10 August 2017

Terjemahan dan Pencernaan: "Kesialan Orang Lajang" & "Seorang Dokter Desa"

Catatan: tulisan ini pernah saya publikasikan di Instagram, saya publikasikan kembali di sini dengan beberapa perubahan.


Buku yang berjodoh dengan pembacanya akan menjamah kesadarannya pada waktu yang tepat.

Baru-baru ini aku mengalaminya. Bulan Juni kemarin, aku menemukan Seorang Dokter Desa di tumpukan teratas buku dalam salah satu ruangan. Malam sampai pagi hari itu aku sama sekali tak bisa tidur, padahal paginya aku ada wawancara kerja. Kucoba membaca cerpen yang berjudul sama dengan buku kumpulan cerpen itu, tapi tetap aku tak bisa tidur, padahal kelopak mata terasa berat.


Baca juga: Resensi "Seorang Dokter Desa"


Beberapa minggu setelah itu, aku selesai membaca Kesialan Orang Lajang, lalu iseng membuka kembali Seorang Dokter Desa--semata karena aku sedang ingin menyelami karya-karya Kafka. Mataku mengecupi daftar judul cerpennya, dan betapa gegar intelektualku--ada beberapa cerpen yang ternyata sama dengan yang ada di buku Kesialan Orang Lajang! Tak tertahankan, sesuatu dalam diriku ingin sekali membandingkan rasa terjemahan keduanya.


Mungkin karena diterjemahkan langsung dari bahasa Jerman, terbitan Oak ini terasa lebih gampang dikunyah dan ditelan. Beberapa bagian yang sulit kucerna di Kesialan Orang Lajang (rasanya seperti waktu konstipasi: perut muat-muat saja untuk makan dengan kuantitas biasa, tapi terasa tak enak), kucoba memamahnya lagi di Seorang Dokter Desa. Hasilnya, pencernaanku jadi lebih lancar.


Nah, kenapa begitu? Mungkin karena buku Kesialan Orang Lajang diterjemahkan dari bahasa Inggris, sehingga paralaks makna yang tercipta jauh lebih besar ketimbang yang terjadi pada buku Seorang Dokter Desa, yang langsung diterjemahkan dari bahasa aslinya, Jerman.

Baca juga: Resensi "Kesialan Orang Lajang"


Misalnya, dalam cerpen Pembunuhan Saudara di adegan terakhir, sebelum Schmar ditangkap oleh polisi, tertulis seperti ini di hlm. 53 (yang di dalam kurung siku adalah catatan saya):
Pallas, yang tersedak karena obat dalam tubuhnya, [obat, memangnya Pallas habis minum obat apa?] berdiri di pintu ganda rumahnya yang terbuka. "Schmar! Schmar! Aku melihat semuanya, aku tak melewatkan apa pun!" Pallas dan Schmar saling menyelidiki [menyelidiki, kupikir ada yang kurang pas dengan pemilihan kata ini]. Hasilnya memuaskan Pallas, Schmar tak menyimpulkan apa pun. [nah, "menyimpulkan" ini kupikir juga kurang pas]
Mari, kita bandingkan dengan terjemahan cerpen yang sama dalam buku Seorang Dokter Desa terbitan Oak, yang diterjemahkan langsung dari bahasa Jerman (dari hlm. 74):
Pallas, seolah sekujur badannya tercemar racun, berdiri di pintu rumahnya yang berdaun dua. "Schmar! Schmar! Aku melihat semuanya, dan tidak melewatkan apa pun." Pallas dan Schmar saling menatap satu sama lain. Itu membuat Pallas puas, namun Schmar tidak mengerti.
Nah, setelah membaca yang kedua, aku baru paham apa maksudnya. Dalam cerpen yang sama, aku menemukan kebingungan lain pada bagian berikut.


