22 February 2017

BBI Share the Love - The Unperfect Life Versi Putri Utama



Di dalam buku-buku romance, lazim sekali kita temukan para hero dan heroine-nya memiliki segala kesempurnaan sebagai manusia. Ganteng/cantik, kaya, berpendidikan tinggi, keturunan bangsawan, dan berkepribadian baik. Ada juga buku romance yang menuliskan cerita tentang hero dan heroine yang menderita penyakit. Biasanya penyakit yang lazim ditulis adalah kanker atau masalah jantung.
Namun selalu saja ada buku-buku romance yang mengambil sisi di luar pakem yang lazim. Dan dalam postingan ini saya ingin membahas tentang buku-buku romance yang para hero dan/atau heroine-nya tidak memiliki kesempurnaan fisik, atau menderita penyakit yang tidak lazim.

1. The Truth About Forever – Orizuka

(baca review saya di sini)
Yoga, sang tokoh utama cowok dalam buku ini dikatakan menderita suatu penyakit. Saya benar-benar menduga penyakit yang dipilih Orizuka adalah penyakit yang lazim. Namun ternyata AIDS menjadi pilihan. Acungan jempol buat Orizuka yang mau menuliskan penyakit yang tak biasa ini menjadi penyakit yang diderita Yoga. Jarang ada yang memilih AIDS sebagai penyakit dalam buku romance.

2. Me Before You – Jojo Moyes

(baca review saya di sini)
Will, seorang eksekutif muda yang akhirnya menderita quadriplegia/tetraplegia yaitu suatu kelumpuhan pada keempat anggota gerak atas dan bawah karena sakit atau kecelakaan. Akibat tetraplegia yang diderita Will akhirnya Will harus menjalani sisa hidupnya di atas kursi roda dan membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan aktivitas harian yang memang sudah terbatas.

3. How I Fall – Anne Eliot

(baca review saya di sini)
Sama seperti Will yang menghabiskan hidupnya di atas kursi roda, Jess pun menghabiskan hidupnya hidupnya di kursi roda karena Cerebral Palsy yang dideritanya. Tapi meski mengalami keterbatasan gerak, Jess jago dalam hal yang lain. Fotografi merupakan keahlian Jess yang sangat dikuasainya.

4. I For You – Orizuka

(baca review saya di sini)
Cessa, si anak baru di SMU tempat Surya bersekolah diperlakukan layaknya seorang putri kerajaan, manja dan tak pernah bisa lepas Benji, ternyata menderita kelainan darah Von Willebrand Disease yaitu penyakit kelainan platelet darah yang menyebabkan luka lambat menutup tak seperti orang normal. Karena penyakitnya itu Cessa selalu butuh Benji berada di sampingnya karena Benji merupakan donor utama bila Cessa membutuhkan donor darah.

5. Blue Skies – Catherine Anderson

Dalam buku ini Carly, sang heroine, dapat kembali melihat setelah menjalani operasi karena dia menderita lattice dystrophy, suatu kelainan pada kornea mata. Karena sebuah perkenalan dengan Hank Coulter di sebuah bar yang berakhir pada one-night-stand, beberapa bulan kemudian Carly pun ketahuan hamil dan hal ini sangat berisiko karena Carly dapat menjadi buta kembali. Hank yang merasa bersalah berusaha meminta Carly untuk menikahinya.

6. Phantom Waltz – Catherine Anderson

(baca review saya di sini)
Ryan, koboi ganteng, memesona, orang kaya berat yang jatuh cinta pada Beth sejak pertama kali dirinya melihat Beth di toko perkakas milik ayah Beth. Segera saja Ryan mengajak Beth berkencan. Dan setelah mengetahui bahwa Beth menderita paraplegia, suatu kelumpuhan anggota gerak bawah, yang menyebabkan dirinya harus berada di kursi roda seumur hidupnya, Ryan semakin keukeuh mendekati Beth.

Honorable Mentions:
  1. Maybe Someday – Colleen Hoover
  2. Annie’s Song – Catherine Anderson
Hanya 6 buku romance yang terpikirkan oleh saya yang masuk dalam kategori “The Unperfect Life” versi saya. Kamu boleh, loh, menambahkan buku-buku romance yang tokohnya memiliki kondisi fisik tidak sempurna atau menderita penyakit yang tidak biasa.

