10 October 2017

[Resensi A HEAD FULL OF GHOSTS] Kerasukan, Penyakit Mental, atau yang Lain?

A Head Full of Ghosts | Paul Tremblay
Penerjemah: Reni Indardini
Nourabooks | Maret 2017 | 400 hlm
Rp 74.000,00
978-602-385-253-6

*buku ini adalah salah satu hadiah kuis ulang tahun Mizan yang ke-34
** resensi ini pernah nongol di IG saya, kali ini saya tambahkan hal-hal yang menurut saya penting tapi kepsyen IG tidak cukup menampungnya 

Lima belas tahun yang lalu. Merry delapan tahun, Marjorie empat belas tahun. Merry tidak paham ketika ibu mereka yang atheis bilang bahwa Marjorie sedang "sakit", dan membawanya secara berkala ke psikiater. Sementara itu, ayah mereka baru kena PHK dan sejak itu jadi gampang berubah-ubah suasana hatinya. Sang ayah lalu bergabung dengan suatu gereja dan menjalin kedekatan dengan Bapa Wanderly. Di keyakinan sang ayah, Marjorie "kerasukan roh jahat". Oleh karena itu, ia berkeras mempertemukannya dengan Bapa Wanderly, alih-alih mengantarkannya konsultasi ke psikiater langganannya. Maka dari itu, timbullah perselisihan antara sang ibu dan sang ayah. 

Jadi, Marjorie benar-benar kerasukan atau sakit mental? 

Memang, sih, Merry sering mendapati kakaknya melakukan hal-hal aneh. Mulai dari menceritakan kisah-kisah horor tentang molasses dan "yang tumbuh", menyelinap ke kamar Merry di malam hari, merusak tembok kamarnya sendiri, membuat luka-luka di tubuhnya.... Sampai orang-orang dewasa yakin bahwa ia kerasukan dan pada akhirnya sepakat melakukan eksorsisme. Bapa Wanderly mengenalkan kisah kerasukan Marjorie itu pada kru film dokumenter, yang lalu menjadikan keluarga itu sebagai tokoh reality show berjudul The Possession. Sang ibu awalnya tak menyetujui eksorsisme dan syuting film itu, tapi akhirnya setuju karena hanya dengan itulah keluarga yang sedang bangkrut itu bisa mendapat banyak uang dalam waktu singkat.

Lima belas tahun kemudian, Merry bersedia diwawancarai oleh Rachel tentang kisah kakaknya. Dari situ, apa yang sebenarnya terjadi di antara proses syuting episode terakhir The Possession dengan peristiwa tragis tewasnya keluarga itu--kecuali Merry--terungkap.

***
Kau yakin, Stephen King? Menurutku dia melebih-lebihkan. Aku terus membaca buku ini sampai akhir, awalnya karena berniat menegasikan testimoni itu. Bagian awal memang terasa datar, meski ada ketegangan-ketegangan minor--misalnya adegan Marjorie menyelinap ke kamar Merry (mungkin akan lebih menegangkan kalau aku menonton versi filmnya--kalaupun bakal difilmkan). Namun sejak hari eksorsisme Marjorie, cerita memang jadi menarik dan menegangkan. Bahkan aku mendapat satu adegan mengerikan (yang kuharapkan telah kudapat sejak awal, terima kasih, Paul), yaitu saat eksorsisme berlangsung, Marjorie menggigit tangan Bapa Gavin sampai kewer-kewer dan akhirnya cuil. Deskripsinya cukup membuat aku ngilu. 

Ini kisah tentang kakak-beradik. Hubungan antartokoh yang dieksplorasi paling dalam oleh penulis adalah hubungan antara Merry dan Marjorie. Meski sering kesal terhadap Marjorie, Merry tak bisa berbohong bahwa ia sebenarnya mengidolakan kakaknya. Mereka berdua punya kebiasaan unik, yaitu menciptakan cerita-cerita sampingan, misalnya dari buku cerita bergambar favorit Merry, Cars and Trucks and Things That Go karya Richard Scarry. Mereka akan menggambar coretan-coretan kisah mereka sendiri di bagian-bagian yang kosong pada halaman buku. Hm, sebenarnya yang gemar menciptakan cerita adalah Marjorie, sih. Tapi kalau tak ada Merry yang amat menggemari cerita-cerita karangan kakaknya, cerita Marjorie itu tak akan hidup. 

Nah, ada dua cerita karangan Marjorie yang paling berkesan, yaitu tentang "yang tumbuh"--seperti pohon kacang dalam ceria Jack dan Kacang Ajaib yang tumbuh dengan cepat menjadi raksasa dan menerjang apa saja saat tumbuh, termasuk menyebabkan terbunuhnya ibu mereka. Cerita yang kedua adalah tentang bencana banjir molasses--sirup gula warna cokelat gelap nan kental dan lengket. Cerita karangan Marjorie ini tidak benar-benar karangan, karena memang benar-benar pernah terjadi, yaitu di Boston pada tahun 1919. 

Kukira ini akan jadi kisah "kakak-beradik melawan dunia."; untuk meloloskan diri dari ayah dan ibu mereka yang sering tidak cocok dan masing-masing punya kegelisahan dalam kepala mereka. Juga dari Bapa Wanderly, kru film, psikiater.... 

Makin lama, perilaku tokoh-tokoh dalam novel ini jadi membingungkan. Pertama, Marjorie. Apakah ia memang berpura-pura kerasukan, atau memang menderita penyakit mental, atau ia berpura-pura bahwa ia pura-pura kerasukan karena ia memang kerasukan? Kedua, sang ayah. Suasana hatinya sering berubah-ubah, ada yang hingga taraf aku mengira bahwa sebenarnya yang gila bukan Marjorie, melainkan ayahnya. Namun, perilaku mereka inilah yang menarik. Mereka menstimulasi rasa penasaranku sehingga aku mulai berspekulasi....
Dalam novel ini, aku menangkap adanya isu pertentangan antara ilmu pengetahuan dan takhayul (diwujudkan dalam pertentangan pihak ibu dan pihak ayah). Keyakinan bahwa Marjorie kerasukan roh jahat mungkin menghalangi anak itu mendapatkan perawatan medis yang benar dan hal ini bisa berakibat fatal (jika sesungguhnya tingkah anehnya itu merupakan gejala psikosis alih-alih "kerasukan"). Dugaan ini tak hanya dilontarkan olehku, ternyata (kalau penasaran, coba deh, baca ini).

