave him a Korean last name as his first name? “Park” is a family name after all. Together with “Kim” and “Lee”, they make the three most often used family names in South Korea.  Look, I didn’t do K-Pop boy bands fan-girling and watching reality shows and Korean drama series without learning anything “cultural”.

THIRD, the plot.

So boring. But the ending isn't cliche, thanks God, although I didn't satisfied since I hope that Rowell told more about what happened to Eleanor’s mom and siblings, rather than her mere anxiety.
*
Actually I love how Rowell created analogies which aren't cliches yet make sense, and humorous lines which sometimes made me chuckle. For example:
Thinking about going out with Park, in public, was kind of like thinking about taking your helmet off in space. (p. 173)
Because being assaulted with maxi pads is a great way to win friends and influence people. (p. 61)
And also the much-pop-culture references (music, comics, books). Although I didn't know much of them. Meanwhile, the romance, although some of the readers found it to be unbelievable because Park went from shouting to Eleanor at the first time she got into the bus to a kind of no-words-communication, to a deep romance in which they “can’t live without each other” too fast that it turned out to be silly rather than romantic. But I didn’t really think so. It wasn’t too fast for them to be in that kind of romantic relationship. I saw they gradually became closer and closer little by little. At first Park shouted to Eleanor, then give the seat beside him to her, then Eleanor peeked at the comics Park read in the bus every day. And then Park lent his comics to her, then they began to share music. All of those, at first, were done almost without they said something to each other. So yeah, Rowell made every effort so that they could be in that degree of relationship. But I didn’t deny that their relationship seemed to me more likely to be a friendship rather than romantic one.

I started reading this with high expectation but it didn't turn out well. So, yeah, 2.5 out of 5 rating for this novel. And I didn’t feel any heartbreak in reading this.
“Eleanor was right. She never looked nice. She looked like art, and art wasn't supposed to look nice, form it was supposed to make you feel something.”
book identity
Title: Eleanor & Park
Author: Rainbow Rowell
Number of pages: 328
Publishing date: October 2013 (International Edition)
Publisher: St. Martin’s Griffin
ISBN: 978-1-250-05399-2 (International Edition)
Price: IDR 145,000 (Books and Beyond)

7 December 2017

[Resensi JATUH 7 KALI BANGKIT 8 KALI] Kisah Guru yang Menuai Pelajaran dari Berbagai Keterbatasan

Catatan:
1. Resensi ini tayang juga di Goodreads.
2. Buku ini salah satu hadiah dari Penerbit Mizan saat blio berulang tahun ke-34 (berbulan-bulan yang lalu).

Bila kita bersyukur atas uang yang kita miliki, betapa pun sedikit jumlahnya, kita akan menerima uang lebih banyak lagi. Bila kita bersyukur atas suatu relasi, meski hubungan itu tidak sempurna, relasi itu bakal sempurna. Bila kita bersyukur atas pekerjaan kita saat ini, meski itu bukan pekerjaan idaman, kita akan memperoleh lebih banyak peluang mengejutkan dalam pekerjaan.
(hlm. 38)
Salah satu hal yang paling sering aku lupa lakukan adalah bersyukur. Selalu ingin yang lebih dan lebih lagi hingga lupa ada banyak hal yang seharusnya disyukuri.