21 February 2017

BBI Share The Love - Young Adult yang Bebas Adegan 17+ Versi Putri Utama

Fiksi young adult (YA) adalah genre fiksi yang diterbitkan untuk pembaca antara usia 15 hingga awal 20 tahunan. Sementara untuk children literature untuk pembaca usia lebih muda, yaitu di bawah 15 tahun, dan new adult untuk pembaca diusia pertengahan 20 tahun. Kalau mau singkatnya, fiksi young adult untuk para pembaca usia SMU hingga awal kuliahan.

Rata-rata cerita YA memiliki inti seputar pencarian jati diri, pencarian kehidupan baru di luar rumah / orangtua, pencarian tentang mimpi dan rencana masa depan, dan tentu saja tentang cinta pertama, bahkan tak jarang tentang ciuman pertama.

Bicara tentang cinta para remaja di buku YA, sering kali ditemui para tokohnya sudah melakukan hubungan intim yang tidak sesuai dengan usia mereka dengan kekasih atau orang lain. Deskripsi hubungan intim di buku YA diutarakan secara eksplisit maupun implisit.

Sebagai pembaca YA, saya sangat tidak setuju akan adanya hubungan intim di dalam buku-buku bergenre tersebut. Karena bagi saya, hubungan intim itu hanya boleh dilakukan oleh orang dewasa yang hidupnya sudah bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Jadi tidak tepat dilakukan oleh anak sekolah yang secara finansial hidupnya masih ditopang oleh orangtuanya. Uang jajan saja masih minta pada orangtua, kok ya sok berperilaku layaknya orang dewasa dengan melakukan hubungan intim.

Di postingan ini saya akan menuliskan beberapa buku YA yang bersih dari adegan 17+. Bersih dalam artian hanya sebatas ciuman bibir yang tidak terlalu heboh dan tidak ada aksi grepe-grepe (bahasa apa pula ini?). Namun ternyata sulit mencari buku YA yang masuk dalam kategori bebas adegan 17+. Berikut ini adalah beberapa dari antaranya. 

1. Almost - Anne Eliot

Resensi saya bisa dibaca di sini.
Bercerita tentang Jess Jordan, remaja cewek yang mengalami trauma karena hampir diperkosa saat tahun juniornya di SMU. Karena ingin kuliah jauh orangtuanya, Jess harus meyakinkan orangtuanya kalau dirinya sudah bebas dari traumanya. Jess pun menyusun rencana dengan bekerja part time pada saat libur musim panas dan mempunyai pacar, meski hanya pacar pura-pura.

2. Unmaking Hunter Kennedy - Anne Eliot

Resensi saya bisa dibaca di sini.
Masih dari Anne Eliot. Abaikan saja covernya yang bikin kipas-kipas. Toh nyatanya buku ini bersih dari adegan panas seperti covernya. Sama seperti Almost, adegan paling pans di buku ini hanya ciuman yang dilakukan di depan orangtua. Buku ini bercerita tentang Vere, cewek yang agak sedikit aneh yang ketiban durian runtuh mendapat tetangga dan teman sekolah baru yang merupakan seorang penyanyi remaja terkenal bernama Hunter Kennedy yang sedang menyamar. Hunter datang ke kota Vere untuk belajar mengendalikan amarah dan menyembuhakn depresinya.

3. How I Fall Series - Anne Eliot

Resensi saya bisa dibaca di sini.

Lagi-lagi dari Anne Eliot. Cerita buku ini sangat istimewa. Tentang seorang remaja cewek penderita cerebral palsy bernama Ellen dan cowok teman sekolahnya bernama Cam. Meski saya belum membaca lanjutan dari How I Fall tapi berdasarkan pengalaman, buku-buku Anne Eliot, lanjutan dari How I Fall pastilah bersih dari adegan 17+.

4. Fairy Bad Day - Amanda Ashby

Agak sedikit sulit membayangkan anak sekolah yang berprofesi sebagai para pemburu makhluk-makhluk supranatrural, seperti peri dan naga, malah sibuk dengan urusan-urusan percintaan. Terlebih sang heroine, Emma, sangat membenci sang hero, Curtis, karena mengambil posisi Emma sebagai pembasmi naga dan Emma malah dijadikan sebagai pembasmi naga yang nggak banget.

