15 April 2018

Buku Berbahasa Inggris dan Terjemahan Indonesia: Sudut Pandang Seorang Pembaca


“Wah, bacaannya buku berbahasa Inggris. Keren banget!”
“Wow, bacaanmu buku berbahasa Inggris, emang kamu ngerti, gitu?”
“Weleh, bacaannya buku berbahasa Inggris, dibaca beneran nggak, tuh? Cuma biar terlihat keren, ya?”
“Dih, bacanya buku berbahasa Inggris. Kenapa nggak baca terjemahannya saja? Nggak bangga sama bahasa sendiri.”
Kira-kira komentar-komentar seperti itu yang didengar oleh Mbak Kim ketika dia ke mana-mana menenteng buku tebal The Name of The Rose versi bahasa Inggris terbitan Vintage. Dan tak sebentar dia menenteng-nenteng buku itu, hampir sebulan! Rutinitas kantoran pukul 7–16 bak kerangkeng bagi diri Mbak Kim, yang sebelumnya sungguh mencintai pekerjaan sebagai pengangguran. Waktu untuk membaca jadi benar-benar waktu yang dicuri. Makanya, ke mana-mana dia menenteng buku itu, setiap ada waktu yang bisa dicuri, dia akan mencurinya seoptimal mungkin! Butuh waktu sekitar satu bulan untuk menamatkan The Name of The Rose, karena membaca buku itu berat—bilang ke Dilan, tolong—tebal, 538 halaman; banyak sekali kata-kata bahasa Inggris yang asing bagi Mbak Kim; Eco sering menuliskan deskripsi sesuatu dengan sangat detail, dan itu malah bikin Mbak Kim makin pusing; bagian sejarah gereja Katolik juga cukup membuatnya mumet. Namun, Mbak Kim tetap berusaha membacanya, dan syukurlah, bisa menikmatinya, dan bisa sampai tamat. Membaca itu berat, lantas kenapa Mbak Kim tidak membaca yang versi terjemahan Indonesia saja? Inilah hasil wawancara saya dengan blio.

Sumber gambar: Amazon

***

Kenapa Mbak baca The Name of The Rose versi bahasa Inggris? Padahal ada terjemahan Indonesianya, kan?

Ada pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Hmm, biar terlihat keren, Mbak? Atau Mbak nggak bangga sama bahasa sendiri?

Tidak ada hubungannya. Memilih baca buku berbahasa Inggris ketimbang versi terjemahan Indonesianya, apakah itu lantas berarti minim kebanggaan terhadap bahasa sendiri? Tidak, itu dua hal yang berbeda; dalam konteks pengalaman saya, tidak ada hubungan kausal antara keduanya.

Atau, Mbak takut kemampuan baca menurun karena baca versi bahasa Indonesia? Tahu nggak, sih, Mbak, kelakuan seperti Mbak inilah yang bikin bangsa Indonesia jadi bermental minderan!

Tidak ada hubungannya lagi. “Minderan”? Minder sama siapa? Jangan-jangan, Anda sendiri yang merasa begitu?! Bisakah kita pindah ke hal substansial? Sukanya kok berputar-putar membahas aksesori.

Apakah Mbak tahu kalau versi bahasa Inggrisnya itu pun terjemahan?

Pasti, dong. Sebelum memutuskan untuk membeli (apalagi membaca)-nya, saya melakukan “penyelidikan” dulu. Naskah aslinya ditulis Umberto Eco dalam bahasa Italia.

Lalu, kenapa nggak milih yang terjemahan bahasa Indonesia? Toh, sama-sama “terjemahan”.