Ada perbedaan mencolok (bagian yang kutebalkan) antara kedua terjemahan tersebut. Pada terjemahan yang pertama, si tokoh "mengusapkan pisau itu bagaikan busur biola pada tapak sepatunya". Sementara itu, pada terjemahan yang kedua, si tokoh tidak mengusapkan pisau pada tapak sepatunya, tapi menggunakan sepatunya untuk membuat goresan--yang telah ia buat sebelumnya dengan pisaunya--itu "menjadi mirip busur biola".

Kemudian pada terjemahan yang pertama, pemilihan kata "di sisi jalan yang amat penting itu" kupikir agak janggal, terutama di bagian "yang amat penting". Pada terjemahan yang kedua, pemilihan kata "yang akan menentukan takdirnya itu" lebih jelas, cocok, dan mudah dipahami daripada terjemahan yang pertama.

Kasus yang berikutnya adalah pada cerpen Mimpi atau Sebuah Mimpi. Seperti yang kutampilkan di bawah ini, deskripsi pada terjemahan yang pertama cenderung lebih sulit dipahami ketimbang pada terjemahan yang kedua.


Berikutnya adalah cerpen Advokat Baru atau Si Pengacara Baru.


Perbedaan yang paling mencolok di antara kedua terjemahan adalah (selain pemilihan kata advokat dan pengacara) pada terjemahan yang pertama, disebutkan bahwa Bucephalus dulunya adalah prajurit Iskanda Agung/Aleksander Agung, sedangkan pada terjemahan yang kedua, disebutkan bahwa ia dulunya adalah kuda perang kesayangan sang raja tersebut. Menurut sejarah, Bucephalus memang adalah kuda perang Aleksander Agung.
Sumber: TIME
Dari terjemahan bahasa Inggrisnya (Franz Kafka: The Complete Stories terbitan Schocken Books tahun 1971), kalimat pertama adalah


We have a new advocate, Dr. Bucephalus. There is little in his appearance to remind you that he was once Alexander of Macedon's battle charger.


Bucephalus dulunya adalah "Alexander of Macedon's battle charger". Battle charger adalah "kuda yang digunakan untuk perang". Jadi, kupikir memang lebih cocok jika diterjemahkan menjadi "kuda perang" alih-alih "prajurit. Dalam fiksi mini ini Kafka menunjukkan transformasi yang entah bagaimana terjadinya, dari kuda perang menjadi pengacara. (Ingatkah kau akan "perubahan" Peter si Kera menjadi manusia dalam Pidato di Hadapan Sebuah Akademi?) Lebih dari itu, cerpen ini mengandung kegelisahan Kafka akan isu rasial (analisis yang menarik ini kutemukan di blog Simon Brilsby).

Namun, dalam cerpen Mengunjungi Tambang, ada bagian terjemahan yang pemilihan katanya kusukai, yaitu "mata yang mengisap segala sesuatu". Pemilihan diksi ini lebih kusukai ketimbang yang ada di terjemahan kedua.



Rasa yang berbeda juga kutemukan dalam cerpen yang dalam bahasa Inggris berjudul "Up in The Gallery". Sejak judul pun sudah sangat berbeda terjemahan yang pertama dan kedua. Di terjemahan pertama, cerpen ini berjudul "Di Galeri", sedangkan dalam terjemahan yang kedua ia berjudul "Di Balkon". Galeri dan balkon memiliki arti yang sungguh berbeda. Tapi dari bahasa Inggris "gallery" memang bisa diterjemahkan menjadi "galeri" maupun "balkon". Namun dalam konteks cerpen ini, kupikir lebih cocok menggunakan "balkon".


Menerjemahkan karya sastra bukanlah persoalan mudah, karena mempertimbangkan makna dan rasa seperti aslinya, juga apakah terjemahan itu mudah dicerna oleh pembaca. Apalagi jika bukan diterjemahkan dari bahasa aslinya--paralaks makna yang terjadi akan lebih besar ketimbang terjemahan dari bahasa asli. Oleh karena itu, sesungguhnya aku lebih memilih membaca versi bahasa Inggris dari karya sastra berbahasa lain yang aku tidak familiar.[ ]

4 August 2017

Kafka, Aku Hanyalah Orang Menyedihkan yang Berusaha Memahami Pesanmu

*Catatan: resensi ini pernah terbit di Instagram; diterbitkan lagi di sini dengan beberapa perubahan.