5. There You'll Find Me - Jenny B. Jones

Selain bergenre YA, buku ini juga bergenre christian fiction, jadi tidak mungkin ada adegan 17+ dalam buku ini. Buku ini bercerita tentang Finley yang melakukan napak tilas perjalanan sang abang yang telah meninggal dunia sewaktu sang abang berada di Irlandia.

6. Roadside Assistance - Amy Clipston

Sama seperti There Youll Find Me, selain bergenre Young Adult buku ini juga bergenre Christian Fiction. Bercerita tentang Emily yang memulai kehidupan baru bersama sang ayah paska kematian ibu Emily. Kini Emily dan ayahnya tinggal di rumah adik ayah Emily, setelah kematian ibunya Emily merasa semakin jauh dari Tuhan. Syukurnya ada cowok ganteng tetangga baru Emily yang selalu setia mendampingi Emily meski Emily sering menolaknya.

7. The Lorien Legacies - Pittacus Lore

Cerita tentang alien-yang-sangat-mirip-manusia yang datang ketika mereka masih bayi dan menginvasi bumi karena planet mereka telah dihancurkan oleh pihak Setrakus Ra. Para alien itu datang ke bumi untuk bersembunyi dan menyusun kekuatan untuk mengambil alih kembali planet mereka. Seingat saya, adegan paling kipas-kipas di serial ini hanya adegan ciuman antara Four dan Sarah.

8. The Maze Runner Series - James Dashner

Resensi saya bisa dibaca di sini.

Hadirnya sosok Belinda dan Teresa sebagai dua cewek diantara sekumpulan cowok-cowok yang berusah mencari Dunia Baru yang bebas dari wabah flare, tidak menjadikan serial ini menjadi buku yang penuh dengan adegan-adegan 17+. Malah yang ada buku ini dipenuhi oleh adegan-adegan seru, saling kejar-kejaran, dan membuat deg-degan karena penasaran akan nasib para gladers.

9. The Hunger Games Series - Suzanne Collins

Resensi saya bisa dibaca di sini: The Hunger Games, Catching Fire, Mockingjay.

Meski Hollywood menggambarkan adanya kisah cinta segitiga yang cukup kental dalam serial ini, sesungguhnya bukunya tidak seperti itu. Buku yang menggambarkan perjuangan Katniss beserta para penduduk di hampir semua distrik yang dikuasai Capitol dalam membebaskan distrik mereka dari cengkraman kekejaman Presiden Snow, hanya memiliki adegan ciuman yang bisa dikatakan biasa saja.

Yup... hanya segitu saja buku-buku YA yang bersih dari adegan 17+ yang berhasil saya ingat. Kalau kamu tahu buku lainnya sampaikan saja di kolom komentar, ya. Biar menjadi pilihan saya ketika mencari bacaan YA nantinya.

XOXO,
Putri Utama

Tanggapan Saya

Sebenarnya saya masih agak bingung terkait rentang umur yang disasar genre YA, karena kayaknya rentang YA di Barat dan di Indonesia beda. Ya, nggak, sih? 😕 Well, apapun itu, yang jelas saya mau mengucapkan terima kasih pada Putri karena telah memperkaya daftar novel YA yang patut saya baca karena bebas dari adegan 17+ (njir, sok banget, padahal aslinya ngarep ada adegan 17+-nya 😝). Terlebih, dari buku-buku yang disebutkan Putri di atas, ada satu (setidaknya satu, lah, ya) yang sudah saya baca, yaitu trilogi The Hunger Games. Lainnya, saya baru dengar judul buku-buku itu. Di Goodreads, rating buku-buku yang disebutkan Putri tersebut bisa dibilang bagus-bagus, saya jadi pengin baca.