Tidak bisa disamakan begitu saja, dong. Yang saya baca ini adalah terjemahan pertama (langsung dari bahasa aslinya) oleh William Weaver. Nah, kalau yang terjemahan Indonesia terbitan Bentang itu adalah terjemahan kedua, dari versi bahasa Inggris terbitan Minerva tahun 1992; diterjemahkan oleh Nin Bakdi Soemanto. Dalam proses penerjemahan, pasti ada yang “hilang” dan pasti terjadi “paralaks makna”. Itu tak bisa dihindari. Yang “hilang” ini akan semakin banyak, dan “paralaks makna” akan semakin besar, jika karya tersebut diterjemahkan bukan dari bahasa aslinya. Makanya, prinsip membaca saya, salah satunya adalah sebisa mungkin membaca suatu karya dalam bahasa aslinya. Namun, karena saya nggak bisa bahasa Italia, maka saya pilih terjemahan bahasa Inggris The Name of The Rose.

Tadi Mbak bilang bahwa baca The Name of the Rose ini “berat”. Namun, kenapa Mbak tetap membacanya?

Karena untuk menikmati keindahan alam dari puncak gunung, kita harus bersusah-payah jalan kaki menanjak selama berjam-jam dulu, Mbak. Dengan baca buku itu, saya bisa belajar bahasa Inggris lebih banyak, apalagi banyak kosakata yang baru bagi saya. Biar kemampuan berbahasa Inggris saya tidak lekas luntur (maklum, jarang digunakan secara lisan di sini). Oleh karena ini terjemahan pertama, maka pemahaman saya akan isinya mungkin sekali lebih akurat ketimbang jika saya baca terjemahan kedua, ketiga,...

Selain yang Mbak paparkan sebelumnya, apakah ada pertimbangan lain kenapa memilih versi terjemahan bahasa Inggris?


Ada. Sederhana saja alasannya: harganya lebih murah ketimbang versi terjemahan bahasa Indonesia. Saya dapat harga 65 ribu di Big Bad Wolf (ups, harga aslinya 7,99 EUR atau sekitar 135 ribu rupiah), sedangkan yang terbitan Bentang Pustaka edisi sampul baru terbitan tahun 2017 dibanderol 99 ribu. Dan, Anda mungkin juga tahu kalau buku-buku terbitan Indonesia sekarang trennya cenderung makin mahal.

Lalu, apakah ini berarti Mbak tidak mau membaca buku terjemahan Indonesia?

Duh, lagi-lagi Anda memaksakan hubungan kausal... Tidak begitu juga, dong. Saya tetap suka membaca terjemahan Indonesia. Ada beberapa terjemahan Indonesia yang saya sukai, misalnya seri Harry Potter terjemahan Listiana Srisanti. Saya juga memilih mengoleksi versi bahasa Indonesianya, karena sampul barunya cantik sekali (padahal harga buku ketiga sampai ketujuhnya lebih mahal ketimbang versi asli berbahasa Inggris terbitan Bloomsbury edisi paperback terbitan tahun 2014).

Lihatlah harga yang mencekik ini, Saudara-saudara!
Dan Mbak Kim masih harus melengkapi koleksinya dengan buku ketujuh, yang harganya "berkepala" tiga!
Sumber gambar: Gramedia
Ini versi Bloomsbury yang Mbak Kim maksudkan.
Sumber gambar: Pinterest
Saya juga suka A Game of Thrones terjemahan Barokah Ruziati, juga cerpen-cerpen terjemahan Maggie Tiojakin. Untuk beberapa buku nonfiksi, saya lebih nyaman membaca versi terjemahan Indonesianya, seperti Sejarah Tuhan terjemahan Zaimul Am. Beberapa novel terbitan Spring juga bagus terjemahannya, seperti The Girl on Paper, yang diterjemahkan oleh Yudith Listiandri.

Namun, saya sering menjumpai terjemahan Indonesia yang ambyar. Itulah alasan mengapa saya berhati-hati dalam memilih buku terjemahan Indonesia. Misalnya, yang beberapa bulan lalu saya baca (dan akhirnya saya memutuskan untuk berhenti membacanya sebelum tamat karena saya tak kuat--terjemahannya terlalu!), Second Sex: Kehidupan Perempuan terbitan Narasi, terjemahan Nuraini Juliastuti. Banyak bagian yang bikin saya gagal paham, antara lain karena pemilihan kata tidak sesuai konteks. Diperparah dengan ejaannya tidak disempurnakan, seperti banyaknya tanda titik hilang dan malah menyelip ke tempat yang tidak seharusnya.