Ada inspirasi yang bisa kita petik dari kehidupan sehari-hari, bahkan kehidupan kita sendiri kalau kita mau melihatnya lebih terperinci. Seperti yang disebut Stephen R. Covey, “everyday greatness” (hlm. xv). J. Sumardianta, guru SMA Kolese De Britto dan juga penulis, berawal dari acara pelatihan spiritual guru-guru yayasan sekolah, bertemu dengan Sutarto, guru senior SMA Kolese Kanisius Jakarta. Kita tidak tahu ke mana pertemuan-pertemuan dengan orang-orang akan membawa kita, tapi setiap pertemuan itu pasti berdampak di masa depan. Buku Jatuh 7 Kali Bangkit 8 Kali ini pun lahir dari pertemuan semacam itu, yang juga adalah hasil dari pengembangan pelatihan spiritual yang mereka ikuti itu. Sumardianta menemukan dan mencoba menyoroti “everyday greatness” sosok Sutarto yang telah tampak sejak kecil. Ingatan-ingatan dalam kepala Sutarto itu menemukan “pensieve”-nya saat dirangkai oleh Sumardianta dengan pembukaan berupa anekdot dan penutup mengandung hikmah pada setiap bab menjadi buku (yang katanya) inspiratif ini.
*
Tarto lahir di sebuah dusun di Karanganyar, Jawa Tengah, di keluarga yang serba-kekurangan. Hari-hari ia lewati sering dengan perut keroncongan. Maka, bubur gurih tanpa lauk dari beras hasil nempil tetangga pun layak disyukuri, apa lagi nasi selamatan dari tetangga (bahkan nasi, sayur lodeh, dan ikan asin adalah makan malam terbaik yang pernah Tarto santap di masa belia (hlm. 40-41). Sejak kecil mental dan fisiknya terlatih oleh aktivitas membantu orang tua: angon ternak, mengurus sawah, menyapu sekolah menggantikan ayahnya yang berhalangan (yang kerap membuatnya jadi bahan perundungan teman-teman sekolah), bersepeda puluhan kilometer. Lantas, kekurangan finansial membuatnya jadi kreatif. Berjualan daun tebu kering, jualan sabun buatan sendiri, jualan jasa bikin undangan, dan lain-lain, yang berperan mengembangkan jiwa kewirausahaan yang ditekuninya sampai kini.
Saudara itu orang-orang yang terhubung dengan kita karena pertalian darah. Saudara berdimensi fisik. Persaudaraan itu artinya orang-orang yang terhubung dengan kita karena pertalian hati. Persaudaraan berdimensi spiritual.
(hlm. 76)
Dari orang-orang di sekitarnya dan kebaikan-kebaikan kecil yang mereka berikan, Tarto memetik inspirasi. Inspirasi ini berperan dalam menguatkan mentalnya dan membantunya memilih jadi pribadi yang positif meski kerap dirundung ketidakadilan dan kesulitan hidup. Ia tak lantas jadi pribadi yang menyimpan dendam, malah ia jadi pribadi yang penuh semangat dan gigih menggapai cita-cita. Orang-orang itu, antara lain adalah Pak Rajimin, guru kelas IV-nya, yang membantunya berani mengeluarkan pendapat; Pak Suwito, guru kelas VI-nya, yang membangkitkan cita-citanya untuk sekolah tinggi; dan tentu saja—Ayah dan Simbok, yang meski kekurangan secara material, tetap ngotot menyekolahkan anaknya, dan dengan cara mereka sendiri membangun mental tahan banting Tarto.
*
Terbagi menjadi tiga bagian, “Mensyukuri Keuntungan Tak Adil”, “3M: Menemani, Melayani, dan Membela”, dan “Stay Hungry, Stay Foolish”, buku ini mencoba menarasikan kehidupan Sutarto. Bagian pertama menyoroti masa kecil hingga remaja yang penuh kesulitan, yang membentuk Tarto jadi orang dewasa yang hebat. Bagian kedua menyoroti kontribusi-kontribusi besar dari orang-orang di sekitar Tarto yang penting bagi keberhasilannya. Bagian ketiga, yang judulnya dikutip dari Steve Jobs, menyoroti bagaimana Tarto terus menjadi manusia pembelajar. Di bagian terakhir ini Sumardianta menganyam pendapat-pendapat orang-orang dekat Tarto tentang sosoknya; dari sudut pandang anaknya, muridnya, rekan kerjanya…. Ketika menyoroti hubungan Tarto dengan anak sulungnya, hal yang menyentuh adalah daftar “tiga belas permintaan anak yang mungkin tidak pernah mereka ucapkan” di halaman 204. Kupikir setiap orang tua harus memahami ini.
Buku ini terdiri dari bab-bab pendek yang masing-masing mengikuti pola konten: anekdot – kisah hidup Sutarto – hikmah. Namun ada beberapa bab yang hanya dihuni kisah inspiratif klise tanpa kisah hidup Tarto. Secara keseluruhan, aku malah menemukan lebih banyak inspirasi dari bagian anekdot ketimbang kisah hidup Tarto. Salah satu yang paling mengena ada di Bab 20, yaitu kata-kata Margaret, istri John Maxwell,
…tidak ada seorang pun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku selain diriku sendiri.
(hlm. 153)
Bisa dibilang, anekdotnyalah yang menghidupkan buku ini. Banyak anekdot yang menarik, (meski mungkin beberapa pembaca akan menganggap ini klise) seperti kisah tentang Don Quixote. Aku juga menemukan beberapa bab yang antara anekdot dan inti serta penutup bab tidak berkaitan, sehingga terkesan penulis memaksakan keberadaan anekdot demi mengikuti pola penulisan konten yang telah dijanjikan kepada pembaca, tak peduli anekdot itu tak terlalu—atau hanya “tidak”—berkaitan dengan inti cerita. Aku gagal menemukan kaitan antara “tidak perlunya berdebat sia-sia” dengan perjuangan Tarto membuat SIM dan celetukannya mengenai percaloan. Apakah mungkin ada kaitannya dengan Tarto yang kesal karena tidak kunjung lulus tes SIM, lalu berteriak pada petugas, tapi lantas ia tidak melanjutkan dengan mengajak debat petugas itu? Hm, kupikir tidak. Konteksnya tidak cocok.

Lantas, aku juga menemukan ketidaksesuaian antara subjudul dengan isi buku. Tak ada yang salah dengan “Jatuh 7 Kali Bangkit 8 Kali”, tapi aku kurang sreg dengan “Kisah Para Guru Pemberani yang Menuai Keuntungan dari Ketidakadilan”. Pertama, kisah hidup Sumardianta hanya menempati satu bab penuh lebih sedikit. Frasa “para guru” itu terasa kurang adil bagi Sumardianta. Lebih pas kalau “guru” saja, dan seluruh buku ini tentang Sutarto. Menjadi agak aneh ketika tiba-tiba Sumardianta menyempilkan sedikit kisah hidupnya di salah satu bab dan lalu memenuhi bab terakhir buku. Kedua, “menuai keuntungan” kupikir lebih pas jika diganti dengan semacam “menuai pelajaran”. Ketiga, kata “ketidakadilan” kupikir tidak pas digunakan sebagai subjudul buku yang ditulis oleh dua insan yang telah berdamai dengan masa lalunya, bahkan telah berhasil menjadikan masa lalu itu sebagai pembelajaran yang mengantarkan mereka pada kesuksesan. Masa orang-orang seperti Sutarto dan Sumardianta menganggap masa lalu yang penuh kesulitan itu sebagai ketidakadilan? Kesannya seperti para pengeluh yang manja. Lebih pas jika “ketidakadilan” itu diubah menjadi, misalnya, keterbatasan.