Guest post dari Putri masih akan ada lanjutannya, lho. Jadi tetap ikuti postingan BBI Share The Love ini, ya 💓

18 February 2017

Serendipiturday #3 - Hujan Bulan Juni Bikin Nggak Takut Baca Buku Puisi



frida keranjingan puisi (meminjam judul kumpulan cerpen gunawan tri atmodjo)

Entah mulai kapan tepatnya, saya keranjingan puisi. Keranjingan puisi lagi, maksud saya, karena pertama kali saya mulai menulis waktu SMP dulu, yang saya tulis adalah puisi. Saya belajar menulis pertama kali lewat puisi. Nah, sudah lama, saya fokus ke cerpen, resensi, dan novel. Selama ini pula, buku kumpulan puisi yang saya baca baru dua, karya Taufik Ismail dan Sutardji Calzoum Bachri, yang saya pinjam dari perpustakaan SMA, dulu. Saya merasa sayang kalau harus beli buku kumpulan puisi. Alasannya tidak sastrawi, sih, semata-mata karena buku kumpulan puisi biasanya tipis sekali. (Ya, ya, saya tahu, tidak semua buku puisi tipis sekali.) Kalau tidak salah, saya mulai keranjingan puisi lagi sejak mulai lagi menulis puisi demi mengikuti tantangan #30haribercerita di Instagram.

Suatu siang, keluar dari Gedung Kompas Yogyakarta, saya berjalan kaki menyusuri Jalan Suroto untuk menghabiskan jam makan siang (karena saya sudah makan). Teringat di dekat situ ada Togamas, mampirlah saya ke sana. Tepat di hari Kamis (di Togamas Suroto ada diskon 25% untuk semua novel tiap Kamis, tapi waktu itu saya tidak beli novel). Semua Ikan di Langit belum ada di sana. Entah kenapa, tiba-tiba saya berkeinginan kuat untuk membeli sebuah buku puisi. Masalahnya, buku puisi yang mana? Sergius Mencari Bacchus tidak ada (saya sudah mencari-cari di rak sesuai dengan nomor yang saya dapati di mesin pencarian, tapi tidak ada). Penataan buku di Togamas situ memang kurang rapi. Saya selalu dibikin bingung olehnya. Lalu saya tertarik oleh Buku Tentang Ruang dan Perempuan yang Dihapus Namanya oleh Avianti Armand, tapi saya masih belum yakin. Berkelana di Goodreads, akhirnya saya mencomot Hujan Bulan Juni.

Sapardi adalah tokoh puisi legendaris Indonesia, dan bisa-bisanya saya cuma tahu satu puisinya (yang berjudul Aku Ingin itu). Sungguh, saya malu pada diri sendiri.
***

tentang hujan bulan juni

tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan juni

dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu


tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu


tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan juni

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu
(1989)

Seratus dua puisi bergandengan tangan membentuk garis waktu pengelanaan makna Sapardi dari tahun 1959 sampai 1994. Saya pikir, Hujan Bulan Juni cukup pas dijadikan judul buku ini, lantaran saya sering berpapasan dengan “nuansa hujan atau gerimis” di antara larik-larik puisi Sapardi, meski saya tidak tahu, itu hujan di bulan Juni atau bulan lain. Selain Hujan Bulan Juni, kalau saya tidak salah hitung, ada 17 puisi yang bicara tentang atau saat hujan.

Sebentar, saya bingung bagaimana meresensi buku puisi. Ini pengalaman pertama saya meresensi buku puisi.

Baiklah, barangkali saya akan mulai dari tema. Tema umum buku puisi ini barangkali adalah keabadian, yang digambarkan Sapardi dalam beberapa subjek dominan: kematian, spiritualitas, cinta, dan hujan. Yang paling dominan (sejauh pemaknaan saya yang cetek) adalah tentang kematian, yang banyak di antaranya ditulis Sapardi pada tahun 1959–1969 (saya belum tahu, apa yang dirasakan Sapardi di tahun-tahun itu). Selepas itu, sampai tahun 1994, cukup jarang puisi Sapardi berbicara tentang kematian, dibanding periode sebelumnya. Mengenai subjek ini, salah satu pesan yang saya tangkap, saat kematian bukanlah akhir melainkan awal dari perjalanan berikutnya. Dengan kata lain, kematian adalah pintu menuju keabadian. Pesan ini saya dapati dalam puisi Saat Sebelum Berangkat (1967), Cahaya Bertebaran (1970), dan Pada Suatu Hari Nanti (1991).

Cahaya Bertebaran
cahaya bertebaran di sekitarmu
butir-butirnya membutakan dua belah matamu
“sudah sampaikah kita?” tanyamu tiba-tiba. Lupakah
kau bahwa baru saja meninggalkan dermaga?