Sumber gambar: Goodreads
Jadi, terjemahan Indonesia yang bagus itu yang seperti apa, Mbak?

Ya, yang seperti beberapa judul buku yang saya sebutkan tadi. Terjemahan yang kalau dibaca rasanya tidak seperti terjemahan; seolah-olah karya tersebut memang aslinya ditulis dalam bahasa Indonesia.

Antara buku berbahasa Inggris dan terjemahan Indonesia, Mbak pilih yang mana?

Lho, kok Anda malah mundur ke titik awal pembahasan? Kita sudah sampai sini, lho. Sudah saya jabarkan mengapa untuk kasus tertentu saya memilih versi bahasa Inggris, dan kenapa untuk kasus lain saya pilih versi terjemahan Indonesia. Tidak bisa “pilih yang mana antara keduanya” karena untuk tiap kasus saya punya pertimbangan-pertimbangan tertentu yang spesifik. Tak mustahil juga untuk satu judul karya saya membaca versi bahasa Inggris juga versi Indonesianya.

Bagaimana kalau wawancara ini saya beri judul “Buku Berbahasa Inggris versus Terjemahan Indonesia: Sudut Pandang Seorang Pembaca”?

Wah, jangan seperti itu. Mengapa keduanya harus diversuskan?

***

Demikianlah, akhirnya kata “versus” saya ganti menjadi “dan”. Semoga terjemahan-terjemahan Indonesia meningkat terus kualitasnya sehingga memuaskan para pembaca yang pemilih dan kritis seperti Mbak Kim tersebut. Dan semoga tak ada lagi pertanyaan “pilih mana antara versi bahasa Inggris atau versi terjemahan Indonesia” tanpa batasan yang spesifik dan jelas. Kalau tidak, pembahasan itu tak akan ke mana-mana, mungkin hanya akan berakhir jadi debat penuh emosi (kecuali kalau memang sengaja mau memancing emosi dan sensasi). Biar viral, katanya. Ah!

Ah, terakhir, mungkin Anda semua perlu tahu bahwa wawancara tersebut adalah wawancara dengan diri saya sendiri yang berlangsung di dalam pikiran. Hihihi.[]

10 March 2018

Untuk Apa Surga Diciptakan? (Sebuah Resensi atas "Puya ke Puya" karya Faisal Oddang)


Kenapa surga diciptakan?
Surga diciptakan karena…
(hlm. 3)

Faisal Oddang menyuguhkan padaku
semangkuk sup yang sangat tidak enak,
tapi terpaksa kulahap juga karena aku kelaparan dan
itu satu-satunya makanan yang bisa kudapatkan.

(Allu bukanlah Soe Hok Gie, jelas. Ia, yang awalnya kukira mahasiswa aktivis yang menolak dibukanya tambang nikel demi memperjuangkan apa yang dia yakini, ternyata melakukan itu atas suruhan orang yang memberinya uang.

Allu adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang berjuang menyelesaikan skripsinya. Namun suatu hari, tibalah padanya kabar tentang meninggalnya Ambe—ayah—lewat suara Indo—ibu—di telepon. Betapa hatinya seakan rontok begitu saja: ia telah berjanji pada Ambe untuk jadi sarjana tahun itu, tapi Ambe keburu tiada untuk dapat menyaksikan ia diwisuda. Penderitaan itu diperparah oleh keberangkatan dosen pembimbing skripsinya ke luar negeri untuk melanjutkan studi.

Skripsinya terbengkalai. Bagaimanapun, yang terpenting saat ini adalah ia harus kembali ke tanah kelahirannya, sebagai satu-satunya keturunan Ambe. Ia harus membuat keputusan. Keputusan-keputusan berat berkaitan dengan kematian Ambe dan masa depan nama baik keluarga besar Ralla.