Hei, Kafka, si lelaki pemurung! Ingatkah kau, kita pernah berkenalan beberapa tahun yang lalu? Saat itu aku masih cupu dalam menangkap pesanmu (sekarang pun masih cupu) sehingga aku tak terlalu memahami apa isi pesanmu dalam novel The Trial. Tenang saja, aku akan membacanya lagi--nanti. Kau selalu terasa murung dalam karya-karyamu, tapi itulah yang menarikku semakin dalam. Setelah menamatkan Kesialan Orang Lajang dan mulai membacanya ulang, barulah aku ingat kalau di ruangan tempatku tidur ada setumpuk buku dan Seorang Dokter Desa berbaring diam di paling atas. Memang benar katamu dalam cerpen Seorang Dokter Desa, "Seseorang tidak tahu barang-barang apa saja yang ia simpan di rumahnya sendiri." (Eh, itu bukan rumahku sendiri, sih, tapi sudah kuanggap rumah sendiri.)

Sebagian besar judul sudah pernah kubaca sebelumnya di Kesialan Orang Lajang, dan hanya beberapa yang baru kukenal pertama kali lewat buku ini. Tiga di antaranya adalah Seorang Dokter Desa, Pidato di Hadapan Sebuah Akademi, dan Pesan Sang Kaisar. 

Seorang Dokter Desa

Kau mengajakku ke alam muram dalam badai salju dan kegelapan malam. Seorang dokter (satu-satunya) di sebuah desa mendapat panggilan dan harus menemui pasiennya yang tinggal 10 mil dari kediamannya. Duh, Kafka, kau membuatku frustrasi gara-gara membaca betapa sialnya si dokter ini! Ia harus pergi, tapi kudanya telah mati dan Rosa, pembantunya, telah mencari-cari pinjaman kuda tapi tak menghasilkan. Secara ajaib, dari dalam kandang kudanya muncullah seorang pengurus kuda dengan dua ekor kuda yang liar. Kau membuat kuda itu tak bisa dikendalikan oleh sang dokter, sehingga ia pasrah saja dan akhirnya sampai di rumah pasien dengan cepat. Dan secepat itu pula, pengurus kuda yang tinggal berduaan dengan Rosa, berhasil menaklukannya (memperkosanya?).

Selama berada di rumah pasien, pikiran si dokter tak benar-benar berada di sana. Ia sibuk mengkhawatirkan Rosa. Dan kalimat yang diucapkan Rosa, yang telah kukutip sebelumnya, "Seseorang tidak tahu apa saja yang ia simpan di rumahnya sendiri," apakah itu kaumaksudkan sebagai petunjuk? Petunjuk bahwa sang dokter selama ini tak menyadari kehadiran Rosa di rumahnya sebagai "perempuan". Oleh karena itu, menyesallah sang dokter, tapi sayang sekali, Rosa telah ditaklukkan oleh si pengurus kuda.

Sang pasien adalah seorang bocah laki-laki dengan luka menganga di tubuhnya, berwarna merah muda dan bercacing. Oh, aku menyadari permainan kata-katamu, Kafka! Rosa dan rose--merah muda--apakah ini melambangkan "cinta"? Si dokter tahu bahwa penyakit itu di luar kemampuannya, tapi keluarga si pasien masih ngeyel. Mereka lalu melepas pakaian si dokter dan membaringkannya di samping pasien dan menyanyikan sebuah lagu; mereka percaya bahwa itu akan menyembuhkan pasien. Sang dokter kemudian berhasil kabur, sambil terus memikirkan Rosa dan berhasrat menyelamatkannya. Namun sayang sekali, ia tak pernah mencapainya.
Mungkinkah kau memaksudkan bahwa apa yang dialami oleh sang dokter itu semuanya hanyalah halusinasinya sendiri? Atau mimpi buruknya? Pasien dengan luka berwarna merah muda itu, apakah dia melambangkan bagian dari kepribadian sang dokter sendiri? Ia merasa bersalah karena tidak melakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh--ia setengah hati saat memeriksa si pasien dan ragu-ragu selama dalam perjalanan--dan tak bisa menyelamatkannya. Dalam percintaan pun dia gagal. Kau pun telah mengantisipasi penyakit tuberkulosis yang (ternyata) kauderita saat menulis cerpen ini. Analisis lain menduga bahwa kepergian sang dokter menembus segala rintangan untuk menemui pasiennnya ini adalah alegori bagi para tentara yang pergi berperang dengan mengorbankan banyak hal, tanpa tahu akan seperti apa hasil perang itu nantinya--mengingat bahwa kau menulis cerpen ini pada masa Perang Dunia II.