Bagian favoritku adalah artikel ulasan reality show The Possession dari blog Karen Brissette, yang diletakkan di tiap awal bagian. Ah, Karen Brissette ini nama yang Paul pinjam dari orang sungguhan. Di sini, Paul mewawancarai Karen yang sungguhan. Ngomong-ngomong, novel ini terdiri dari tiga bagian. Bagian Satu: Rachel memulai wawancara dengan Merry di masa sekarang. Lalu cerita Merry membawa kita ke masa lalu, saat dia masih delapan tahun dan kakaknya, Marjorie 14 tahun. Bagian dua: Merry menceritakan proses syuting The Possession sampai proses eksorsisme oleh Bapa Wanderly (dibantu Bapa Gavin) terhadap Marjorie. Bagian tiga: Merry menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di antara episode terakhir The Possession (Marjorie melompat dari balkon) sampai kemudian ayah-ibu-Marjorie mati di dalam rumah mereka. Karen sangat kritis dalam mengulas tayangan itu, terlebih terhadap unsur-unsur misoginisme yang ditampilkan. Di dunia nyata masa kini pun masih banyak unsur misoginis dalam tayangan/pemberitaan di berbagai media.

Novel ini tidak terlalu menakutkan, sih, tapi bagian akhirnya membingungkan dan membuatku berpikir. Jadi, Marjorie benar-benar berpura-pura sakit, atau memang dia "sakit" (dugaanku sih, skizofrenia) dan pengakuannya pada Merry adalah bagian dari ketidakwarasannya, jadi tak bisa sepenuhnya dipercaya, atau dia memang sakit dan sekaligus berpura-pura untuk membuatnya hiperbolis dan dramatis? Atau, malah jangan-jangan Merry bukanlah narator yang bisa diandalkan seperti ekspektasiku semula? Aku jadi ingat tokoh utama dalam The Girl on the Train.  Twist-nya tidak meledak-ledak, tapi bikin aku terdiam. Bingung. Agak merinding. Bukan karena iblis atau roh jahat, melainkan karena kemungkinan-kemungkinan.... Apa yang terjadi sebenarnya? Halaman tanya-jawab pembaca dengan Paul Tremblay di laman Goodreads ini sungguh menarik, beberapa mewakili pertanyaanku.[]

30 September 2017

[Resensi THE PRAGUE CEMETERY] Penyebaran Berita Palsu di Abad Ke-19 dan Awal Abad Ke-20



Judul: The Prague Cemetery
Penulis: Umberto Eco
Penerjemah: Nin Bakdi Soemanto
Penyunting: Mahfud Ikhwan
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: I, Februari 2013
Tebal: viii + 616 halaman
ISBN: 978-602-8811-98-9

Buku “Terlama Tak Kunjung Dibaca sejak Dibeli”

Menjadi tsundoku itu ibarat jatuh cinta padamu. Aku tak sadar, tahu-tahu dadaku sudah berlubang dan hatiku jatuh di genggamanmu. Eh, malah curhat. Salah satu akibat menjadi tsundoku adalah daftar tunggu buku yang dibaca jadi makin panjang dan terus memanjang. The Prague Cemetery ini adalah salah satu buku yang menjadi korban daftar tunggu yang terus memanjang itu. Di rak buku saya, ia memegang rekor “terlama tak kunjung dibaca sejak dibeli”. Ia saya adopsi dari Togamas Mal Galeria (ya, ampun, sampai Togamas yang di situ sudah tak ada lagi sekarang) pada tahun 2013, dan baru saya baca tahun 2017. Sungguh kasihan buku ini, ia mungkin terlalu lelah menunggu saya baca sampai kertasnya ditumbuhi bercak-bercak kuning.

The Prague Cemetery merupakan kumpulan catatan harian Simonini, yang ditulis sebagai bagian dari terapi untuk mengingat apa yang telah ia alami, karena ia menderita penyakit mental tertentu (yang sebaiknya tidak saya sebutkan karena akan menjadi bocoran). Catatan harian itu kadang dibalas oleh Dalla Piccola, dengan tulisan yang ditujukan pada Simonini sebagai upaya untuk mengingatkannya akan hal-hal buruk yang telah ia lakukan di masa lalu, tapi ia lupa, yaitu pembunuhan. Atau saking ia ngeri pada apa yang telah dirinya lakukan, mentalnya menghapus memori itu. Kadang, upaya Dalla Piccola ini membuat Simonini tersinggung (hlm 378).

Umberto Eco menulis buku ini dengan narasi berganti-ganti; dari sudut pandang orang pertama Simonini, ke sudut pandang orang pertama Abbe Dalla Piccola, lalu sudut pandang orang ketiga Sang Narator. Buku dibuka dengan adegan Sang Narator yang mulai mengikuti catatan harian Simonini. Catatan pertama (bab dua) bertanggal 24 Maret 1897, dibuka dengan penjelasan Simonini mengapa ia menulis catatan harian, lalu racauannya tentang siapa dia sebenarnya. Di sini ia mulai menyebut-nyebut Dalla Piccola. Lalu di catatan hari berikutnya (bab tiga), Simonini mulai mengulik ingatan masa lalunya dari tahun 1885-1886, saat ia terlibat obrolan dengan beberapa ahli psikiatri di Chez Magny (sebuah restoran di Paris). Saat itulah untuk pertama kalinya Diana Vaughan, seorang pasien penyakit mental, disebut.

Pertemuan dengan Sigmund Freud

Di Chez Magny itulah pertama kalinya Simonini berkenalan dengan “dokter Austria (atau Jerman) itu”, “seorang dokter berusia sekitar tiga puluh yang hampir pasti datang ke Magny hanya karena tidak bisa makan lebih mahal lagi dan magang pada Charcot”. “Aku” (Simonini) menuliskan nama dokter itu sebagai Froïde dengan nama depan Sigmund. Dari isi pembicaraan dan narasi yang dikisahkannya, Sigmund ini tak lain adalah Sigmund Freud (Freud memang dibaca “Froyd”, mirip dengan “Froïde”). Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1885-1886. Freud lahir pada tahun 1856 (jadi memang benar pada tahun 1885/1886 umurnya sekitar 30 tahun) dan pada bulan Oktober 1885 dia pergi ke Paris untuk magang pada Jean-Martin Charcot. (Sumber: Wikipedia) Dalam obrolan dengan “aku”, Froïde sempat menyebut nama tunangannya, Marta (Freud menikahi Martha Bernays pada tahun 1886).