… untuk sampai ke surga,
Ambe harus diupacarakan,
dipotongkan puluhan kerbau dan ratusan babi.
Hal itu tidak mudah, tetapi demi derajat dan adat,
sebagai keturunan bangsawan—tana bulaan
Ambe harus melakukannya, lagi-lagi itu kata Ibu Pohon.

(Maria, hlm. 12)

Untuk melaksanakan upacara rambu solo itu, tentu tak sedikit uang yang dibutuhkan. Sebagai mahasiswa kritis, Allu tak setuju untuk melaksanakan adat itu, yang dianggapnya tidak relevan lagi dengan situasi masa kini. Sementara itu, anggota keluarga besar memaksa agar upacara itu tetap diadakan. Kalau tak ada rambu solo, martabat kerabat akan tercoreng. Keluarga bangsawan, pemimpin adat meninggal kok tak ada rambu solo. Apalagi telah terbukti bahwa adat tersebut selama ini menimbulkan masalah; ia menyebabkan orang hidup dalam lingkaran utang, di bawah bayang-bayang “harga diri”.

Lihatlah, begitulah adat membuat rasa pamrih,
begitulah adat secara halus menanamkan paham
tidak ada yang gratis di dunia ini.
Bahkan tenaga harus dibayar—
di masyarakat tradisional yang masih jauh dari
individualisme masyarakat kota.

(Allu, hlm. 136)

Di perutku sup itu bergolak.
Aku gelisah.
Ia seperti ingin keluar tapi
aku harus menahannya agar perutku tetap terasa kenyang.

(Seperti dalam novel Saman, aku menyaksikan kembali perebutan lahan warga lokal oleh perusahaan [bersama pemerintah dan/atau bersama militer]—kali ini adalah perusahaan tambang nikel. Dulunya Ambe menolak keras masuknya pertambangan ini di kampung mereka, sementara Allu mendukung Ambe dari Makassar dengan bantuan teman-teman mahasiswanya. Tapi, akhirnya para warga menurut saat Pak Kades turun tangan untuk melicinkan masuknya tambang itu.

Di sini, aku teringat akan Salim Kancil, yang darahnya merembesi pasir Pantai Watu Pecak dan suara-suaranya tak akan mati meski ia telah mati.

Pada akhirnya, karena tertekan oleh sana-sini, Allu akhirnya menentang Indonya dan diam-diam menjual tanah milik keluarga pada perusahaan serta tongkonan mereka yang akan dihancurkan. Memang, Allu mendapat sejumlah banyak uang. Tapi perusahaan melakukan itu dengan jebakan licik dan menyakitkan. Namun Allu memang bukanlah seorang pahlawan. Dengan mudah, ia malah masuk dan tinggal dalam jebakan itu: cinta, lalu sakit hati dan rasa kecewa begitu merasukinya hingga ia melakukan hal yang kuharap tak ia lakukan.

Aku kecewa, pemuda kritis seperti Allu berakhir begitu.

Aku terenyak; ekspektasiku tergugu. Bukankah kebanyakan dari kita juga begitu: bukan seorang “pahlawan”? Dan tak bisa disangkal, kita bukannya tak butuh uang. Bagi kebanyakan dari kita, memastikan makanan selalu tersedia di rumah barangkali lebih utama ketimbang berdemonstrasi di depan istana negara menyuarakan ketidakadilan dengan risiko-risiko, salah satunya: ketidakpastian.
Aku terenyak lagi. Aku kesal tapi, sial sekali, aku tetap tak bisa begitu saja menyalahkannya.)

Sup itu naik ke kerongkonganku.
Cairan kentalnya menjelma juluran
tangan-tangan dan mencekikku.