Pidato di Hadapan Sebuah Akademi

Lepas dari badai salju ganas, kau menyeretku ke sebuah aula dan secara ajaib aku telah duduk di salah satu kursi penonton. Memandang ke podium, mataku terbelalak dan mulutku membuka lebar. Benarkah itu seekor kera yang sedang berbicara?
Omong-omong: dengan kebebasan, manusia sering sekali mengecewakan dirinya sendiri. Dan karena kebebasan dianggap sebagai perasaan yang paling luhur, maka luhur pula kekecewaan yang mengikutinya. (hlm. 90)
Oh, apa-apaan ini, Kafka? Kera itu sedang membicarakan kita, manusia, dengan gaya amat sok tahu! Hampir saja, aku pasti telah berdiri dan berteriak menghujat si kera kalau kau, yang duduk di sebelahku, tidak menarik sikuku dan berujar, "Sudahlah, dengarkan dulu pidatonya. Ini akan sangat menarik dan agak absurd. Kau suka hal-hal seperti itu, kan?"

Entah bagaimana, matamu berhasil membuatku memutuskan untuk mendengarkan kera itu. Namanya Peter, Peter si kera. Katamu, sebelumnya ia menceritakan bagaimana ia dibawa dari habitat aslinya oleh sebuah tim ekspedisi. Kemudian ia dimasukkan dalam kerangkeng yang sempit bukan main. Kondisinya yang terkungkung itu memaksanya belajar menjadi manusia, karena menurutnya, itulah satu-satunya jalan keluar. Aku teringat akan Dr. Bucephalus dalam Si Pengacara Baru. Kuda legendaris Aleksander Agung itu juga, entah bagaimana, kaubuat "berubah" menjadi manusia. Ah, aku juga teringat akan karyamu yang--barangkali--paling termasyhur: Metamorfosis. Gregor Samsa mengalami perubahan yang berkebalikan dengan Peter si kera: ia berubah dari manusia menjadi binatang--seekor serangga raksasa. Tak seperti Samsa, Peter tidak mengalami metamorfosis secara fisik.

Akhirnya pidato itu selesai dan aku terperangah. Peter adalah wujud paradoks lipat tiga. Pertama, ia mengaku tidak menginginkan kebebasan; ia hanya ingin keluar dari kerangkeng itu. Lho, keinginannya itu bukankah termasuk dalam "menginginkan kebebasan"? Kedua, dia ingin jalan keluar. Memang, akhirnya ia bisa keluar dengan "menjadi" manusia, tapi dengan begitu, ia telah menukar kerangkeng lamanya dengan kerangkeng baru, yaitu perilaku dan cara berpikir manusia. Ketiga, ia berusaha menjadi yang bukan dirinya, tapi anehnya ia merasa nyaman dan merasa itulah dirinya. Semakin ia termanusiakan, semakin kabur ingatan akan kehidupan lamanya sebagai kera. Dalam pidatonya, ia tak sekalipun menceritakan bagaimana kehidupannya sebelum tercerabut dari habitat dan dirinya sendiri.