“Semua hal itu racun jika dosisnya berlebihan, bahkan anggur,” kata Froïde pada halaman 56. Setelah itu dia juga menjelaskan beragam kegunaan kokain. Dari yang saya baca di Wikipedia, Freud memang pernah menerbitkan paper tentang efek kokain pada tahun 1884.

Jadi, ya, itu memang Sigmund Freud yang itu.

Dalam pembicaraan dengan Freud itu, kelihatan sekali ketaksukaan dan prasangka Simonini terhadap Freud yang Yahudi. “Pada detik ini kukira, aku sudah tertarik dalam berbagai rencana orang Yahudi dan ambisi ras itu agar putra-putra mereka menjadi dokter dan ahli farmasi dengan tujuan mengontrol tubuh maupun pikiran orang Kristen.” (hlm. 62)

Anti-Semitisme yang tertanam dalam benak Simonini ini tak bisa dipungkiri adalah warisan dari kakeknya, seperti yang ia ceritakan di bab selanjutnya, yang mundur ke tahun 1830-1855. Di masa kecil dan remajanya di Turin itulah, kakeknya menanamkan kebencian terhadap orang Yahudi.

Yang Ada di Balik Layar

Di bab-bab selanjutnya, catatan harian Simonini, tulisan Abbé Dalla Piccola, dan narasi dari Sang Narator, mengisahkan bagaimana Simonini mulai bekerja pada Notaio Rebaudengo, seorang notaris merangkap pembuat dokumen palsu. Ironis sekali bagaimana ia mengatakan bahwa profesinya yang penuh kebohongan itu didasarkan pada kepercayaan dengan klien. Belakangan, Simonini membuka jasa pembuatan dokumen palsunya sendiri.
“Jika aku mulai mencemaskan apakah klien itu mungkin berbohong, aku tidak lagi punya profesi ini, yang didasarkan pada kepercayaan.” (Rebaudengo, hlm. 123)
Dalam sejarah Eropa abad ke-19, Simonini memiliki peran penting sebagai konseptor; sosok yang berada di belakang layar pada beberapa peristiwa sejarah yang benar-benar terjadi (penyatuan Italia, perang Franco-Prussia, Paris Commune, peristiwa Dreyfus (Sumber: Wawancara dengan Umberto Eco). Ini mengingatkan saya akan Pak Tua si tokoh utama dalam The 100-year-old man who climbed the window and disappeared, yang juga terlibat dalam peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah dunia. Selama bekerja pada Rebaudengo, Simonini bertemu banyak klien, salah satunya dengan Cavalier Bianco, orang penting di dinas rahasia pemerintahan. Bianco merekrutnya untuk membantu penangkapan para Carbonari.

Carbonari ini adalah perkumpulan rahasia yang berkembang di Italia bagian selatan sejak tahun 1700-an (tapi baru terkenal pada awal abad ke-19) (Sumber: Global Security), dan diduga mempunyai kaitan dengan Freemason Italia (Sumber: Sanfelesesociety). Mereka melakukan ritual-ritual rahasia yang merupakan campuran dari ritual Kristen dengan simbol-simbol dan referensi pagan. Para anggotanya secara umum mendukung konsep hak-hak individu yang diakui konstitusi, kebebasan berbicara dan kemerdekaan dari dominasi kolonial asing—perkumpulan ini mengusung pemikiran republikan yang menggusarkan pemerintahan konservatif Eropa di zaman itu (pemerintahan monarki). (Sumber: Global Security)

Setelah keberhasilannya itu, kariernya menanjak sebagai agen rahasia untuk dinas pemerintahan, membuat dokumen dan laporan palsu hasil karangannya sendiri untuk memojokkan pihak-pihak tertentu, sembari menjalankan rencana-rencana demi keuntungan pribadi.

Berikutnya, Simonini turut hadir dalam Ekspedisi Garibaldi (ini merupakan peristiwa sejarah betulan). Ia menyamar dalam pendukung Garibaldi, yang disebut “Seribu Garibaldi” untuk menggali informasi dan melakukan tugas dari dinas rahasia. Saat itulah ia melakukan kontak pertama dengan Alexandre Dumas, novelis terkemuka Perancis itu. Kemudian pada tahun 1861 Simonini pindah ke Paris, setelah itu ia pernah dipenjara, membunuh beberapa orang, mengadu domba beberapa pihak (Mason, komunis, pemerintah, Jesuit, Yahudi, dan apa lagi, ya?) demi keuntungan pribadi.

Sebagaimana sang tamu pada bab satu mengintip Simonini sedang menulis catatan hariannya, saya mengikuti kisah hidup lelaki itu dan saya pikir telah mengenalnya dengan cukup baik setelah 600+ halaman. Simonini adalah orang yang cerdas, cerdik, dan licik; ia tak segan melakukan kebusukan demi mencapai keuntungan. Ia menggagas ide-ide seperti menciptakan malapetaka dalam pelayaran Nievo dari Palermo ke Turin demi melenyapkan buku-buku keuangan bersama Nievo (hlm. 210-211).

“The Protocols”

"Jika emas adalah kekuatan pertama di dunia ini, yang kedua adalah pers. Kita harus mengambil alih kepemimpinan semua surat kabar di setiap negeri." (Suara Ketigabelas di Kuburan Praha, hlm. 292)
Membaca novel ini seperti membaca sejarah Eropa abad ke-19 dengan cara yang seru. Sejarah yang penuh konspirasi, penipuan, pembajakan tulisan, adu-domba… Betapa novel ini menunjukkan berkali-kali bahwa tulisan sungguh punya kekuatan besar untuk menimbulkan kebencian terhadap sesuatu; dua di antaranya yang paling menggelegar adalah terhadap ras Yahudi dan terhadap Freemasonry.