Kupikir Bab 29, Keunggulan Generasi Baby Boomers sangat potensial dikembangkan menjadi ruh utama buku ini. Tujuan penulisan buku ini apa, sih? Sekadar berbagi inspirasi dari kisah hidup guru yang berhasil mengubah kesulitan dan keterbatasan hidup jadi kesuksesan? Kalau hanya itu, buku ini kurang punya keistimewaan. Coba jika tujuannya dijadikan lebih spesifik: berbagi inspirasi tersebut untuk menunjukkan keunggulan generasi baby boomers ketimbang generasi Y dan generasi Z, sehingga generasi baby boomers berhenti memanjakan anak-anaknya (generasi Y dan Z) karena tak ingin mereka mengalami kesusahan hidup seperti yang dulu mereka alami, dan generasi Y dan Z itu sendiri pun terpacu semangatnya (hlm. 219-220).

Terlepas dari itu semua, buku ini telah menebarkan inspirasi dan mengingatkanku untuk selalu bersyukur, menjadikan tantangan dan keterbatasan sebagai batu pijakan menuju kesuksesan, dan selalu menghargai relasi-relasi.
Para pemenang memikirkan hal-hal yang sama. Mereka hanya melakukannya dengan cara yang berbeda.
(hlm. 163)
identitas buku

Judul: Jatuh 7 Kali Bangkit 8 Kali: Kisah Para Guru Pemberani yang Menuai Keuntungan dari Ketidakadilan
Penulis: G. Sutarto & J. Sumardianta
Editor: Ikhdah Henny & Nurjannah Intan
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: I, Maret 2017
Tebal: xxxvi + 248 halaman
ISBN: 978-602-291-373-3
Harga: Rp 54.000,00
Ratingku: ⭐⭐1/2

3 December 2017

[Resensi LUKA DALAM BARA] Sehimpun Curhatan




“Mungkin saja, yang kamu perlukan hanyalah jatuh cinta lagi.”
(Menulis dan Mencintai, hlm. 69)
Tak jarang, aku menjelma impulsif saat membeli buku. Luka dalam Bara adalah salah satu contohnya. Semata karena sampul dan ilustrasinya yang cantik, serta jilidan hardcover dengan harga yang murah, aku memutuskan ikut pre-order edisi bertanda tangan di Bukabuku.
Apakah aku menyesal setelah membaca buku kumpulan curhatan Bara ini?

Tidak juga, meski aku berharap Bara bisa lebih elegan dalam menuliskan curhatannya seputar hubungan percintaannya—tidak sementah dan sebiasa ini. Yah, itulah salah satu untungnya menjadi penulis ternama. Namun, tak bisa juga aku menghakimi lantaran di kata pengantar Untuk Apa Saya Menulis? Bara memang sudah mengatakan bahwa tulisan-tulisannya di buku ini—yang awalnya ia tampilkan di blog—adalah “fragmen-fragmen perasaan aktual” yang “terlalu personal dan jujur untuk saya bagi dalam bentuk sebuah buku utuh” (hlm. 2). Namun, kalau dia menuliskannya ke dalam bentuk puisi nan penuh umpama, apakah itu lantas tidak jujur namanya? Nah, apakah curhatan yang “terlalu personal dan jujur untuk dibagi dalam bentuk sebuah buku utuh” ini tidak terlalu personal dan jujur juga untuk dibagi ke khalayak lewat blog? Mungkin kesannya beda, ya. Entahlah.

Untung, sampul dan ilustrasinya cantik. Untung dapat bonus pouch lucu buat tempat alat tulis.


Untung, di beberapa bagian aku bisa menemukan rasa terkoneksi dengan tulisannya, misalnya bagaimana cara salah satu tokoh menangani patah hatinya (Menangani Patah Hati, hlm. 62-64). Ini mirip dengan caraku menyembuhkan diri pasca-patah-hati: memeras kesedihan sampai kering kemripik, lalu menggorengnya dan memakannya bak kerupuk, yang pada akhirnya kukeluarkan di toilet dan kusirami sampai lenyap dari pandangan. Mampus kau kenangan. (Seandainya bisa seperti itu.) Lalu aku bangun dan menjalani kembali hidup yang tak akan pernah seperti semula (tentunya setelah tak lupa cebok dan memakai celana); hidup yang aku telah berdamai dengannya.

Atau bagaimana juga aku merasa terkoneksi dengan Bara karena kami memiliki beberapa kesamaan dalam hal aktivitas menulis. Menulis untuk menumpahkan perasaan, karena aku lebih bisa menulis daripada berkata-kata.
“Sesuatu yang membuatku mencintai seorang begitu lama adalah, karena garis waktuku dengannya selalu bersaling-silang. Belum benar-benar bertemu pada garis dalam alur yang sama. Semakin lama waktu yang terulur, cinta semakin dalam terpancang.”
(Surat-surat untuk J
(#6), hlm. 53)
Yah, begitulah. Oleh karena itu, masa-masa paling menyenangkan adalah saat pedekate. (Ada hubungannya nggak, sih? ­čśĽ)