Pesan Sang Kaisar

Peter telah selesai berpidato dan aku kembali menatap matamu untuk mencari-cari adakah makna lain tersimpan di sana? Kutemukan diriku terjerembab di dalam liang pikiranmu yang kelabu. Berusaha memahami karyamu bak berusaha menemukan titik terang dalam sebuah labirin. Adalah suatu petualangan menggairahkan, meski mungkin aku hanya akan berakhir duduk di jendela, memimpikan pesan dari Sang Kaisar, tanpa tahu bahwa si Kurir tak akan pernah sampai. Memang, betapa aku adalah orang "yang menyedihkan, hidup dalam bayang-bayang karyamu tanpa pernah benar-benar memahaminya". Yah, setidaknya aku telah memimpikan pesanmu, bukan?[]

Rating saya:
  

Catatan:
  • Aku suka ukuran buku ini dan tata letaknya. Tapi penjilidannya bikin buku ini susah dibuka lebar.
  • Nomor halaman pada daftar isi banyak yang meleset.
  • Terjemahannya cukup enak dinikmati, lebih enak daripada buku Kesialan Orang Lajang (mungkin karena Seorang Dokter Desa diterjemahkan langsung dari bahasa Jerman). 
Judul: Seorang Dokter Desa
Penulis: Franz Kafka
Penerjemah: Widya Mahardika P.
Penerbit: OAK
Cetakan: I, September 2016
Tebal: 116 halaman
ISBN: 9788027253874
Harga buku: Rp 59.000,00 

27 July 2017

[Resensi KESIALAN ORANG LAJANG] Cerita-cerita Pendek Kafka yang Kurang Terkenal

 
Catatan: tulisan ini pernah tayang di laman Instagram saya. Dengan beberapa perubahan, saya tayangkan kembali di sini.

Perjumpaan Kembali dengan Bayang-bayang Kafkaesque

Beberapa tahun lalu Franz Kafka berdiri di ambang pintu kegemaran membacaku. Ia mengulurkan tangan dari balik remang-remang dan, aku, sedikit ragu, menyambut tangannya. Tangan kami bersentuhan dan memercikkan ke udara kisah seorang lelaki bernama Josef K. yang ditangkap dan diadili karena sesuatu hal yang tidak ia ketahui, yang juga tak kuketahui sampai purna sentuhan tangan kami dan percikan cahaya kehitaman itu reda. 

Kafka surut, meninggalkanku dalam kebingungan yang memagut kantuk. Yang kuketahui hanyalah bahwa Kafka menulis "Proses" sebagai alegori opresi ayahnya yang tirani. Ajaibnya, ia semacam meramalkan pemerintahan dan birokrasi yang tirani itu benar terjadi kemudian. Kini, aku hendak menagih penjelasan atas kebingungan yang ia tanamkan dalam telapak tanganku. Maka, kuraba-raba dalam kegelapan, dan aku menemukan percikan-percikan yang lebih tipis dari kisah-kisahnya yang lain, tapi tetap memiliki aroma Kafkaesque dan oedipus complex serupa dengan "Proses" (dan juga "Metamorfosis").
***
Ketidakberdayaan seseorang terhadap kekuasaan yang lebih tinggi, seperti dalam "Proses", kali ini terbaca lagi, antara lain dalam cerita pendek berjudul Poseidon. Kafka merekacipta kisah dewa laut Yunani itu, tapi dari sisi muramnya: bagaimana sebenarnya ia begitu lelah mengurusi segala macam urusan di laut, tapi tak berdaya untuk tak melakukannya, karena bagaimana pun, sedari awal ia telah ditunjuk menjadi dewa laut.