(Di dalam sup pahit bernama Puya ke Puya ini, Faisal bermain-main dengan racikan bumbunya. Ia menggunakan beberapa sudut pandang berganti-ganti, dengan mekanisme pergantian yang unik. Termasuk di antaranya adalah sudut pandang roh gentayangan Maria dan roh gentanyangan Ambe. Maria, adik Allu, telah meninggal sejak bayi dan dimakamkan dalam tubuh pohon tarra—makam passiliran.

Katanya lagi, aku tinggal menunggu tubuhku
dihancurkan batang pohon,
menyatu bersama getahnya yang kami susui,
menyatu dengan ranting, menjadi daun, lalu kering,
lalu jatuh kembali ke tanah, kembali ke asal,
dan kembali ke surga.

(Maria, hlm. 11)

Dari kisah Maria inilah, aku mengetahui kisah tentang kehidupan di dalam makam passiliran; tentang dalih “kesucian yang harus dijaga” yang malah menghalangi percintaan antara dua remaja—apakah percintaan memang sebegitu menakutkannya hingga harus disensor sedemikian rupa agar tak meracuni mereka yang dianggap “belum cukup umur”?; tentang peristiwa pencurian fosil bayi dari dalam tubuh tarra demi dijual dengan harga yang tinggi untuk membiayai rambu solo. Betapa ironis!

Sementara itu, roh gentayangan Ambe dilanda kegalauan tiada akhir, yang makin parah ketika mendapati kondisi keluarga besar Ralla makin kacau. Betapa seorang arwah tak gundah setengah mati (padahal ia sudah mati) ketika menyadari bahwa kematiannya hanya akan menyisakan beban besar bagi keluarga yang ia tinggalkan. Terlebih, di sisi lain, ia tak bisa memungkiri bahwa ia sendiri pun ingin diadakan rambu solo agar bisa “tiba di surga selayak bangsawan, menunggang kerbau belang diiringi ratusan babi dan puluhan kerbau lainnya” (hlm. 31).

Dulu, aku pernah berharap untuk menjadi To Membali Puang
menjadi dewa, ketika kelak tiba di surga.
Aku ingin, bahkan sampai saat ini
aku masih diam-diam memeram keinginan itu.

(Ambe, hlm. 32))
Tangan-tangan sup itu mencekikku
dan aku tak kunjung mati.

(Sampai akhir, seperti para arwah yang telah menuju puya, dan tetap tak bisa menjawab…, aku terenyak. Ternyata aku pun tetap tak bisa menjawab.

“Untuk apa surga diciptakan?”

Mengapa surga diciptakan jika keberadaannya malah menghancurkan kehidupan orang-orang yang masih hidup di bumi? Mungkin, mungkin, karena yang “menciptakan” surga itu adalah manusia sendiri...

Ah, Faisal Oddang, kau menanyakan pertanyaan yang sulit sekali.

Terus terang, kupikir novel ini lebih baik dibandingkan Di Tanah Lada dan Napas Mayat, juara kedua dan ketiga sayembara novel DKJ 2014.)

identitas buku

Judul: Puya ke Puya
Penulis: Faisal Oddang
Editor: Christina M. Udiani
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan: II, Agustus 2016
Tebal: xii + 218 halaman
ISBN: 978-602-424-126-1
Harga: Rp 50.000,00

10 February 2018

Perkenalan Pertama dengan Soe Hok Gie

Judul: Zaman Peralihan || Penulis: Soe Hok Gie
Editor: Stanley & Aris Santoso
Tebal: 308 halaman || Penerbit: Labirin
Terbit: Cetakan I, April 2017
ISBN: 978-979-947-1208

Harga: Rp 100.000,00
Hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka.
(Soe Hok Gie)

Pemuda Kritis dengan Hati dan Kepala yang Sama Besarnya

Halo, Soe Hok Gie. Dari tulisan-tulisanmu yang terkumpul dalam buku Zaman Peralihan, aku mengenalmu sebagai pemuda yang sangat idealis, kritis, dan berani menanggung konsekuensi atas pemikiran-pemikiran kritisnya. Uniknya, kau tak hanya tajam di ranah pemikiran, tapi juga tajam di ranah tindakan dan kepekaan sosial. Kau seorang pemikir yang kritis sekaligus seorang populis. Kepala dan hatimu sama "besar"-nya, dan tanganmu melakukan aksi nyata. Kau gemar menerapkan dan menguji pengetahuan akademis yang kaumiliki di kehidupan nyata di tengah masyarakat. Tak hanya berhenti di situ, kau menyuarakan dengan lantang isu-isu yang kautemukan di tengah masyarakat kepada pemerintah.