Ada kalimat Bara yang membuatku tercenung, yaitu dalam Ikatan. Ikatan dan/atau komitmen adalah salah satu ketakutan terbesarku. Saat ketakutan itu menyerang, aku selalu mengingat petikan dalam Madre karya Dee,
“Kalau bebas sudah jadi keharusan, sebetulnya sudah bukan bebas lagi, ya?”
Nah, Bara mengingatkanku lagi dengan cara yang berbeda.
“Bagaimana bisa kita terbebas dan terlepas dari ikatan, sementara kita sendiri tercipta dan terbentuk melalui ikatan-ikatan?”
(hlm. 81)
Ya, bagaimana aku bisa lupa kalau tubuhku terdiri dari ikatan-ikatan molekul? Yah, atau mungkin karena sudah terlalu banyak ikatan dalam tubuhku sehingga aku tak menginginkan tambahan lagi....
Selain itu aku juga suka tulisan berjudul Rumah.
“Aku mencintainya karena ia mencintai kata-kata....”
(hlm. 7)
Yah, reading is sexy indeed. Selebihnya, isi buku ini tak meninggalkan kesan yang kuharapkan padaku. The best part is, I learned this: judge a book by its cover but don't judge a book by "who's its author". Or even, judge nothing.[]

identitas buku
Judul: Luka dalam Bara
Penulis: Bernard Batubara
Editor: Teguh Afandi
Penerbit: Noura
Cetakan: I, Maret 2017
Tebal: 108 halaman
ISBN: 978-602-385-232-1
Harga: Rp 49.000,00
Ratingku: ⭐⭐ (1 bintang untuk konten dan 1 bintang untuk ilustrasi yang ciamik)

10 October 2017

[Resensi A HEAD FULL OF GHOSTS] Kerasukan, Penyakit Mental, atau yang Lain?

A Head Full of Ghosts | Paul Tremblay
Penerjemah: Reni Indardini
Nourabooks | Maret 2017 | 400 hlm
Rp 74.000,00
978-602-385-253-6

*buku ini adalah salah satu hadiah kuis ulang tahun Mizan yang ke-34
** resensi ini pernah nongol di IG saya, kali ini saya tambahkan hal-hal yang menurut saya penting tapi kepsyen IG tidak cukup menampungnya 

Lima belas tahun yang lalu. Merry delapan tahun, Marjorie empat belas tahun. Merry tidak paham ketika ibu mereka yang atheis bilang bahwa Marjorie sedang "sakit", dan membawanya secara berkala ke psikiater. Sementara itu, ayah mereka baru kena PHK dan sejak itu jadi gampang berubah-ubah suasana hatinya. Sang ayah lalu bergabung dengan suatu gereja dan menjalin kedekatan dengan Bapa Wanderly. Di keyakinan sang ayah, Marjorie "kerasukan roh jahat". Oleh karena itu, ia berkeras mempertemukannya dengan Bapa Wanderly, alih-alih mengantarkannya konsultasi ke psikiater langganannya. Maka dari itu, timbullah perselisihan antara sang ibu dan sang ayah. 

Jadi, Marjorie benar-benar kerasukan atau sakit mental? 

Memang, sih, Merry sering mendapati kakaknya melakukan hal-hal aneh. Mulai dari menceritakan kisah-kisah horor tentang molasses dan "yang tumbuh", menyelinap ke kamar Merry di malam hari, merusak tembok kamarnya sendiri, membuat luka-luka di tubuhnya.... Sampai orang-orang dewasa yakin bahwa ia kerasukan dan pada akhirnya sepakat melakukan eksorsisme. Bapa Wanderly mengenalkan kisah kerasukan Marjorie itu pada kru film dokumenter, yang lalu menjadikan keluarga itu sebagai tokoh reality show berjudul The Possession. Sang ibu awalnya tak menyetujui eksorsisme dan syuting film itu, tapi akhirnya setuju karena hanya dengan itulah keluarga yang sedang bangkrut itu bisa mendapat banyak uang dalam waktu singkat.

Lima belas tahun kemudian, Merry bersedia diwawancarai oleh Rachel tentang kisah kakaknya. Dari situ, apa yang sebenarnya terjadi di antara proses syuting episode terakhir The Possession dengan peristiwa tragis tewasnya keluarga itu--kecuali Merry--terungkap.

***
Kau yakin, Stephen King? Menurutku dia melebih-lebihkan. Aku terus membaca buku ini sampai akhir, awalnya karena berniat menegasikan testimoni itu. Bagian awal memang terasa datar, meski ada ketegangan-ketegangan minor--misalnya adegan Marjorie menyelinap ke kamar Merry (mungkin akan lebih menegangkan kalau aku menonton versi filmnya--kalaupun bakal difilmkan). Namun sejak hari eksorsisme Marjorie, cerita memang jadi menarik dan menegangkan. Bahkan aku mendapat satu adegan mengerikan (yang kuharapkan telah kudapat sejak awal, terima kasih, Paul), yaitu saat eksorsisme berlangsung, Marjorie menggigit tangan Bapa Gavin sampai kewer-kewer dan akhirnya cuil. Deskripsinya cukup membuat aku ngilu. 

Ini kisah tentang kakak-beradik. Hubungan antartokoh yang dieksplorasi paling dalam oleh penulis adalah hubungan antara Merry dan Marjorie. Meski sering kesal terhadap Marjorie, Merry tak bisa berbohong bahwa ia sebenarnya mengidolakan kakaknya. Mereka berdua punya kebiasaan unik, yaitu menciptakan cerita-cerita sampingan, misalnya dari buku cerita bergambar favorit Merry, Cars and Trucks and Things That Go karya Richard Scarry. Mereka akan menggambar coretan-coretan kisah mereka sendiri di bagian-bagian yang kosong pada halaman buku. Hm, sebenarnya yang gemar menciptakan cerita adalah Marjorie, sih. Tapi kalau tak ada Merry yang amat menggemari cerita-cerita karangan kakaknya, cerita Marjorie itu tak akan hidup. 