Tema serupa menggentayangi lebih gelap lagi dalam cerita berjudul Ketukan di Gerbang Puri. (Hanya) Sebuah ketukan yang mungkin dibuat oleh adik perempuan si tokoh utama di gerbang sebuah puri membuat si tokoh utama dijebloskan ke penjara.
Masih mampukah aku menanggung udara selain dari udara penjara? Itulah pertanyaan besarnya, atau lebih tepatnya itulah pertanyaannya—jika memang aku masih mungkin untuk bebas.” (hlm. 82)
Situasi yang lebih absurd dan sureal bisa dijumpai dalam cerpen Burung Bangkai. Entah bagaimana, seseorang diserang oleh burung bangkai dan tak bisa berbuat apa-apa. Pada akhirnya, burung bangkai itu menyatu dengan dirinya sendiri. Aku menduga-duga, apa mungkin adegan mengerikan itu sesungguhnya adalah mimpi sang narator, dan burung bangkai itu melambangkan ketakutannya, entah akan apa--mungkin akan sisi gelap dirinya sendiri? Entahlah. Dalam cerpen Mimpi (atau yang berjudul Sebuah Mimpi dalam buku "Seorang Dokter Desa"), sang narator mengalami nasib serupa. Ia tak bisa berkutik kala sang seniman mengangkat pensil ajaib dan mulai mengukir batu nisan dengan nama sang narator.
***

Tentang Kesendirian dan Pintu serta Jendela

Bagaimana kesialan orang lajang menurut Kafka? Salah satunya adalah "harus mengagumi anak-anak orang lain dan bahkan tak diizinkan untuk kemudian mengatakan: 'Aku sendiri tak punya anak'" (hlm. 35). Fenomena ini mungkin sekali terjadi, misalnya dalam acara kumpul keluarga saat lebaran. Bicara tentang lebaran, coba bayangkan bagaimana pedihnya mudik bagi seorang lajang yang sendirian. Ia hanya berdiri di depan pintu tanpa berani mengetuk.
"Aku telah tiba. Siapa yang akan menyambutku?" (hlm. 138, Mudik)
Sementara itu, seorang lelaki lajang mengalami kesialan dalam Penolakan. Seorang gadis yang ia ajak kencan hanya melintas tanpa menanggapi ajakannya, bahkan tanpa kata-kata penolakan--yang pada akhirnya hanya terjadi dalam fantasinya. Dalam Jendela Sepanjang Jalan, Kafka menuliskan bagaimana jendela bisa menyelamatkan seseorang yang sedang ditelan kesendirian. Mungkin juga, "melihat ke luar jendela" adalah alegori dari hasrat seseorang yang sedang kesepian untuk keluar dari situasinya itu, tapi tidak bisa, dan pada akhirnya ia hanya bisa melihat ke luar tanpa benar-benar keluar dari ruangan yang mengungkungnya. Dan entah bagaimana, bagi saya, gambar di sampul buku merepresentasikan fiksi mini ini.
Namun akan tiba waktunya saat bahkan "membuka jendela lebar-lebar dan menyimak musik yang masih bermain di kebun pun tak membantuku" (hlm. 20, Jalan Pulang).
[Ketika itu tiba, kau mungkin bisa pergi ke luar menemukan keramaian, atau melompat saja dari jendela.]
***

Ini Bukan Akhir

Buku "Kesialan Orang Lajang" ini diterjemahkan dari "Kafka: The Complete Stories". Aku mengapresiasi usaha Penerbit Basabasi untuk mengenalkan karya-karya pendek Kafka yang kurang terkenal di kalangan pembaca Indonesia ini (dibandingkan, misalnya dengan "Metamorfosis" dan "Proses"). Namun, sangat disayangkan, di beberapa bagian terjemahannya terasa kurang enak dinikmati dan dipahami. Aku juga mencemaskan seberapa besar sudut paralaks makna yang terjadi karena buku ini diterjemahkan dari bahasa Inggris, tidak langsung dari bahasa Jerman.
Terlepas dari itu, fiksi-fiksi pendek (sekali) karya Kafka di dalam buku ini telah mengisapku setelah bertahun-tahun tak berjumpa dengan karyanya. Ah iya, aku suka gambar kaver buku ini. Sosok lelaki yang berbaring sendirian dengan kepala terperam dalam rumah itu seperti menggambarkan kesendirian yang berusaha disangkal. Aku tidak tahu apakah dia tidur atau terjaga. Jika yang pertama, ia bisa saja menyangkal kesendirian lewat mimpi. Jika yang kedua, ia bisa saja menyangkal dengan berpura-pura memiliki jendela untuknya melihat ke luar.[ ]
*Kafkaesque: karakteristik dari karya-karya Kafka yang terasa riil tapi sureal, tidak masuk akal, absurd, opresif; seperti mimpi buruk.