The Protocols of The Elder of Zion, atau yang sering disebut The Protocols, yang merupakan teks anti-Semitisme yang mendeskripsikan konspirasi gelap para rabi Yahudi pada suatu malam di sebuah kuburan di Praha. Dalam pertemuan itu mereka berencana menguasai dunia. Di bab enam Simonini menceritakan bagaimana awalnya tercetus ide untuk menuliskan laporan itu. Kemudian, bagaimana dia menjiplak beberapa bagian dari novel karya Maurice Joly. Ironisnya, novel Joly itu sendiri adalah plagiarisme dari novel Les Mystères du Peuple karya Eugène Sue. [The Protocols]

The Protocols yang diterbitkan tanpa nama penulis tercantum itu kemudian menjadi terkenal dan menyebabkan meluasnya anti-Semitisme di Eropa. Adegan kuburan Praha jadi sering didaur ulang oleh pengarang-pengarang lain. Maka, menjadi lucu ketika Simonini mengeluhkan pembajakan ini, karena ia sendiri pun membajak sana-sini saat menulis The Protocols.
"Ya, Tuhan, dalam sebuah dunia para pembajak, bagaimana hidup jadi mungkin?" (Simonini, hlm. 380)

Le Diable au XIXe Siècle” dan Objektivikasi Perempuan

Dalla Piccola ternyata juga melakukan hal serupa dengan yang dilakukan Simonini, yaitu penulisan dokumen palsu. Di akhir abad ke-19, ia menyuntikkan ide dalam kepala Taxil, seorang penyebar berita palsu yang sebelumnya sempat membuat geger masyarakat, untuk menulis karya yang menjelek-jelekkan Freemasonry. Pada tahun 1892 mereka mulai memanfaatkan Diana Vaughan, seorang pasien kejiwaan dr. Du Maurier. Diana meyakini bahwa dirinya adalah murid Palladian, suatu sekte Masonik yang misterius. Dalam kegilaannya, Diana sering mengocehkan berbagai ritual Palladian. Nah, cerita Diana tentang berbagai ritual inilah yang dijadikan pijakan tulisan mereka.

Mereka juga menciptakan tokoh rekaan bernama Dr. Bataille, yang seolah-olah adalah dokter yang menangani Diana. Nama “Dr. Bataille” pun mereka cantumkan sebagai penulis buku ini, yang mereka beri judul “Le Diable au XIXe Siècle: Misteri di Balik Satanisme Modern, Magnetisme Klenik, para Perantara Lucifer, Kabalah pada Akhir Abad, Sihir Rosicrucian, Kesurupan Kambuhan, para Perintis Anti-Kristus” itu (padahal yang menulis adalah Taxil).

Dalam peristiwa ini, Diana dijadikan objek untuk menyebarkan kebencian terhadap Mason sekaligus sebagai objek seksual oleh Taxil. Sebaliknya, Dalla Piccola sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan seksual terhadap Diana. Dia juga secara terang-terangan mengungkapkan kepada pembaca perasaan jijiknya terhadap perempuan, yang juga membuat saya menduga apakah ia aseksual sebagai akibat dari lingkungan dan kebiasaan hidupnya di antara para imam.
"Aku selalu menemukan lebih banyak kenikmatan pada makanan daripada seks—mungkin satu tanda yang ditinggalkan kepadaku oleh para imam." (hlm. 24)
Pikiran berhubungan seks dengan seorang perempuan sudah cukup buruk, tetapi dengan seorang perempuan gila…. (hlm. 455)
Kejijikannya terhadap perempuan makin terlihat saat ia berada dalam kondisi yang membuatnya terpaksa terlibat dalam hubungan seksual dengan Diana. Sebagai pastor, ia belum pernah berhubungan seks dengan perempuan sebelumnya, bahkan baru saat itu ia melihat perempuan telanjang. Namun kemudian saya menangkap pertanda bahwa ia takut terhadap perempuan dewasa saja, tapi tertarik terhadap anak-anak. Nah, ini membuat saya menduga, apakah ia pedofil?
Aku menahan sekuat tenaga, seperti kena serangan kejang, karena untuk kali pertama melihat seorang perempuan tanpa penutup raga. (hlm. 537)
—dan aku harus mengakui (satu situasi aneh ketika aku, seorang imam, mengaku dosa kepadamu, Kapten!) bahwa sementara aku merasakan, bukan teror, melainkan paling sedikit rasa takut di depan seorang perempuan yang sekarang matang, sulit bagiku untuk menolak rayuan dari seorang makhluk yang belum  mekar. (hlm. 536)
Di masa itu, di Eropa mulai muncul gerakan-gerakan feminisme sebagai reaksi atas ketidakadilan yang dialami oleh perempuan. Perempuan (masih) menjadi korban stereotip masyarakat yang patriarkal, yaitu dipandang sebagai subordinat laki-laki. Maka wajar jika Simonini dan Dalla Piccola, sebagai laki-laki yang hidup di tengah masyarakat patriarkal itu, terkesan memandang perempuan sebagai "warga kelas dua". Dalla Piccola malah terkesan misoginis, contohnya, bisa terbaca dari perkataannya berikut.
“Kami bercakap-cakap beberapa kata (aku sudah begitu terkurung selama sepuluh hari ini sehingga merasa terhibur bahkan dengan bercakap-cakap dengan seorang perempuan) dan setiap kali kutawari dia segelas absintus, aku hampir tak bisa tidak ikut minum lagi.” (hlm. 224)
(Perempuan tidak layak diajak bercakap-cakap?)

Simonini juga memiliki pandangan serupa terhadap perempuan, terlihat dari ucapannya berikut.
Aku tidak punya kepekaan seperti perempuan dan sepenuhnya mampu menyeret mayat seorang imam ke dalam gorong-gorong, tetapi pemandangan ini menggangguku. (Simonini, hlm. 358)
(Kepekaan dipandang secara negatif dan merupakan milik perempuan (saja)?)

Kekuatan Tulisan

The Protocols dan Le Diable au XIXe Siècle (The Devil in The 19th Century) merupakan dua dari entah sekian banyak tulisan propaganda dari Eropa di abad ke-19 yang benar-benar ada di dunia nyata. Umberto Eco mencoba menciptakan latar belakang terciptanya kedua dokumen itu. Eco menunjukkan betapa tulisan memiliki kekuatan sangat besar untuk menyebarkan propaganda. Meskipun kemudian Taxil telah mengakui bahwa The Devil in the 19th Century itu hoaks, dan banyak peneliti telah membuktikan kepalsuannya, banyak orang masih memercayainya sampai sekarang. The Protocols juga telah sering dibuktikan kepalsuannya. Namun tetap saja, kedua dokumen ini masih dijadikan acuan oleh pihak-pihak yang ingin membenarkan kebenciannya terhadap Mason dan orang Yahudi. Bahkan, The Protocols menjadi bagian dalam propaganda Nazi untuk membenarkan aksi persekusinya terhadap orang Yahudi. (Sumber: The Protocols)

Maka, benar sekali yang ditulis oleh Mikulpepper di artikel blognya,
"But it is easier to get people to believe than it is to renounce their beliefs, so hoaxes can have a very negative effect."