Nah, ada dua cerita karangan Marjorie yang paling berkesan, yaitu tentang "yang tumbuh"--seperti pohon kacang dalam ceria Jack dan Kacang Ajaib yang tumbuh dengan cepat menjadi raksasa dan menerjang apa saja saat tumbuh, termasuk menyebabkan terbunuhnya ibu mereka. Cerita yang kedua adalah tentang bencana banjir molasses--sirup gula warna cokelat gelap nan kental dan lengket. Cerita karangan Marjorie ini tidak benar-benar karangan, karena memang benar-benar pernah terjadi, yaitu di Boston pada tahun 1919. 

Kukira ini akan jadi kisah "kakak-beradik melawan dunia."; untuk meloloskan diri dari ayah dan ibu mereka yang sering tidak cocok dan masing-masing punya kegelisahan dalam kepala mereka. Juga dari Bapa Wanderly, kru film, psikiater.... 

Makin lama, perilaku tokoh-tokoh dalam novel ini jadi membingungkan. Pertama, Marjorie. Apakah ia memang berpura-pura kerasukan, atau memang menderita penyakit mental, atau ia berpura-pura bahwa ia pura-pura kerasukan karena ia memang kerasukan? Kedua, sang ayah. Suasana hatinya sering berubah-ubah, ada yang hingga taraf aku mengira bahwa sebenarnya yang gila bukan Marjorie, melainkan ayahnya. Namun, perilaku mereka inilah yang menarik. Mereka menstimulasi rasa penasaranku sehingga aku mulai berspekulasi....
Dalam novel ini, aku menangkap adanya isu pertentangan antara ilmu pengetahuan dan takhayul (diwujudkan dalam pertentangan pihak ibu dan pihak ayah). Keyakinan bahwa Marjorie kerasukan roh jahat mungkin menghalangi anak itu mendapatkan perawatan medis yang benar dan hal ini bisa berakibat fatal (jika sesungguhnya tingkah anehnya itu merupakan gejala psikosis alih-alih "kerasukan"). Dugaan ini tak hanya dilontarkan olehku, ternyata (kalau penasaran, coba deh, baca ini).

Bagian favoritku adalah artikel ulasan reality show The Possession dari blog Karen Brissette, yang diletakkan di tiap awal bagian. Ah, Karen Brissette ini nama yang Paul pinjam dari orang sungguhan. Di sini, Paul mewawancarai Karen yang sungguhan. Ngomong-ngomong, novel ini terdiri dari tiga bagian. Bagian Satu: Rachel memulai wawancara dengan Merry di masa sekarang. Lalu cerita Merry membawa kita ke masa lalu, saat dia masih delapan tahun dan kakaknya, Marjorie 14 tahun. Bagian dua: Merry menceritakan proses syuting The Possession sampai proses eksorsisme oleh Bapa Wanderly (dibantu Bapa Gavin) terhadap Marjorie. Bagian tiga: Merry menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di antara episode terakhir The Possession (Marjorie melompat dari balkon) sampai kemudian ayah-ibu-Marjorie mati di dalam rumah mereka. Karen sangat kritis dalam mengulas tayangan itu, terlebih terhadap unsur-unsur misoginisme yang ditampilkan. Di dunia nyata masa kini pun masih banyak unsur misoginis dalam tayangan/pemberitaan di berbagai media.

Novel ini tidak terlalu menakutkan, sih, tapi bagian akhirnya membingungkan dan membuatku berpikir. Jadi, Marjorie benar-benar berpura-pura sakit, atau memang dia "sakit" (dugaanku sih, skizofrenia) dan pengakuannya pada Merry adalah bagian dari ketidakwarasannya, jadi tak bisa sepenuhnya dipercaya, atau dia memang sakit dan sekaligus berpura-pura untuk membuatnya hiperbolis dan dramatis? Atau, malah jangan-jangan Merry bukanlah narator yang bisa diandalkan seperti ekspektasiku semula? Aku jadi ingat tokoh utama dalam The Girl on the Train.  Twist-nya tidak meledak-ledak, tapi bikin aku terdiam. Bingung. Agak merinding. Bukan karena iblis atau roh jahat, melainkan karena kemungkinan-kemungkinan.... Apa yang terjadi sebenarnya? Halaman tanya-jawab pembaca dengan Paul Tremblay di laman Goodreads ini sungguh menarik, beberapa mewakili pertanyaanku.[]

30 September 2017

[Resensi THE PRAGUE CEMETERY] Penyebaran Berita Palsu di Abad Ke-19 dan Awal Abad Ke-20



Judul: The Prague Cemetery
Penulis: Umberto Eco
Penerjemah: Nin Bakdi Soemanto
Penyunting: Mahfud Ikhwan
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: I, Februari 2013
Tebal: viii + 616 halaman
ISBN: 978-602-8811-98-9

Buku “Terlama Tak Kunjung Dibaca sejak Dibeli”

Menjadi tsundoku itu ibarat jatuh cinta padamu. Aku tak sadar, tahu-tahu dadaku sudah berlubang dan hatiku jatuh di genggamanmu. Eh, malah curhat. Salah satu akibat menjadi tsundoku adalah daftar tunggu buku yang dibaca jadi makin panjang dan terus memanjang. The Prague Cemetery ini adalah salah satu buku yang menjadi korban daftar tunggu yang terus memanjang itu. Di rak buku saya, ia memegang rekor “terlama tak kunjung dibaca sejak dibeli”. Ia saya adopsi dari Togamas Mal Galeria (ya, ampun, sampai Togamas yang di situ sudah tak ada lagi sekarang) pada tahun 2013, dan baru saya baca tahun 2017. Sungguh kasihan buku ini, ia mungkin terlalu lelah menunggu saya baca sampai kertasnya ditumbuhi bercak-bercak kuning.