Di zaman peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru, pemikiran kritis yang kautuangkan lewat tulisan-tulisan di media massa membuatmu dikenal secara luas. Kau tak ragu-ragu mengkritik pihak-pihak yang kau nilai melakukan hal yang tidak benar dengan menyebut nama mereka terang-terangan. Kau berani mati, ya? Bahkan kau tak ragu mengkritik teman-temanmu sesama aktivis, yang pada masa peralihan itu banyak beralih menjadi birokrat dan hidup dalam kenyamanan dari segi materi. Mereka berdalih bahwa harus ada para pemuda aktivis yang menjadi birokrat agar bisa berperan dalam menyetir perpolitikan dan birokrasi ke arah yang lebih berpihak pada rakyat. Tapi, pada akhirnya malah mereka yang “tersetir” hingga lupa akan visi-misi perjuangan kalian. Sementara kau, kau berprinsip bahwa kau harus tetap berada di luar arus birokrasi itu agar bisa tetap objektif.

Bangsa yang Susah Move On

Begitu membaca tulisan-tulisanmu di buku ini, aku tahu bahwa kau anti-komunis dan anti-pemerintahan Soekarno. Setelah membaca tulisan-tulisanmu berikutnya, aku memahami kenapa kau begitu. Rasa nasionalismemu begitu tinggi, maka kau anti-komunis karena kau menganggap mereka telah dan akan mengacaukan persatuan dan kesatuan bangsa. Kau anti-pemerintahan Soekarno karena mereka korup dan tidak bisa menjalankan pemerintahan dengan benar. Oleh karena itu, kau secara aktif terus mengkritisi mereka dan menyambut dengan optimis munculnya pemerintahan Orde Baru. Kau yakin Soeharto akan jadi pemimpin yang lebih baik daripada Soekarno di masa akhir pemerintahannya. Akan tetapi, kau tetap kritis terhadap pemerintahan Orde Baru. Stanley Adi Prasetyo, dalam tulisannya yang termaktub di buku Soe Hok-Gie Sekali Lagi, mengungkap bahwa kau mengutuk keras tindakan pemerintah Orde Baru dalam pembunuhan orang-orang PKI pasca-G30S.

Ternyata pemerintahan Orde Baru tidak lebih baik daripada Orde Lama. Salah satu contohnya adalah dalam hal pelarangan membaca buku-buku tertentu bagi mahasiswa dan pelarangan terbit buku-buku tertentu, seperti yang kautulis di halaman 142-144. Pelarangan itu telah berlangsung sejak pemerintahan Soekarno, dan setelah pemerintahannya tumbang dan digantikan oleh Soeharto, ternyata keadaan tak jauh berbeda. Buku-buku tersebut tetap dilarang terbit. Meski begitu, kau tetap optimis, bahwa suatu saat nanti tak akan ada lagi buku yang dilarang terbit.
Barangkali mimpi-mimpi saya tak pernah akan terlaksana. Tetapi dengan kerja keras, mimpi-mimpi tadi mungkin akan terlaksana.
(hlm. 145)
Lihatlah, sekarang mimpimu itu sudah tercapai, meski belum seluruhnya. Masih terjadi hal seperti, buku tentang PKI, komunis, atau yang judulnya ada "Tan Malaka"-nya, tiba-tiba saja tak bisa kami temukan di toko buku tertentu. Mengapa? Bagaimana? Yah, rupanya bangsa kita ini susah sekali move on, Soe. Sudah berapa lama bukan kanak lagi—mengutip Chairil Anwar—tapi masih saja menyimpan paranoia berlebihan dan tak berdasar terhadap apa pun yang berbau komunisme. Benar katamu, "...perjuangan melawan prasangka memerlukan waktu yang lama." (hlm. 250).