Beberapa Catatan Lain

Awalnya tidak mudah membaca buku ini, karena ada yang membingungkan saya, terkait penyakit mental Simonini dan peristiwa-peristiwa sejarah. Tapi lama-lama saya menikmatinya, salah satu faktor paling signifikan yang telah membantu saya menikmati buku ini adalah terjemahannya yang bagus. Meski begitu, ada banyak istilah dan kalimat dalam bahasa Prancis yang artinya tidak dijelaskan di narasi dan  juga tidak dilengkapi catatan kaki berisi terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Akhirnya, bisa saya simpulkan bahwa ini adalah perkenalan saya yang tak terlupakan dengan Umberto Eco. Ah iya, saat menyelesaikan tulisan ini, saya sedang membaca The Name of the Rose.[]

17 September 2017

[Resensi THE GIRL ON PAPER] Gadis Itu Jatuh dari dalam Buku



Suatu malam yang berhujan badai, Tom Boyd menemukan sesosok perempuan telanjang yang seperti dijatuhkan begitu saja ke dalam rumahnya. Billie, perempuan itu mengaku "jatuh" dari novel trilogi laris Tom yang salah cetak--ceritanya berhenti di pertengahan novel, tepat setelah kata "jatuh".
Karena aku hafal seluruh isi novelku, aku tidak kesulitan mengingat kalimat yang seharusnya tercetak: "Kumohon!" seru gadis itu, jatuh berlutut. (hlm. 44)
Billie bilang, kalau Tom tidak segera menyelesaikan buku terakhir triloginya, maka ia akan mati. Sebagai gantinya, ia berjanji akan membantu Tom mendapatkan Aurore--pianis cantik dan terkenal akan kegemarannya gonta-ganti pacar--kembali. Tom, yang sedang depresi dan mengalami writer's block setelah diputuskan oleh Aurore, mau tak mau harus segera memulai menulis lagi. Bersama Billie, ia melakukan petualangan yang seru.

Di sisi lain, Milo dan Carole, dua sahabat Tom, berusaha menemukan satu-satunya novel-salah-cetak Tom yang luput dari penghancuran dan menjadi kunci untuk memperpanjang hidup Billie. Akankah mereka berhasil?
***
"Aku tidak suka dengan gayamu yang sebelumnya; terlalu rapi dan tampak konservatif. Kau terlihat seolah kau membutuhkan sebuah tamparan." (Billie, hlm. 180)
Aku langsung jatuh cinta pada tokoh Billie yang "berantakan", blak-blakan, bawel, pemberani, tapi hatinya tulus. Aku ngakak pada "pidato" Billie, yang saking nggak bakal selesainya, font-nya dibikin makin mengecil. Aku suka bagaimana interaksinya dengan Tom, yang diawali dengan ketidakcocokan, berangsur-angsur bisa jadi sangat harmonis. Selama membaca buku ini aku sering ketawa terutama pada bagian interaksi Billie-Tom. Aku juga menyukai persahabatan Tom-Milo-Carole.
"Kau tidak berhak melakukannya!" - Tom
"Tidak berhak menyelamatkanmu? Itu bukan tentang hak, itu tentang apa yang harus kulakukan." - Milo
"Dengan harga apa pun?" - Tom
"Kalau memang harus, dengan harga apa pun." - Milo
(hlm. 430)
Penulis dengan ciamik mengolah cerita romantis-komedi dengan sedikit suasana menegangkan dan kisah kelam masa lalu tiga sahabat itu. Tapi, kok, aku merasa bahwa masa lalu mereka yang dikoar-koarkan "kelam" itu kurang ditunjukkan oleh penulis, ya? Maklum, sih, karena cerita lebih banyak berkutat di masa kini tentang usaha penyelamatan nyawa Billie. Nah, tiga orang sahabat itu dulu tinggal di daerah dengan tingkat kriminalitas tinggi dan di keluarga yang tidak harmonis. Misalnya, Carole, yang tinggal bersama ayah yang ringan tangan dan melecehkannya secara seksual. Nah, di masa sekarang, Carole adalah seorang polisi dengan pangkat cukup tinggi; Tom seorang penulis yang tenar tapi baru saja bangkrut; dan Milo adalah manajer Tom yang berperan juga dalam kebangkrutannya.
Sekali lagi, aku mendapat kesan yang sangat kuat bahwa kami akan selalu menjadi anak-anak berusia dua belas tahun. Meskipun jutaan bukuku sudah terjual, dan banyak penjahat sudah dia tahan, semua itu adalah bagian dari peran yang kami mainkan bersama untuk seluruh dunia, sementara dalam hati kami, kami tidak pernah benar-benar pergi dari sana. (hlm. 103)
Tom sendiri, menulis novel larisnya berdasarkan pengalaman pahit masa remajanya. Nanti, kita akan tahu bagaimana awalnya Tom bisa menulis novel itu. Alasannya ternyata melibatkan masa lalu kelam Carole.
Untuk melupakan masa kecilnya, Milo menganggap semuanya sebagai lelucon. Sementara aku menuangkan segalanya dalam ratusan halaman, menelan berbagai obat dan mengisap sabu-sabu. (hlm. 103)
Sementara itu,  Milo memendam cinta terhadap Carole, tapi ia takut akan merusak persahabatan mereka, makanya dia memilih untuk menjadi playboy dan menjalani hidupnya (sebelum bangkrut bersama Tom) dengan bersenang-senang. Parahnya, Milo menganggap Carole menyukai Tom, lebih dari sekadar sahabat. Nah, sebenarnya bagaimana perasaan Carole terhadap Milo?
"Untuk permainan menantang maut, memang benar kau sangat berani. Tapi, aku bicara tentang keberanian untuk mencintai seseorang. Dan risiko itu tidak pernah kau ambil, bahkan dengan--" (Tom kepada Milo, hlm. 31)
Pada awalnya, kukira Aurore adalah tokoh antagonis dalam novel ini, tapi ternyata tidak juga. Malah, aku mendapati beberapa kecocokan dengan pemikirannya tentang cinta sejati. Bisa dibilang, aku lumayan sama pesimisnya dengan dia dalam hal ini. Begini, dalam fiksi romantis yang berakhir indah dengan si tokoh utama perempuan dan tokoh utama laki-laki bersama pun kita tak tahu apakah setelah ending yang indah itu, mereka tetap bahagia bersama. Apalagi di dunia nyata.
"Kau membuat ikatan, lalu memutuskannya--itulah hidup. Pada akhirnya, kalian akan pergi ke arah yang berbeda, tanpa pernah tahu penyebabnya. Aku tidak bisa memberikan segalanya untuk orang lain sementara aku tahu sesuatu yang buruk akan terjadi. Aku tidak ingin membangun kehidupanku di atas perasaan, karena perasaan selalu berubah. Perasaan itu rapuh dan tak pasti. Kau pikir perasaan itu kuat dan mendalam, tapi ternyata mudah menghilang hanya karena kibasan rok atau senyum genit. Aku membuat musik karena musik tidak akan pernah meninggalkan hidupku. Aku suka buku karena buku akan selalu ada untukku. Tapi... aku sama sekali tidak kenal pasangan yang saling mencintai seumur hidup." (Aurore, hlm. 238)
Ide cerita buku ini menarik, termasuk juga ide tentang "buku berjalan" yang menginspirasiku untuk menulis sesuatu. Menariknya, tiap tokoh yang bersilangan nasib dengan buku berjalan itu memiliki kisah sendiri-sendiri. Dan twist-nya..., yah, aku agak kecewa karena berharap keajaiban itu benar-benar "ajaib". Tapi ending-nya tetap memuaskan. Aku juga suka bagaimana tiap bab dibuka dengan quote yang tidak cuma berkaitan dengan isi bab, tapi juga mengena padaku secara emosional.