The Prague Cemetery merupakan kumpulan catatan harian Simonini, yang ditulis sebagai bagian dari terapi untuk mengingat apa yang telah ia alami, karena ia menderita penyakit mental tertentu (yang sebaiknya tidak saya sebutkan karena akan menjadi bocoran). Catatan harian itu kadang dibalas oleh Dalla Piccola, dengan tulisan yang ditujukan pada Simonini sebagai upaya untuk mengingatkannya akan hal-hal buruk yang telah ia lakukan di masa lalu, tapi ia lupa, yaitu pembunuhan. Atau saking ia ngeri pada apa yang telah dirinya lakukan, mentalnya menghapus memori itu. Kadang, upaya Dalla Piccola ini membuat Simonini tersinggung (hlm 378).

Umberto Eco menulis buku ini dengan narasi berganti-ganti; dari sudut pandang orang pertama Simonini, ke sudut pandang orang pertama Abbe Dalla Piccola, lalu sudut pandang orang ketiga Sang Narator. Buku dibuka dengan adegan Sang Narator yang mulai mengikuti catatan harian Simonini. Catatan pertama (bab dua) bertanggal 24 Maret 1897, dibuka dengan penjelasan Simonini mengapa ia menulis catatan harian, lalu racauannya tentang siapa dia sebenarnya. Di sini ia mulai menyebut-nyebut Dalla Piccola. Lalu di catatan hari berikutnya (bab tiga), Simonini mulai mengulik ingatan masa lalunya dari tahun 1885-1886, saat ia terlibat obrolan dengan beberapa ahli psikiatri di Chez Magny (sebuah restoran di Paris). Saat itulah untuk pertama kalinya Diana Vaughan, seorang pasien penyakit mental, disebut.

Pertemuan dengan Sigmund Freud

Di Chez Magny itulah pertama kalinya Simonini berkenalan dengan “dokter Austria (atau Jerman) itu”, “seorang dokter berusia sekitar tiga puluh yang hampir pasti datang ke Magny hanya karena tidak bisa makan lebih mahal lagi dan magang pada Charcot”. “Aku” (Simonini) menuliskan nama dokter itu sebagai Fro├»de dengan nama depan Sigmund. Dari isi pembicaraan dan narasi yang dikisahkannya, Sigmund ini tak lain adalah Sigmund Freud (Freud memang dibaca “Froyd”, mirip dengan “Fro├»de”). Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1885-1886. Freud lahir pada tahun 1856 (jadi memang benar pada tahun 1885/1886 umurnya sekitar 30 tahun) dan pada bulan Oktober 1885 dia pergi ke Paris untuk magang pada Jean-Martin Charcot. (Sumber: Wikipedia) Dalam obrolan dengan “aku”, Fro├»de sempat menyebut nama tunangannya, Marta (Freud menikahi Martha Bernays pada tahun 1886).

“Semua hal itu racun jika dosisnya berlebihan, bahkan anggur,” kata Fro├»de pada halaman 56. Setelah itu dia juga menjelaskan beragam kegunaan kokain. Dari yang saya baca di Wikipedia, Freud memang pernah menerbitkan paper tentang efek kokain pada tahun 1884.

Jadi, ya, itu memang Sigmund Freud yang itu.

Dalam pembicaraan dengan Freud itu, kelihatan sekali ketaksukaan dan prasangka Simonini terhadap Freud yang Yahudi. “Pada detik ini kukira, aku sudah tertarik dalam berbagai rencana orang Yahudi dan ambisi ras itu agar putra-putra mereka menjadi dokter dan ahli farmasi dengan tujuan mengontrol tubuh maupun pikiran orang Kristen.” (hlm. 62)

Anti-Semitisme yang tertanam dalam benak Simonini ini tak bisa dipungkiri adalah warisan dari kakeknya, seperti yang ia ceritakan di bab selanjutnya, yang mundur ke tahun 1830-1855. Di masa kecil dan remajanya di Turin itulah, kakeknya menanamkan kebencian terhadap orang Yahudi.

Yang Ada di Balik Layar

Di bab-bab selanjutnya, catatan harian Simonini, tulisan Abb├ę Dalla Piccola, dan narasi dari Sang Narator, mengisahkan bagaimana Simonini mulai bekerja pada Notaio Rebaudengo, seorang notaris merangkap pembuat dokumen palsu. Ironis sekali bagaimana ia mengatakan bahwa profesinya yang penuh kebohongan itu didasarkan pada kepercayaan dengan klien. Belakangan, Simonini membuka jasa pembuatan dokumen palsunya sendiri.
“Jika aku mulai mencemaskan apakah klien itu mungkin berbohong, aku tidak lagi punya profesi ini, yang didasarkan pada kepercayaan.” (Rebaudengo, hlm. 123)
Dalam sejarah Eropa abad ke-19, Simonini memiliki peran penting sebagai konseptor; sosok yang berada di belakang layar pada beberapa peristiwa sejarah yang benar-benar terjadi (penyatuan Italia, perang Franco-Prussia, Paris Commune, peristiwa Dreyfus (Sumber: Wawancara dengan Umberto Eco). Ini mengingatkan saya akan Pak Tua si tokoh utama dalam The 100-year-old man who climbed the window and disappeared, yang juga terlibat dalam peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah dunia. Selama bekerja pada Rebaudengo, Simonini bertemu banyak klien, salah satunya dengan Cavalier Bianco, orang penting di dinas rahasia pemerintahan. Bianco merekrutnya untuk membantu penangkapan para Carbonari.