Barangkali, kematian digambarkan sebagai “cahaya bertebaran yang membutakan mata”. Kalimat terakhir, “Lupakah kau bahwa baru saja meninggalkan dermaga?” seolah twist. Pertanyaan yang menjawab pertanyaan dari seseorang yang mengira bahwa kematian adalah akhir.

Subjek berikutnya adalah spiritualitas. Kebanyakan puisi bersubjek spiritualitas (yang bisa saya tangkap) ditulis Sapardi pada tahun 1968. Puisi-puisi bersubjek ini berusaha merekam dan menyajikan aneka cara para tokohnya berbicara dengan sang Pencipta. Contohnya, dalam puisi Tuan (1980), yang hanya terdiri dari dua baris si tokoh “saya” seolah menghindar dari Tuhan.

Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar,

saya sedang keluar.

Membaca puisi tersebut, saya membayangkan percakapan itu berlangsung via telepon. Sebelumnya, si Tuan menelepon si Saya, tapi tidak diangkat. Mungkin si Tuan meninggalkan pesan suara untuk memberi tahu bahwa dia akan menemui si Saya di rumahnya.  Lalu, si Saya menelepon balik dan mengucapkan isi puisi itu. Barangkali sebenarnya dia ada di rumah, tapi sedang tidak mau ditemui si Tuan. Puisi ini seperti menyindir sambil tertawa (saya pun ingin tertawa membaca puisi yang terasa lucu ini). Kadang-kadang saya memang menghindari Tuhan. Meski keabadian Tuhan tak bisa dipungkiri, sehingga percuma saja menghindari.

Selanjutnya, puisi-puisi dengan subjek cinta. Izinkan saya menukil puisi Sapardi yang paling saya kenal, Aku Ingin (1989).

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu


aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Subjek “cinta” bisa diartikan cinta untuk kekasih, cinta untuk alam, cinta untuk Tuhan, cinta untuk apa saja. Biarkanlah saya mengartikannya cinta untuk kekasih. Puisi dua bait itu berisi dua alegori paralel yang menggambarkan bagaimana si “aku” mencintai “kamu” (kekasihnya) dengan cara yang ia sebut “sederhana”. Kayu bakar barangkali butuh waktu cukup lama sampai dia habis dimakan api. Dia terbakar, membara, lalu sedikit demi sedikit habis tanpa ia sadari. Oleh karena itu, ia tidak sempat mengucapkan selamat tinggal kepada api. Awan dan hujan serupa itu: butuh waktu bagi awan sampai ia selesai meneteskan tetesan air hujan terakhirnya sebelum ia lenyap. Cintanya begitu tulus seperti kayu yang bersedia dibakar habis oleh api, meski sakit. Kedua analogi itu melibatkan perubahan fisika: kayu menjadi abu dan awan menjadi air hujan. Oleh karena itu, kayu dan awan tidak benar-benar hilang, mereka hanya berubah wujud. Dengan kata lain, mereka—cintanya—abadi.
Selanjutnya, puisi-puisi dengan subjek hujan. Contohnya, yang menjadi salah satu favorit saya, adalah Percakapan Malam Hujan (1973). Saya suka puisi itu karena metaforanya sangat menggelitik.

Hujan, yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan payung,

                berdiri di samping tiang listrik. Katanya kepada lampu jalan,

                “Tutup matamu dan tidurlah. Biar kujaga malam.”

“Kau hujan memang suka serba kelam serba gaib serba suara desah;

                asalmu dari laut, langit, dan bumi; kembalilah, jangan

                menggodaku tidur. Aku sahabat manusia. Ia suka terang.”

Kenapa saya tergelitik:
(1) hujan digambarkan Sapardi “mengenakan mantel, sepatu panjang, dan payung”. Hujan berusaha melindungi diri dari dirinya sendiri?!
(2) hujan menyuruh lampu jalan untuk menutup mata dan tidur, padahal lampu jalan tidur sambil tetap membuka mata (lihat baris terakhir bait kedua).
(3) hujan dan tiang lampu lambang kontradiksi. Hujan mengesankan suasana kelam, dingin, suram, gaib/misterius: suasana yang ingin manusia hindari, tapi membuatnya tertarik. Sementara itu, lampu jalan mengesankan suasana terang: suasana yang ingin manusia dekati. Kedua hal tersebut saling bergantian ada dalam hidup manusia.