Judul: Kesialan Orang Lajang
Penulis
: Franz Kafka
Penerjemah
: An Ismanto
Editor
: Tia Setiadi
Tebal
: 164 halaman
Penerbit
: Basabasi
Terbit
: Cetakan I, Juni 2017
ISBN
: 978-602-6651-06-8
Harga
: Rp 55.000,00

26 June 2017

[Review - Part 2] THE CIRCLE: We Are Not Meant to Know Everything



Title: The Circle
Author: Dave Eggers
Publisher: Vintage Books
Publishing year: 2014 (Open-Market Edition)
Number of pages: 497
ISBN: 978-0-8041-7229-5
Genre: science-fiction, dystopian fiction
Price: IDR 122,000 (at Periplus)

kayaking alone: the moment when Mae became “human”

Mae loved kayaking alone sometimes.
She guessed at it all, what might live, moving purposefully or drifting aimlessly, in the deep water around her, but she didn’t think too much about any of it. It was enough to be aware of the million permutations possible around her, and take comfort in knowing she would not, and really could not, know much at all. (p. 272)
At that moment Mae apparently came back to her senses. She realised that she “could not know much at all”. This made me think that maybe the moment when Mae on her kayak on the sea is a symbol used by the author to show how calm the life is if you’re not connecting to the internet. The beauty of nature; the seal stared at you and you stared back solemnly, silently; the dark that made you invisible from others who maybe were also in that part of the sea; the time you made with yourself. In that brief of time, Mae became human again.
She didn’t move, and the seal didn’t move. They were locked in mutual regard, and the moment, the way it stretched and luxuriated in itself, asked for continuation. Why move? (p. 81)
But, ouch, the SeeChange camera apparently was installed in that coast too. From that camera, Mae was seen using kayak illegally, and it drew her to deal with the police. I think maybe this symbolise the inevitable reality that this moment without internet will soon be engulfed again and again by the power of internet itself.

mercer, let’s see if there was a chance for your bringing Mae back to her senses

Mercer, Mae’s ex-boyfriend, was the one who first confronted Mae boldly and sharply.
“It’s not that I’m not social. I’m social enough. But the tools you guys created actually manufacture unnaturally extreme social needs. No one needs the level of contact you’re purveying. […] It’s like snack food. […] You’re not hungry, you don’t need the food, it does nothing for you, but you keep eating these empty calories. This is what you’re pushing. Same thing. Endless empty calories, but the digital-social equivalent. And you calibrate it so it’s equally addictive.”
(Mercer, p. 134)
Mercer was trying to bring Mae to her senses, but all bounced off. Sadly, later he was bullied by the netizens who were at Mae’s side.
“And you willingly become utterly socially autistic. You no longer pick up on basic human communication clues. You’re at a table with three humans, all of whom are looking for you and trying to talk to you, and you’re staring at screen, searching for strangers in Dubai.”
(Mercer, p. 262)
*Ha! That kind of thing is really happening now in real world.
“You know how I spend an hour every day? Thinking of ways to unsubscribe to mailing lists without hurting anyone’s feelings. There’s this new neediness—it pervades everything.”
(Mercer, p. 134)
*What Mercer said above is so true happening now, when unfollowing one’s Instagram account can hurt her/his feeling. The act of following one’s account only when she/he did a giveaway and then unfollowing her/his after the giveaway ended is considered to be rude. Is it so? Maybe we’re just being too sensitive after all.

when democracy becomes mandatory, is it still democracy?