Yang mengena bagiku adalah pandangan Tom terkait dunia kepenulisan. Aku baru menyadari hal ini sejak Tom mengatakannya:
"Sebuah buku hanya akan hidup kalau dibaca. Para pembacalah yang menyusun potongan-potongan gambar dan menciptakan dunia imajiner tempat para tokohnya hidup." (Tom, hlm. 290)
Aku juga mengagumi bagaimana Tom bisa mengingat seluruh isi novelnya. Itu sungguh keren! Selama menjadi penulis, aku tak pernah benar-benar mengingat seluruh isi naskah novelku 😅. Juga aku mengamini betapa benarnya perkataan Tom yang ini:
"'Menulis novel itu tidak bisa dilakukan berdasarkan pesanan. Ada semacam alkimia di dalamnya...'." (Billie--menirukan kata-kata Tom, hlm. 125)
Ah iya, satu hal penting yang tak boleh dilupakan: terjemahan buku ini renyah sekali!

Buku ini memberikan pandangan positif akan adanya kesempatan kedua bagi orang-orang yang mencari dan pantang menyerah. Juga, orang yang karenanya kita patah hati; yang awalnya kita kira benar-benar kita cintai dan inginkan, bisa saja ternyata tidak.[]

Identitas Buku

Judul: The Girl on Paper
Penulis: Guillaume Musso
Penerjemah: Yudith Listiandri
Penerbit: Spring
Tebal: 448 halaman
Cetakan: I, September 2016
ISBN: 978-602-74322-4-6
Harga: Rp 85.000,00

27 August 2017

[Resensi SILENCE] tuhan, mengapa kau diam saja?



Sudah dua puluh tahun berlalu sejak penganiayaan ini dimulai; [...] dan di hadapan pengorbanan dahsyat yang tidak kenal kasihan ini, Tuhan tetap hening dan bungkam.

(hlm. 100-101)

Kristianitas telah disebarkan benihnya di Jepang pertama kali oleh Francis Xavier tahun 1549. Selama masa pemerintahan tiga daimyo yang berusaha mempersatukan Jepang (Nobunaga, Hideyoshi, dan Ieyasu), para misionaris memiliki posisi yang bagus di istana Bakufu. Namun kemudian, sejak tahun 1587 terjadilah penganiayaan terhadap orang Kristen. Berbagai jenis penganiayaan ditimpakan kepada mereka agar mengingkari iman. Dipaksa menginjak fumie, menjalani ana-tsurushi (hukum gantung di dalam lubang, hlm. 14), dibenamkan dalam air mendidih (hlm. 27), dan direndam di laut (hlm. 44). Berbagai hukuman kreatif bikinan Jepang ini mengubah persepsi saya tentang seperti apa hukuman yang menyakitkan. Hukuman yang berdarah-darah tidak lantas lebih menyakitkan daripada hukuman seperti ana-tsurushi yang mematikan perlahan-lahan.
Menginjak fumie.
Sumber di sini.
Pukulan terdahsyat yang diterima oleh pihak gereja di masa itu sejak penyiksaan terhadap para misionaris dan orang Kristen di Jepang barangkali adalah berita tentang Christovao Ferreira, misionaris pertama yang mengingkari imannya (hlm. 15). Mengejutkan karena Ferreira sudah tiga puluh tiga tahun tinggal di Jepang, memiliki jabatan tinggi sebagai provincial; sosok yang sangat dihormati oleh para misionaris yang lain dan kelihatannya tidak mungkin mengingkari imannya.

Beberapa tahun setelah Ferreira dikabarkan mengingkari imannya, tiga pastor berkebangsaan Portugis berniat memasuki Jepang secara diam-diam dan berangkat pada bulan Maret 1638. Secara diam-diam karena semenjak meletusnya Pemberontakan Shimabara pada Januari 1638, Jepang memutuskan semua hubungan dagang dan persahabatan dengan Portugis. Mereka bertiga, Fransisco Garrpe, Juan de Santa Marta, dan Sebastian Rodrigues, dulunya adalah murid Ferreira di seminari. Mereka ingin menyelidiki apakah guru mereka itu benar-benar telah mengingkari imannya. Di perjalanan, Marta terjangkit malaria dan tak kunjung pulih, sehingga ia ditinggal di Macao. Hanya Rodrigues dan Garrpe yang melanjutkan perjalanan ke Jepang dengan bantuan Kichijiro, seorang Jepang yang mereka temukan di Macao.

Mereka sudah tahu bahwa ini adalah misi yang berbahaya. Sejak di perjalanan pun mereka telah mengalami berbagai ancaman, terutama keganasan alam. Sesampai di Jepang, bahaya yang lebih besar menghantui mereka. Mereka sudah tahu tapi tetap menjemput bahaya itu. Dua pastor terakhir di Jepang…, akankah mereka berhasil bertahan hidup?

[...] seorang pastor tidak perlu mati sebagai martir; dia harus mempertahankan hidupnya, supaya api iman yang telah dinyalakannya tidak mati sepenuhnya pada saat gereja mengalami penganiayaan.

(hlm. 126)

Tuhan, mengapa engkau diam saja?