Carbonari ini adalah perkumpulan rahasia yang berkembang di Italia bagian selatan sejak tahun 1700-an (tapi baru terkenal pada awal abad ke-19) (Sumber: Global Security), dan diduga mempunyai kaitan dengan Freemason Italia (Sumber: Sanfelesesociety). Mereka melakukan ritual-ritual rahasia yang merupakan campuran dari ritual Kristen dengan simbol-simbol dan referensi pagan. Para anggotanya secara umum mendukung konsep hak-hak individu yang diakui konstitusi, kebebasan berbicara dan kemerdekaan dari dominasi kolonial asing—perkumpulan ini mengusung pemikiran republikan yang menggusarkan pemerintahan konservatif Eropa di zaman itu (pemerintahan monarki). (Sumber: Global Security)

Setelah keberhasilannya itu, kariernya menanjak sebagai agen rahasia untuk dinas pemerintahan, membuat dokumen dan laporan palsu hasil karangannya sendiri untuk memojokkan pihak-pihak tertentu, sembari menjalankan rencana-rencana demi keuntungan pribadi.

Berikutnya, Simonini turut hadir dalam Ekspedisi Garibaldi (ini merupakan peristiwa sejarah betulan). Ia menyamar dalam pendukung Garibaldi, yang disebut “Seribu Garibaldi” untuk menggali informasi dan melakukan tugas dari dinas rahasia. Saat itulah ia melakukan kontak pertama dengan Alexandre Dumas, novelis terkemuka Perancis itu. Kemudian pada tahun 1861 Simonini pindah ke Paris, setelah itu ia pernah dipenjara, membunuh beberapa orang, mengadu domba beberapa pihak (Mason, komunis, pemerintah, Jesuit, Yahudi, dan apa lagi, ya?) demi keuntungan pribadi.

Sebagaimana sang tamu pada bab satu mengintip Simonini sedang menulis catatan hariannya, saya mengikuti kisah hidup lelaki itu dan saya pikir telah mengenalnya dengan cukup baik setelah 600+ halaman. Simonini adalah orang yang cerdas, cerdik, dan licik; ia tak segan melakukan kebusukan demi mencapai keuntungan. Ia menggagas ide-ide seperti menciptakan malapetaka dalam pelayaran Nievo dari Palermo ke Turin demi melenyapkan buku-buku keuangan bersama Nievo (hlm. 210-211).

“The Protocols”

"Jika emas adalah kekuatan pertama di dunia ini, yang kedua adalah pers. Kita harus mengambil alih kepemimpinan semua surat kabar di setiap negeri." (Suara Ketigabelas di Kuburan Praha, hlm. 292)
Membaca novel ini seperti membaca sejarah Eropa abad ke-19 dengan cara yang seru. Sejarah yang penuh konspirasi, penipuan, pembajakan tulisan, adu-domba… Betapa novel ini menunjukkan berkali-kali bahwa tulisan sungguh punya kekuatan besar untuk menimbulkan kebencian terhadap sesuatu; dua di antaranya yang paling menggelegar adalah terhadap ras Yahudi dan terhadap Freemasonry.

The Protocols of The Elder of Zion, atau yang sering disebut The Protocols, yang merupakan teks anti-Semitisme yang mendeskripsikan konspirasi gelap para rabi Yahudi pada suatu malam di sebuah kuburan di Praha. Dalam pertemuan itu mereka berencana menguasai dunia. Di bab enam Simonini menceritakan bagaimana awalnya tercetus ide untuk menuliskan laporan itu. Kemudian, bagaimana dia menjiplak beberapa bagian dari novel karya Maurice Joly. Ironisnya, novel Joly itu sendiri adalah plagiarisme dari novel Les Myst├Ęres du Peuple karya Eug├Ęne Sue. [The Protocols]

The Protocols yang diterbitkan tanpa nama penulis tercantum itu kemudian menjadi terkenal dan menyebabkan meluasnya anti-Semitisme di Eropa. Adegan kuburan Praha jadi sering didaur ulang oleh pengarang-pengarang lain. Maka, menjadi lucu ketika Simonini mengeluhkan pembajakan ini, karena ia sendiri pun membajak sana-sini saat menulis The Protocols.
"Ya, Tuhan, dalam sebuah dunia para pembajak, bagaimana hidup jadi mungkin?" (Simonini, hlm. 380)

Le Diable au XIXe Si├Ęcle” dan Objektivikasi Perempuan

Dalla Piccola ternyata juga melakukan hal serupa dengan yang dilakukan Simonini, yaitu penulisan dokumen palsu. Di akhir abad ke-19, ia menyuntikkan ide dalam kepala Taxil, seorang penyebar berita palsu yang sebelumnya sempat membuat geger masyarakat, untuk menulis karya yang menjelek-jelekkan Freemasonry. Pada tahun 1892 mereka mulai memanfaatkan Diana Vaughan, seorang pasien kejiwaan dr. Du Maurier. Diana meyakini bahwa dirinya adalah murid Palladian, suatu sekte Masonik yang misterius. Dalam kegilaannya, Diana sering mengocehkan berbagai ritual Palladian. Nah, cerita Diana tentang berbagai ritual inilah yang dijadikan pijakan tulisan mereka.

Mereka juga menciptakan tokoh rekaan bernama Dr. Bataille, yang seolah-olah adalah dokter yang menangani Diana. Nama “Dr. Bataille” pun mereka cantumkan sebagai penulis buku ini, yang mereka beri judul “Le Diable au XIXe Si├Ęcle: Misteri di Balik Satanisme Modern, Magnetisme Klenik, para Perantara Lucifer, Kabalah pada Akhir Abad, Sihir Rosicrucian, Kesurupan Kambuhan, para Perintis Anti-Kristus” itu (padahal yang menulis adalah Taxil).