Gradually, the Circle began to interfere in affairs of state, like voting. And yeah, it was Mae’s idea that encouraged the Circle to take over that very public act (p. 394-395). Previously, the Congresswoman Santos was the first elected leader who decided to become transparent.
“You’re either transparent or you’re not. You’re either accountable or you’re not. What would anyone have to say to me that couldn’t be said in public? What part of representing the people should not be known by the very people I’m representing?”
(Congresswoman Santos, p. 210)
But, yeah, it’s true that you will “behave differently when you know you’re being watched, and when you’ll be held accountable, and when there will be a historical record”. So maybe it was true that SeeChange—Bailey’s surveillance cameras, also the one that was used by transparent people—would eliminate most crimes because everyone would watch she/his behaviour out. But it also meant that everyone could be pretending in things she/he knew being watched. Didn’t it?
And then, as the Circle suggested once the voting system was ready to be tested, “Democracy is mandatory here!” (p. 406), I was wondering… When democracy becomes mandatory, is it still democracy?

the shark

The shark, first appear in Book II as one of the near-translucent sea creature brought by Stenton (one of the Three Wise Men) to the Circle. They were placed in enormous aquarium and the feeding time was a real show to Mae’s viewers, especially the feeding of the shark. I thought that the shark and its terrible constant hunger symbolised the Circle itself. The Circle which was always hungry to control the whole world.
“The fucking shark that eats the world.”
(Kalden, p. 484)

other thoughts

“Actually, I don’t know if we should know everything.”
(Annie, p. 439)
This novel brought on me the anxiousness of future world with the very fast advancement of technology. On one side, I, of course, support that advancement but on the other side, I am anxious that we humans will one day be controlled by our creation. Even now, the symptoms have been observably. Internet, via our gadget, has controlled us. I became care so much in the number of likes I got on my posts on Instagram—more than I care about if someone I am interacting with in the real world likes me or not.
Though, I think that some technologies developed by the Circle are indeed useful. From all the of them, I’m very fond of the health monitor bracelet, but without the feature to share the personal health information to the cloud. I need privacy. And, you know what? I loathed Mae’s character, except when she did kayaking—it was when she was “so human”. Ah, I’ve gotten pretty confused about how old Mae was in this story.
Bailey: You’ve known our beloved Annie a long time?
Mae: I have. Since sophomore year in college. Five years now.
Bailey: Five years! That’s, what, 30 percent of your life!
(p. 281)
*Ha, 30% of Mae’s life? So, up to that moment, Mae had lived for 50/3 years or about 17 years? I’m sure that Mae wasn’t that young at that time!
Besides that, I regretted that I watched The Circle’s movie trailer before I finished reading the book. My mood had been sunken right before I saw Kalden in the movie. Kalden’s physical appearance in the movie was in no degree resembled the one I imagined when reading the novel. I imagined that Kalden looked alike L on the Death Note. Kinda freak; he was the type of person who sit before his computer for a long time. But, John Boyega, the one acted as Kalden, was so far from the image of a freaking genius who was also socially-awkward.
 
Source: The Circle Movie Trailer #2
Mae was almost at the bathroom door when she saw a man, in skinny green jeans and a snug long-sleeved shirt, standing in the hallway… (p. 91)
His eyes were dark, his face oval, and his hair was grey, almost white, but he couldn’t have been older than thirty. He was thin, sinewy, and his skinny jeans and tight long-sleeve jersey gave his silhouette the quick thick-thin brushstrokes of calligraphy. (p. 92)
*Look, you can see much physical differences, right?
 
I hoped that there was a disclosure about what the darkest secret of the Circle was, but nothing. Yeah, it was manipulating humans using SeeChange and many other its social-media-based technological products, but that's not the secret I expected as secret. This was just too frustrating, like what our main character—Mae—did to me. She had been so blind all the time because she was easy to be provocated. But, thank God, there was Mercer, whose opinions are corresponding with mine.

“We are not meant to know everything. […] Did you ever think that perhaps our minds are delicately calibrated between the known and the unknown? That our souls need the  mysteries of night and the clarity of day? You people are creating a world of ever-present daylight, and I think it will burn us all alive. There will be no time to reflect, to sleep, to cool.”
(Mercer, p. 434)
 Finally, I decided to give this novel:
my rating

bloggerwidgets