Tuhan, mengapa engkau diam saja? Mengapa engkau selalu membisu?

(Rodrigues, hlm. 154)
 
Salah satu elemen yang menjadi daya tarik kuat novel ini adalah karakter-karakternya. Saya mengenal Rodrigues pertama kali lewat sudut pandang orang pertamanya dalam surat yang ia tulis, yaitu Bab 1 sampai Bab 4. Di bab-bab selanjutnya, saya mengikuti perjalanan Rodrigues dilihat dari sudut pandang orang ketiga. Sepanjang novel, Rodrigues mengajak saya menyelami pemikiran-pemikirannya seputar Kristianitas. Shusaku Endo berhasil menggambarkan dengan baik pergolakan batinnya hingga saya sering ikut-ikutan emosional.

Saya sangat bisa membayangkan bagaimana rasanya ketika ia dan Garrpe terkungkung dalam pondok di atas gunung di Desa Tomogi. Suasana hari berhujan yang muram dan ancaman akan datangnya pengawal sewaktu-waktu untuk menggerebek desa, membuat tegang kondisi psikologis mereka (hlm. 65). Rodrigues ingin pergi keluar dan mencari orang-orang Kristen lain serta ke Nagasaki untuk mencari info tentang Ferreira, tapi ia juga ingin tetap berada di dalam pondok kecil itu—di dalam zona nyamannya.

Di pondok kecil kami, aku merasa akan aman selamanya. Entah kenapa. Sungguh perasaan yang aneh.

(hlm. 71)

Saya tahu karena saya pernah mengalami itu, dan bukan cuma sekali.
Di masa-masa persembunyian dalam pondok itu, Rodrigues merasa tak berguna sebagai pastor.

Dalam beberapa hal, kami para pastor ini bisa dikatakan adalah sekelompok orang yang menyedihkan. Lahir ke dunia untuk melayani manusia, tak ada yang lebih sendirian dan kesepian daripada pastor yang tak bisa menunaikan tugasnya.

(hlm. 47)

Justru saat di penjara di luar kota Nagasaki-lah Rodrigues baru benar-benar merasa berguna sebagai pastor. Para pengawal mengizinkannya mengunjungi para tawanan lain (orang-orang Kristen Jepang) dan menguatkan iman mereka. Selama di penjara itu, anehnya ia merasa damai. Anehnya lagi, para pengawal memperlakukannya dengan baik, jauh lebih baik ketimbang bayangannya semula.

Selain itu, siksaan mental dialami Rodrigues saat ia menyaksikan nyawa orang-orang Kristen Jepang melayang. Di penjara itu, para tawanan, kecuali Rodrigues, dipaksa menginjak fumie. Ketika mereka menolak, salah satu dari mereka ditebas dengan pedang. Mau tak mau, ia merasa bahwa kematian mereka itu karena dia juga. Kemudian Rodrigues menjadi ragu. Dia bertahan hidup memang karena dia harus bertahan hidup demi Kristianitas Jepang yang masih amat muda, atau itu karena kepengecutannya menghadapi kematian?

Selama perjalanan menuju penjara, setelah ia tertangkap di perbukitan akibat campur-tangan Kichijiro, Rodrigues merasakan seperti mengalami apa yang dialami Yesus sebelum disalibkan. Ia diseret di jalanan desa dan orang-orang desa mencemoohnya. Ia dikhianati Kichijiro seperti Yesus dikhianati Yudas.

Ngomong-ngomong tentang Yudas, pemikiran kritis Rodrigues sangat menarik dan bikin saya ikutan mikir. Yesus pasti sudah tahu kalau Yudas akan mengkhianatinya, tapi kenapa dia tetap memilih Yudas menjadi muridnya dan membiarkan Yudas melakukan kejahatan itu?
Konflik batin Rodrigues yang menjadi inti cerita adalah keheningan Tuhan dan pertarungannya dengan kristianitas di dalam jiwanya sendiri. Keheningan Tuhan itu membuat Rodrigues mempertanyakan, bagaimana jika Tuhan ternyata tidak ada? (hlm. 120)

Kichijiro, gambaran kemanusiaan

Rodrigues merasa beberapa bagian dari pengalamannya itu mirip dengan yang telah dialami Yesus. Sementara itu, mengenal tokoh Kichijiro, saya seperti bercermin. Kichijiro adalah orang yang licik, pengecut, penjilat. Ia menjadi semacam anomali di tengah anggapan para misionaris bahwa Jepang adalah “negeri yang orang-orangnya sama sekali tidak takut mati” (hlm. 49). Awalnya, kepada Garrpe dan Rodrigues dia tidak mengaku bahwa dia seorang Kristen. Kemudian saya membaca bahwa di sepanjang novel ini dia sudah beberapa kali menyangkal imannya (barangkali) karena ia takut dihukum.

Ironis ketika kedua pastor itu mau tak mau mempercayakan diri kepada Kichijiro, yang karakternya bisa dianggap seperti Yudas.

Kalau dipikir-pikir, Tuhan kita sendiri memercayakan nasibnya pada orang-orang yang tidak layak dipercaya.

(Rodrigues, hlm. 50)

Kichijiro adalah manusia biasa, yang lemah dan takut akan bayangan penyiksaan. Kalau jadi dia, saya juga akan memilih menginjak fumie daripada dihukum. Lagi pula, menurut saya, hal-hal semacam meludahi fumie itu tidak masalah, sih, dilakukan. Itu kan hanya gambar. Keimanan saya (semoga) jauh lebih dalam daripada hanya sekadar memuja gambar timbul. Namun ternyata tidak sesederhana itu, sih. Menginjak fumie ternyata melibatkan pertarungan emosi yang dahsyat.

Tuhan ingin saya berlaku seperti orang yang tegar, padahal dia menciptakan saya sebagai orang lemah. Bukankah itu tidak masuk akal?

(Kichijiro, hlm. 185)

Seperti Rodrigues yang tidak bisa membenci Kichijiro meski karakternya demikian, Tuhan juga tidak bisa membenci manusia-manusia yang dikasihinya meski iman mereka melempem, bahkan sampai menyangkal-Nya. Setelah menyangkal imannya dan mengkhianati Rodrigues, Kichijiro tetap merasa bersalah, hingga ia senantiasa mengikuti Rodrigues sampai ke penjara dan terus memohon pengampunannya.

Andai aku penganut Kristen biasa, bukan pastor, apakah aku juga akan kabur seperti dia (Kichijiro)? Mungkin yang membuatku bertahan sekarang ini hanyalah harga diriku dan perasaan kewajiban sebagai pastor.