Dalam peristiwa ini, Diana dijadikan objek untuk menyebarkan kebencian terhadap Mason sekaligus sebagai objek seksual oleh Taxil. Sebaliknya, Dalla Piccola sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan seksual terhadap Diana. Dia juga secara terang-terangan mengungkapkan kepada pembaca perasaan jijiknya terhadap perempuan, yang juga membuat saya menduga apakah ia aseksual sebagai akibat dari lingkungan dan kebiasaan hidupnya di antara para imam.
"Aku selalu menemukan lebih banyak kenikmatan pada makanan daripada seks—mungkin satu tanda yang ditinggalkan kepadaku oleh para imam." (hlm. 24)
Pikiran berhubungan seks dengan seorang perempuan sudah cukup buruk, tetapi dengan seorang perempuan gila…. (hlm. 455)
Kejijikannya terhadap perempuan makin terlihat saat ia berada dalam kondisi yang membuatnya terpaksa terlibat dalam hubungan seksual dengan Diana. Sebagai pastor, ia belum pernah berhubungan seks dengan perempuan sebelumnya, bahkan baru saat itu ia melihat perempuan telanjang. Namun kemudian saya menangkap pertanda bahwa ia takut terhadap perempuan dewasa saja, tapi tertarik terhadap anak-anak. Nah, ini membuat saya menduga, apakah ia pedofil?
Aku menahan sekuat tenaga, seperti kena serangan kejang, karena untuk kali pertama melihat seorang perempuan tanpa penutup raga. (hlm. 537)
—dan aku harus mengakui (satu situasi aneh ketika aku, seorang imam, mengaku dosa kepadamu, Kapten!) bahwa sementara aku merasakan, bukan teror, melainkan paling sedikit rasa takut di depan seorang perempuan yang sekarang matang, sulit bagiku untuk menolak rayuan dari seorang makhluk yang belum  mekar. (hlm. 536)
Di masa itu, di Eropa mulai muncul gerakan-gerakan feminisme sebagai reaksi atas ketidakadilan yang dialami oleh perempuan. Perempuan (masih) menjadi korban stereotip masyarakat yang patriarkal, yaitu dipandang sebagai subordinat laki-laki. Maka wajar jika Simonini dan Dalla Piccola, sebagai laki-laki yang hidup di tengah masyarakat patriarkal itu, terkesan memandang perempuan sebagai "warga kelas dua". Dalla Piccola malah terkesan misoginis, contohnya, bisa terbaca dari perkataannya berikut.
“Kami bercakap-cakap beberapa kata (aku sudah begitu terkurung selama sepuluh hari ini sehingga merasa terhibur bahkan dengan bercakap-cakap dengan seorang perempuan) dan setiap kali kutawari dia segelas absintus, aku hampir tak bisa tidak ikut minum lagi.” (hlm. 224)
(Perempuan tidak layak diajak bercakap-cakap?)

Simonini juga memiliki pandangan serupa terhadap perempuan, terlihat dari ucapannya berikut.
Aku tidak punya kepekaan seperti perempuan dan sepenuhnya mampu menyeret mayat seorang imam ke dalam gorong-gorong, tetapi pemandangan ini menggangguku. (Simonini, hlm. 358)
(Kepekaan dipandang secara negatif dan merupakan milik perempuan (saja)?)

Kekuatan Tulisan

The Protocols dan Le Diable au XIXe Si├Ęcle (The Devil in The 19th Century) merupakan dua dari entah sekian banyak tulisan propaganda dari Eropa di abad ke-19 yang benar-benar ada di dunia nyata. Umberto Eco mencoba menciptakan latar belakang terciptanya kedua dokumen itu. Eco menunjukkan betapa tulisan memiliki kekuatan sangat besar untuk menyebarkan propaganda. Meskipun kemudian Taxil telah mengakui bahwa The Devil in the 19th Century itu hoaks, dan banyak peneliti telah membuktikan kepalsuannya, banyak orang masih memercayainya sampai sekarang. The Protocols juga telah sering dibuktikan kepalsuannya. Namun tetap saja, kedua dokumen ini masih dijadikan acuan oleh pihak-pihak yang ingin membenarkan kebenciannya terhadap Mason dan orang Yahudi. Bahkan, The Protocols menjadi bagian dalam propaganda Nazi untuk membenarkan aksi persekusinya terhadap orang Yahudi. (Sumber: The Protocols)

Maka, benar sekali yang ditulis oleh Mikulpepper di artikel blognya,
"But it is easier to get people to believe than it is to renounce their beliefs, so hoaxes can have a very negative effect."

Beberapa Catatan Lain

Awalnya tidak mudah membaca buku ini, karena ada yang membingungkan saya, terkait penyakit mental Simonini dan peristiwa-peristiwa sejarah. Tapi lama-lama saya menikmatinya, salah satu faktor paling signifikan yang telah membantu saya menikmati buku ini adalah terjemahannya yang bagus. Meski begitu, ada banyak istilah dan kalimat dalam bahasa Prancis yang artinya tidak dijelaskan di narasi dan  juga tidak dilengkapi catatan kaki berisi terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Akhirnya, bisa saya simpulkan bahwa ini adalah perkenalan saya yang tak terlupakan dengan Umberto Eco. Ah iya, saat menyelesaikan tulisan ini, saya sedang membaca The Name of the Rose.[]

bloggerwidgets