Puisi lain yang memiliki metafora yang menggelitik adalah Puisi Cat Air untuk Rizki (1975). Di puisi itu Sapardi menuliskan “hujan meludah di ujung gang”.

Kemudian, puisi-puisi yang belum bisa saya golongkan, mereka mewakili subjek apa? Salah satu dari golongan ini yang adalah favorit saya, adalah Pada Suatu Pagi Hari (1973).

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan

tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun

rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja

sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk

memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin

menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan

rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.

Puisi ini bicara tentang kesedihan. Kesedihan yang teramat dalam hingga hanya bisa dilampiaskan dengan cara “menangis lirih sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi”. Kenapa di pagi hari? Entahlah. Apa yang membuatnya sedemikian sedih? Entahlah. Mungkin saya perlu menghubungkannya dengan puisi lain untuk bisa menangkap maknanya. Nah, ternyata sebelumnya saya sudah pernah membaca puisi itu di cerpen apa ya, saya lupa. Duh!

Juga, Yang Fana adalah Waktu (1978) menjadi favorit saya.

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:

memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga

sampai pada suatu hari

kita lupa untuk apa.

                “Tapi,

yang fana adalah waktu, bukan?”

tanyamu. Kita abadi.

Puisi itu barangkali ingin mengatakan bahwa kita, saking terjebak rutinitas atau ambisi-ambisi, lupa untuk memaknai waktu yang kita gunakan sehari-hari. Kadang malah saya ingin seandainya sehari itu tidak cuma 24 jam. Mengapa rasanya waktu cepat sekali berlalu, padahal belum sempat saya menyelesaikan ini-itu? Nah, barangkali saya perlu berhenti sejenak.

Subjek-subjek yang sudah saya sebutkan itu tak jarang saling tumpang-tindih. Itu makin menunjukkan bahwa subjek-subjek itu berasal dari satu tema umum.

Dari sisi tipografi, puisi-puisi Sapardi dalam buku ini menurut saya rapi, konsisten, dan sederhana. Bisa dilihat, misalnya pada puisi yang sudah saya cantumkan sebelumnya, Aku Ingin dan Percakapan Malam Hujan. Keduanya sama-sama terdiri dari dua bait, tiap bait terdiri dari tiga baris, hanya saja di Percakapan Malam Hujan, baris kedua dan ketiga tiap bait ditulis menjorok ke dalam. Mayoritas puisi Sapardi ditulis seperti itu tampilannya. Yang agak dibikin “berantakan”, misalnya Ziarah (1967).
 
Sementara Hujan Bulan Juni dan Aku Ingin memiliki penggalan antarbaris yang teratur dan paralelisme antarbait, ada juga yang terdiri dari satu kalimat panjang dengan penggalan yang tak kentara, seperti Catatan Masa Kecil, 3 (1971), Bunga, 2, dan Telinga (1982).


***
Buku puisi ini telah mengubah paradigma saya yang melabeli dengan semena-mena buku puisi, bahwa ia tak cukup layak untuk saya beli karena biasanya sangat tipis. Sangat tipis, ya ampun, saya tidak percaya saya bisa sebegitu menghakimi. Dan memang benar, puisi tidak bisa menggantikan nikmatnya baca prosa. Kenikmatan baca puisi beda dengan kenikmatan baca prosa, dan kenikmatan yang berbeda itu punya keistimewaan sendiri-sendiri. Tak bisa dibanding-bandingkan apalagi saling menggantikan. Hujan Bulan Juni, yang saya beli karena iseng, membuat saya tak takut lagi untuk baca buku puisi. Selain itu, makna sajak-sajak Sapardi bisa dibilang masih cukup mudah dimengerti oleh pembaca awam (saya). Dia masih mengikat makna dengan kata-kata (tak seperti, puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri, misalnya, yang kebanyakan membebaskan kata dari makna, sehingga sulit sekali untuk saya pahami). Terima kasih, Sapardi. (Meski sayang, buku bersampul cantik ini isinya tak berilustrasi.)***
rating saya

identitas buku

Penyelia naskah: Mirna Yulistianti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: VIII, Agustus 2016
Tebal: xii + 120 halaman
Harga: Rp 68.000,00
ISBN: 978-979-22-9706-5

bloggerwidgets