(Rodrigues, hlm. 111)

Ferreira, sisi yang lain

Saat akhirnya bisa bertemu Ferreira, yang kini berpenampilan bak orang Jepang dan tinggal di kuil, Rodrigues untuk pertama kali mendengarkan sendiri bagaimana pendapatnya tentang misi mengkristenkan orang Jepang itu. Dia berpikir bahwa Tuhan yang disembah orang Kristen Jepang itu bukanlah Tuhan orang Kristen melainkan Tuhan rekaan mereka sendiri. Deus dicampuradukkan dengan Dainichi (Matahari Agung).

Ada sesuatu di negeri ini yang sepenuhnya menghambat pertumbuhan Kristianitas. Kristianitas yang mereka percayai itu bagaikan kerangka kupu-kupu yang terjerat di jaring laba-laba: hanya bentuk luarnya yang mereka ambil. Darah dan dagingnya sudah lenyap.

(hlm. 241)

Ferreira diperintahkan untuk membuat Rodrigues menyangkal imannya. Betapa ironis, padahal dulu Ferreira adalah gurunya di seminari. Rodrigues pun akhirnya mendengar dari mulut Ferreira sendiri, apa alasan sebenarnya dia dulu mengingkari keyakinannya. Kini saat Rodrigues juga mengalami hal serupa, apakah ia akan mengingkari imannya juga?

Sebelum bertemu langsung dengan Ferreira dan mendengar argumennya, saya dan seluruh dunia misionaris bersikap sinis terhadapnya. Ih, masa pemimpin misi malah mengingkari keyakinannya? Namun setelah membaca argumen Ferreira, saya bisa menerima keputusannya.

Kristus sudah pasti akan menyangkal keyakinannya untuk menolong manusia.

(Ferreira, hlm. 267)

Benih tanaman dan rawa-rawa; perempuan asing dan laki-laki Jepang

Pada pertemuan pertama Rodrigues dengan Inoue, gubernur Chikugoyang dari Valignano telah ia dengar kekejamannya terhadap orang Kristen, ia terlibat perdebatan tentang cocok-tidaknya agama Kristen di Jepang. Mereka berdua menggunakan perumpamaan bahwa kristianitas di Jepang seperti benih yang disebar di rawa-rawa.

Kalau daun-daunnya tidak tumbuh dan bunga-bunganya tidak berkembang, itu hanya karena pohonnya tidak diberi pupuk.

(Rodrigues, hlm. 179)

Negeri ini ibarat rawa-rawa. Suatu hari nanti kau akan menyadarinya sendiri. Dan rawa-rawa ini keadaannya lebih parah daripada yang bisa kaubayangkan. Setiap kali kau menanam tunas muda di rawa-rawa ini, akar-akarnya mulai membusuk, daun-daunnya menguning dan layu. Dan kita telah menanam tunas muda Kristianitas di rawa-rawa ini.

(Ferreira, hlm. 234)

Rawa-rawa Jepang yang dimaksud di dalam novel ini bisa berarti rawa-rawa Jepang itu sendiri (hlm. 20) atau, secara lebih personal dan universal sekaligus, merupakan rawa-rawa yang bisa muncul di dalam diri tiap pemeluk agama apa pun.

Pada pertemuan kedua, Inoue mengumpamakan hubungan Jepang dengan agama Kristen sebagai hubungan lelaki dan perempuan (hlm. 196-199), yang membuat saya mengernyit. Inoue terdengar sangat seksis. Hmm, mungkin memang di zaman itu, pendapat seperti ini terdengar sangat wajar.

Satu, kasih sayang yang dipaksakan oleh perempuan buruk rupa merupakan beban tak tertahankan bagi lelaki. Dua, perempuan yang mandul tidak seharusnya menjadi istri.

(Inoue, hlm. 199)
***
Di bagian "kata pengantar" novel ini, yang ditulis oleh William Johnston, saya mendapati kalimat berikut,

Kedua pastor asing yang melakukan pengingkaran itu (Ferreira dan Rodrigues) segera saja dianggap melambangkan Kristianitas yang gagal di Jepang karena bersikukuh mempertahankan ke-Barat-annya. 

(hlm. 18)

Saat saya merenungkannya, "ke-Barat-an” ini, misalnya, mungkin tampak dari bagaimana orang Kristen Jepang di masa itu berdoa dan menyanyikan lagu-lagu rohani yang masih menggunakan bahasa Latin. Yah, meskipun mereka juga berdoa dalam bahasa Jepang.

Kemudian, salah satu yang bikin saya kesal adalah ketika si penerjemah mengatakan hal paradoksal ini pada Rodrigues,

Sudah berapa kali kukatakan pada kalian (para misionaris), orang-orang Jepang-lah yang harus mati demi impian egois kalian? Sudah waktunya kalian membiarkan kami hidup tenang.

(hlm. 233)
 
Satu, orang-orang Jepang tidak harus mati demi impian para misionaris jika para pejabat Jepang sendiri tidak membunuhi mereka. Dan mereka menyalahkan para misionaris karena itu? Dua, menurut si penerjemah (dan mungkin mewakili pendapat para pejabat Jepang), impian para misionaris itu egois. Padahal, pejabat Jepang sendiri juga egois. Lihatlah bagaimana mereka menyiksa rakyatnya dengan pajak yang sangat berat, belum lagi keegoisan mereka dalam menghakimi rakyatnya atas keyakinan yang mereka pilih. Lha, egois teriak egois. Tapi, bagaimana kalau itu merupakan pertahanan diri Jepang terhadap pengaruh asing? Lagi pula sampai sekarang pun, Jepang modern tetap bisa mempertahankan budaya aslinya.

Ditulis dengan alur maju, novel sejarah Jepang ini mengajak saya mendalami batin Rodrigues, memaklumi karakter Kichijiro, dan menerima keputusan Ferreira. Gejolak demi gejolak emosi terus membayangi sepanjang perjalanan Rodrigues menemukan jawaban atas kegelisahan batinnya; atas rawa-rawa dalam dirinya. Bersama Rodrigues, saya bertemu pencerahan.[]

Identitas buku

Judul: Silence (Hening)
Penulis: Shusaku Endo
Alih bahasa: Tanti Lesmana
Desain dan ilustrasi cover: Staven Andersen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: III, Januari 2017
Tebal: 304 halaman
ISBN: 978-602-03-3717-3

bloggerwidgets