Melihat Indonesia dari Dekat dan Menemukan Kembali Indonesia dari Jauh

Bangsa yang besar adalah bangsa yang sehat tubuhnya. Pemuda-pemuda sakitan tidak mungkin menyelesaikan tugas-tugas pembangunan. Dan untuk itulah saya selalu mau membawa rombongan mendaki gunung.
(hlm. 58)
Mendaki gunung, menurutmu adalah salah satu cara untuk melihat Indonesia lebih dekat lewat alam dan masyarakatnya. Dari situ, akan timbul rasa cinta yang makin dalam terhadap bangsa. Dalam Zaman Peralihan, kau menuliskan pengalamanmu mendaki Gunung Slamet. Kau juga mencetuskan ide pembentukan organisasi Mapala UI. Tak hanya melihat Indonesia dari dekat, kau juga berkesempatan menemukan kembali Indonesia dari jauh, saat kau tinggal di Amerika Serikat.
Dan 'anehnya' saya merasa bahwa saya lebih mengerti 'Indonesia' setelah saya ada di negeri yang jauh.
(hlm. 228)
Kala kau menyaksikan segregasi antara kaum kulit hitam dan kulit putih di AS, kau bersyukur menjadi orang Indonesia. Indonesia dan ke-bhineka-annya yang dipersatukan oleh semangat yang sama untuk merebut kemerdekaan.
Di New York saya menjadi 'sadar' betapa berharganya warisan kebudayaan kita. Dan rasa bangga sebagai orang Indonesia timbul karena kita merebut kemerdekaan dengan darah.
(hlm. 229)
Dari situ, nasionalismemu terlihat nyata, terlebih ketika kau bertemu dengan tokoh kaum Tionghoa di AS yang sangat ingin menunjukkan ke-Tionghoa-annya di tengah masyarakat AS yang multikultur. Kepadanya kauutarakan pendapatmu yang berseberangan dengan pandangannya.
Saya adalah orang yang mempunyai ide-ide yang berbeda dengan kalian. Bagi generasi muda keturunan Tionghoa di negeri saya, persoalan pokoknya adalah bagaimana mereka dapat mengasimilasi dirinya ke dalam masyarakat mayoritas.
(hlm. 267)
Masyarakat apa yang kalian cita-citakan lima puluh tahun yang akan datang, jika keturunan Eropa memelihara keeropaannya, keturunan Afrika memelihara identitas hitamnya, dan kalian mempertahankan identitas ke-Tionghoa-an?
(hlm. 267)
Namun, Soe, meski kita membangga-banggakan semboyan "bhineka tunggal ika", kau harus mengakui bahwa persatuan masyarakat kita ini bak balon yang digelembungkan berlebihan dan dibiarkan terbang tanpa tali yang mengajaknya tetap membumi. Ia akan terpapar panas matahari dan cepat atau lambat akan meletus. Keindonesiaan ini mungkin cuma di permukaan saja. Sedikit tersenggol unsur SARA, langsung meledak-ledaklah kita atas nama kelompok. Namun memang tak kupungkiri bahwa, meski langka, tetap ada orang-orang sepertimu yang memegang teguh identitas keindonesiaan di atas identitas kelompok apa pun.

Terakhir, tahukah kau bahwa sosokmu terus menginspirasi para pemuda Indonesia? Bahwa kata-katamu yang kautuliskan bertahun-tahun lalu masih dan mungkin akan terus sering dikutip di mana-mana. Namun, aku entah bagaimana, percaya kalau kau tak akan marah karena kata-katamu dijadikan kepsyen foto selfie anak-anak muda di Instagram (yang sering tidak nyambung dengan kata-katamu).[]

bloggerwidgets